Belanda Menangkap Buronan AS yang Berasal Dari Rusia

Belanda Menangkap Buronan AS yang Berasal Dari Rusia

Belanda Menangkap Buronan AS yang Berasal Dari Rusia – Biro Investigasi Federal AS ( FBI ) telah “praktis menculik” warga negara Rusia Denis Dubnikov di Meksiko, kemudian ditangkap di Amsterdam pada 1 November, pengacaranya Arkady Bukh menuduh, berbicara kepada Sputnik. Salah satu pendiri platform perdagangan crypto Coyote Crypto dan Eggchange pertama kali ditahan di bandara di Mexico City saat berlibur dan kemudian naik penerbangan ke Belanda di mana ia ditahan oleh otoritas Belanda.

Pemerintah Belanda telah menangkap seorang warga negara Rusia bernama Denis Dubnikov lantaran dituding terlibat dalam aksi pencucian uang crypto. Penangkapan ini didasarkan permintaan Amerika Serikat yang telah memasukkannya dalam daftar buronan.

Belakangan ini, Amerika Serikat dan Uni Eropa tengah menyelidiki aksi pemerasan yang dilakukan oleh kelompok peretas asal Rusia. Sedangkan, Dubnikov diduga telah membantu geng tersebut untuk mendapatkan uang lewat serangan siber.

1. Dubnikov ditangkap saat hendak pulang dari Meksiko

Menurut keterangan dari pengacara Dubnikov yang berbasis di AS, Arkady Bukh mengatakan bahwa kliennya hendak bepergian ke Meksiko pada awal bulan November untuk liburan. Namun, kedatangannya di Meksiko justru ditolak oleh otoritas setempat dan mengharuskannya kembali ke Rusia.

Dilansir dari RFE/RL, pesawat yang membawanya pulang dari Meksiko tidak langsung terbang ke Rusia. Namun, pesawat itu justru mendarat di Belanda dan berujung penangkapannya oleh otoritas setempat atas permintaan AS.

Bukh memercayai bahwa Amerika Serikat ada di balik keputusan Pemerintah Meksiko untuk memulangkannya. Bahkan, ia berkata, “Ini mirip dengan peristiwa penculikan lantaran mereka berkata bahwa pesawat itu terbang langsung dari Meksiko ke Rusia.”

Ia juga mengungkapkan berbeda dengan Meksiko, buronan yang ditangkap di Belanda pasti akan diekstradisi ke AS dan memiliki keamanan yang lebih baik. Pasalnya, beberapa tahanan yang hendak diekstradisi dari Meksiko dapat melarikan diri.

2. Dubnikov menolak terlibat dalam aksi cybercriminal

Pemerintah Amerika Serikat menuding Dubnikov terlibat dalam aksi serangan siber yang dilakukan oleh kelompok cybercriminal asal Rusia, Ryuk. Pemuda 29 tahun itu juga dituduh mendapatkan uang sebesar 400 ribu dolar AS atau Rp5,6 miliar dalam bentuk bitcoin usai membantu geng peretas tersebut, dilansir dari TASS.

Dikutip dari RFE/RL, Dubnikov adalah seorang direktur utama dari perusahaan Rusia  bernama Briefcase. Ia juga menyebutkan apabila perusahaannya itu resmi dan menawarkan berbagai macam layanan, termasuk lisensi pertukaran mata uang crypto.

Menurut Bukh, Dubnikov menolak tudingan yang diberikan kepadanya terkait keikursertaannya dalam kasus cybercriminal. Ia juga berkata bahwa Dubnikov tidak mengetahui asal usul uang kliennya yang dituding berasal dari hasil pembayaran ramsomware.

3. Langkah terbesar AS dalam melawan aksi geng Ryuk

CNN melaporkan jika ini merupakan langkah terbesar yang dilakukan penegak hukum AS dalam melawan geng peretas Ryuk. Pasalnya, geng itu telah melangsung aksi rentetan serangan pada organisasi pelayanan kesehatan di Amerika Serikat pada tahun lalu.

Salah satu akibat peretasan yang dilakukan Ryuk, yaitu di Jaringan Kesehatan Universitas Vermont dan mengakibatkan ditundanya perjanjian kemoterapi dan memmogram di fasilitas kesehatan itu.

Sementara, menurut FBI dan agensi lainnya telah menyebut bahwa aksi Ryuk yang bertubi-tubi dan tidak dapat terkontrol terjadi pada Oktober 2020. Bahkan, serangan itu berdampak besar terhadap sistem kesehatan di AS.

Terkait masalah ini, Presiden Joe Biden juga sudah meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melakukan aksi dalam melawan geng ransomware dari negaranya. AS juga menuding Rusia seakan menutup mata akan kasus geng cybercriminal yang beroperasi di negaranya.

Dilaporkan dari RFE/RL, Korea Selatan pada bulan lalu juga sudah mengekstradisi warga negara Rusia ke Amerika Serikat lantaran dituding melakukan aksi cybercrime. Sementara, Rusia justru menuding AS tengah berusaha memburu warganya yang tengah berada di luar negeri.

Menurut uraian Bukh tentang peristiwa itu, Dubnikov diusir dari Meksiko karena kebijakan ekstradisi negara itu tidak “ideal” seperti yang dilakukan Belanda. “Mereka telah membeli tiket, dengan kata lain, mereka sebenarnya telah menculiknya dan mengirimnya ke Belanda karena ekstradisi dari Belanda sebenarnya dijamin,” lanjut pengacara itu.