Berikut 3 Perang Besar yang Pernah Mengguncang Afghanistan

Berikut 3 Perang Besar yang Pernah Mengguncang Afghanistan

Berikut 3 Perang Besar yang Pernah Mengguncang Afghanistan – Perang  adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (dalam arti sempit, adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang di pertentangkan. Perang secara purba di maknai sebagai pertikaian bersenjata. Di era modern, perang lebih mengarah pada superioritas teknologi dan industri. Hal ini tercermin dari doktrin angkatan perangnya seperti “Barang siapa menguasai ketinggian maka menguasai dunia”.

Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atas ketinggian harus dicapai oleh teknologi. Namun kata perang tidak lagi berperan sebagai kata kerja, tetapi sudah bergeser pada kata sifat. Afghanistan dijuluki sebagai “Graveyard of Empire” bukan tanpa alasan. Negara ini menjadi saksi sejarah bagaimana kekaisaran-kekaisaran kuno hingga negara modern mencoba untuk menaklukkan wilayah mereka. Tidak semua upaya penaklukan itu gagal, misalnya Kekaisaran Makedonia di bawah Alexander yang Agung dan Kekaisaran Mongol yang berhasil menguasai mereka.

Akan tetapi, memasuki abad ke-19 eksistensi Afghanistan sebagai wilayah yang tidak mudah ditaklukkan idn poker android naik ke permukaan. Dipenuhi pegunungan hingga kekayaan alam mineral yang besar, Afghanistan memiliki potensi menjadi negara kuat dan kokoh di Asia Tengah. Namun, konflik dan perang yang berlarut-larut membuat negara ini menjadi terpecah belah hingga sulit untuk berdamai demi masa depan yang lebih baik.

1. Invasi Inggris (1839, 1878, dan 1919)
Negara-Negara yang Pernah Bercokol di Afghanistan, Bikin Perang Besar

Kerajaan Inggris menjadi satu-satunya negara modern yang pernah menginvasi Afghanistan sebanyak tiga kali. Alasan utama Inggris menyerang dan menduduki Afghanistan adalah untuk mengantisipasi ekspansi Kekaisaran Rusia ke wilayah India–yang saat itu sedang berada di bawah pengaruh Inggris.

Dikutip dari Brittanica.com, kekhawatiran Inggris terhadap Rusia membuatnya menginvasi Afghanistan untuk pertama kali pada 1839. Saat itu, Inggris berusaha menumbangkan Emirat Islam Afghanistan yang dinilai tidak mendukung kepentingan Inggris.

Militer Inggris dengan kekuatan yang jauh lebih superior dengan cepat menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan. Namun, Inggris mulai sangat kewalahan ketika harus mempertahankan daerah-daerah yang sudah mereka kuasai dari pemberontakan masyarakat Afghanistan.

Karena Inggris terlalu meremehkan Afganistan dan tidak siap untuk perang, Kerajaan Inggris memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dari Afghanistan pada 1842. Kemenangan Emirat Islam Afghanistan melawan Inggris pada itu menjadi pembuktian pertama negara itu sulit diduduki.

Tidak berselang lama, Inggris yang telah belajar dari kesalahannya dan ingin balas dendam, kembali menginvasi Afghanistan pada 1878. Kedatangan Inggris kali ini sudah dengan persiapan khusus dan hanya bertujuan untuk memastikan bahwa Emirat Islam Afghanistan harus mengakui hegemoni Inggris di Asia Tengah dan India.

Berbeda dari sebelumnya, Inggris yang hanya membutuhkan loyalitas Emirat Islam Afghanistan akhirnya memutuskan untuk menarik pulang pasukannya di 1880, setelah mendapat kepastian dari Emir Sher Ali Khan. Meskipun Inggris tercatat sebagai pemenang, ketidaksanggupan Inggris untuk benar-benar menduduki Afghanistan mulai menciptakan kondisi khusus di negara tersebut.

Sebagai negara yang terus berada di pengaruh Inggris pascakemenangan Inggris itu, Emirat Islam Afganistan akhirnya memutuskan untuk menyerang daerah koloni Inggris di India. Mereka pun akhirnya mendeklarasikan penuh kemerdekaannya dari pengaruh Inggris pada 1919.

Dengan ekonomi yang sedang dalam masa pemulihan setelah selesainya Perang Dunia I dan keterbatasan prajurit sebagai akibat demobilisasi, Inggris memilih untuk melepaskan dan mengakui kedaulatan Negara Emirat Islam Afghanistan.

2. Invasi Uni Soviet (1979-1989)
Negara-Negara yang Pernah Bercokol di Afghanistan, Bikin Perang Besar

Diakui sebagai negara yang berdaulat sejak 1919, Emirat Islam Afghanistan berhasil menjadi negara yang damai untuk beberapa dekade sampai tetangga raksasanya di utara menginvasi.

Kudeta yang dilakukan tokoh nasionalis-komunis Afghanistan melengserkan kekuasaan Emirat Islam Afganistan. Ini menyebabkan kekacauan serius di negara tersebut karena implementasi perubahan progresif pascakudeta yang bertolak belakang dengan paham tradisionalis.

Khawatir akan terjadinya revolusi Islam seperti yang berlangsung di Iran, pemerintah Uni Soviet melancarkan invasi militer terhadap Afganistan pada 1979. Soviet melakukan itu untuk mengantisipasi jatuhnya Afghanistan ke dalam pengaruh Islamis, seperti yang dilansir History.com.

Sama seperti Inggris, militer Soviet sangat meremehkan pejuang Mujahidin yang memberontak melawan kependudukan Uni Soviet dan Negara Demokratik Afghanistan yang berhaluan komunis. Petinggi militer Soviet yang memprediksi pertempuran tidak akan berlangsung lama.

Namun, ternyata mereka harus menghadapi realitas pahit setelah pasukan kebanggaannya yang tidak pernah kalah sejak Perang Dunia II mulai tidak berkutik melawan segerombolan pejuang sipil bersenjatakan AK-47 dan peluncur roket.

Strategi militer Soviet yang berfokus melawan musuh konvensional, seperti militer AS dan NATO, sekarang harus melawan pasukan pemberontak yang berperang secara gerilya tanpa persenjataan canggih seperti tank ataupun pesawat tempur. Ketidaksiapan Soviet dalam melatih prajuritnya untuk berperang melawan pemberontakan besar-besaran di Afghanistan menyebabkan sekitar 15 ribu prajurit Soviet gugur.

Api pemberontakan dinilai sangat sulit untuk dipadamkan akibat seruan jihad oleh pejuang Mujahidin terhadap militer Soviet yang dicap sebagai anti-Islam. Akhirnya pada 1989, pemimpin Soviet, Mikhail Gorbachev, menarik mundur pasukannya setelah 10 tahun berperang melawan pemberontakan Mujahidin tanpa adanya kemajuan.

Beberapa tahun kemudian, Uni Soviet runtuh karena kegagalan transformasi ekonomi serta korupsi besar-besaran. Negara Demokratik Afghanistan ikut runtuh satu tahun setelah Uni Soviet, tepatnya pada 1992, ketika pemerintahan komunis mereka ditumbangkan dan Negara Islam Afghanistan didirikan.

3. Invasi AS ke Afghanistan (2001-hari ini)
Negara-Negara yang Pernah Bercokol di Afghanistan, Bikin Perang Besar

Serangan 11 September 2001 yang dipelopori oleh kelompok teroris Al-Qaeda menjadi alasan sempurna bagi AS untuk menginvasi Afghanistan. Berdirinya Negara Islam Afghanistan pascatumbangnya Negara Demokratik Afghanistan pada 1992, dipercaya banyak ahli, menjadikan Afghanistan sebagai tempat perlindungan utama teroris-teroris di dunia.

Melansir BBC, pemerintah AS yang percaya bahwa Negara Islam Afghanistan di bawah Taliban memberi perlindungan terhadap anggota teroris Al-Qaeda, memutuskan untuk melakukan invasi pada Oktober 2001. Sebagai pemenang Perang Dingin dan negara adidaya, Washington beranggapan operasi militer mereka di Afghanistan tidak akan berlangsung lama.

Mereka juga percaya diri bahwa Afghanistan akan menjadi negara yang demokratis di bawah bimbingannya. Dugaan AS hampir berhasil sebagaimana apa yang telah diraih Inggris dan Uni Soviet di awal ketika mereka menginvasi negara ini.

Minimnya perlawanan konvensional terhadap pasukan AS, membuat mereka dapat dengan cepat menguasai Afghanistan dari pengaruh Taliban. Namun, semua berubah ketika AS tidak lagi menyerang, melainkan harus mempertahankan posisi mereka dari serangan gerilya yang dilancarkan pejuang Taliban.

Konflik berkepanjangan dengan Taliban yang ingin kembali “mengislamkan” Afghanistan dari pengaruh liberal dan kebarat-baratan, menyebabkan ribuan prajurit AS serta sekutunya harus gugur. Sampai hari ini, AS masih terus mendukung operasi tempur yang dilancarkan militer Afganistan.

Washington sendiri sudah menandatangani pakta perdamaian dengan Taliban pada Februari 2020 dan mulai menarik pasukannya sedikit demi sedikit dari Afganistan sejak awal tahun 2021. Namun, AS masih memberi sokongan kepada militer Afghanistan bentukannya guna melawan ekspansi Taliban.

Afghanistan terbukti menjadi mimpi buruk bagi banyak negara yang memang berambisi menduduki wilayah ini tanpa tujuan jangka panjang. Sekarang perang di Afghanistan masih akan terus berlanjut. Hanya sebuah kesepakatan damai antara setiap kelompok masyarakatnya tanpa campur tangan pihak asinglah yang dapat menyelamatkan masa depan Afghanistan, seperti apa yang telah dicontohkan pendahulu mereka.