David Beckham Dipilih Pemerintah Qatar Sebagai Duta Budaya

David Beckham Dipilih Pemerintah Qatar Sebagai Duta Budaya

David Beckham Dipilih Pemerintah Qatar Sebagai Duta Budaya  – David Robert Joseph Beckham, OBE adalah mantan pemain sepak bola asal Inggris. Ia merupakan presiden petahana sekaligus salah satu pemilik klub sepak bola Inter Miami CF, dan juga salah seorang pemilik dari Salford City. Mantan kapten tim sepak bola Inggris, David Beckham, dipilih oleh pemerintah Qatar sebagai duta budaya.

Nilai kontrak yang ditandatangani Beckham mencapai 206,5 juta dolar AS (sekitar Rp2,9 triliun). Kesepakatan selama sepuluh tahun itu terjalin setelah Beckham terbang ke Doha awal bulan ini. Selain mempromosikan pariwisata dan budaya Qatar, wajah Beckham juga akan terpampang sebagai wajah Piala Dunia Qatar 2022.

Sayangnya, tidak sedikit pihak yang menentang kontrak tersebut, dengan menyebut rekam jejak Qatar sebagai negara yang tidak ramah hak asasi manusia (HAM), termasuk diskriminasi terhadap pekerja asing serta komunitas LGBTQ.

1. Tanggapan pihak Beckham soal penolakan
Beckham Terpilih sebagai Duta Budaya Qatar, Amnesty: Belajar HAM Dulu!

Amnesty International pada Minggu (24/10/2021) menentang keputusan tersebut dan meminta Beckham untuk mendalami catatan HAM Qatar.

“Tidak mengherankan jika David Beckham ingin terlibat dalam acara sepak bola besar seperti itu. Tetapi kami akan mendesaknya untuk belajar tentang situasi hak asasi manusia di Qatar dan bersiap untuk membicarakannya,” kata Sacha Deshmukh selaku CEO Interim Amnesty International.

Menanggapi berbagai penolakan, juru bicara Beckham berdalih, bosnya justru sedang menggunakan kekuatan sepak bola untuk mewujudkan kebaikan pada berbagai tingkatan.

2. Pemerintah Qatar dinilai abai terhadap HAM
JDIH Kabupaten Banyuwangi | Artikel : KONSEP HAK ASASI MANUSIA YANG  DIGUNAKAN DI INDONESIA

Deshmukh kemudian mengungkap sejumlah pelanggaran hak yang dilakukan oleh Qatar, termasuk kriminalisasi atas hubungan sesama jenis, pembatasan terhadap kebebasan berbicara, dan diskriminasi terhadap pekerja asing.

“Meskipun ada beberapa reformasi yang disambut baik, (tetapi masih ada) pekerja migran yang dibiarkan tidak dibayar. Pihak berwenang telah gagal untuk menyelidiki ribuan kematian dalam satu dekade terakhir, meskipun ada bukti hubungan antara kematian dini dan kondisi kerja yang tidak aman dan (cuaca yang) sangat panas,” papar Deshmukh.

3. Kelompok HAM kaitkan kematian pekerja di Qatar dengan pembangunan jelang Piala Dunia
Beckham Terpilih sebagai Duta Budaya Qatar, Amnesty: Belajar HAM Dulu!

Human Rights Watch sebelumnya melaporkan, majikan di Qatar sering tidak membayar upah pekerja. Mereka juga mengkhawatirkan situasi pandemik COVID-19 yang memperburuk kehidupan para migran yang memang sudah rentan. Sedikitnya 6.500 pekerja migran dari negara-negara Asia Selatan diperkirakan tewas di Qatar, sejak negara itu memenangkan hak menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2010.

Menurut data yang dikumpulkan The Guardian, rata-rata 12 pekerja migran dari India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, dan Sri Lanka meninggal di Qatar setiap minggu dalam periode 2011-2020. Qatar memiliki banyak uang untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Tak hanya secara infrastruktur seperti menyiapkan stadion-stadion mewah dan modern, tetapi juga dalam aspek promosi. Salah satunya membayar mahal seorang David Beckham sebagai duta global negara kaya di Asia Barat tersebut.

Becks –sapaan karib David Beckham– diikat kontrak yang mencapai GBP 150 juta (Rp 2,92 triliun) selama satu dekade. Tugas utamanya adalah mempromosikan pariwisata dan budaya Qatar terhitung mulai bulan depan. Tugas yang berat bagi pemilik sekaligus presiden klub MLS Inter Miami CF tersebut.

Label Piala Dunia 2022 sebagai Piala Dunia dengan banyak pelanggaran hak asasi manusia (HAM) tidak akan pernah bisa dihapus. Itu menyusul adanya laporan yang menyebut sedikitnya 6.500 pekerja migran meregang nyawa dalam mengerjakan proyek Piala Dunia yang dimulai sejak 2010. Qatar sepertinya berharap status Beckham sebagai Duta Kehormatan Badan PBB yang mengurusi kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia (Unicef) bakal membawa efek positif.