Gazprom Rusia Mengancam Memutuskan Aliran Gas ke Moldova

Gazprom Rusia Mengancam Memutuskan Aliran Gas ke Moldova

Gazprom Rusia Mengancam Memutuskan Aliran Gas ke Moldova – Gazprom adalah perusahaan energi global yang berfokus pada eksplorasi geologi,  produksi , transportasi, penyimpanan,  pemrosesan dan penjualan gas, kondensat gas  dan minyak, penjualan gas sebagai  bahan bakar kendaraan , serta pembangkitan dan pemasaran panas dan tenaga listrik.

Perusahaan Rusia, Gazprom akan memutuskan aliran gas ke Moldova terkait dengan permasalahan perjanjian antara kedua belah pihak. Keputusan ini diambil lantaran negara Eropa Timur itu juga belum membayar hutangnya kepada perusahaan gas milik negara itu.

Sejak Oktober lalu, Moldova sudah mengumumkan keadaan darurat lantaran sedang menghdapi krisis gas alam. Bahkan, negara pecahan Uni Soviet itu sudah membeli gas alam dari Polandia dan Ukraina.

1. Gazprom sebut Moldova langgar perjanjian kontrak

Ancaman yang diberikan Gazprom kepada Moldova ini terkait pelanggaran kontrak hutang yang tak kunjung dibayarkan kepada perusahaan gas alam Rusia itu. Akibatnya, Gazprom memberikan waktu selama 48 jam, tapi jika tetap tidak dibayarkan, maka aliran gas ke Moldova akan diputus.

“Hari terakhir pembayaran adalah 22 November. Hari ini Gazprom mengumumkan sesuai dengan kontrak yang disetujui bahwa pengiriman gas ke Moldova akan terganggu dalam kurun waktu 48 jam. Gazprom sangat kecewa dengan Moldova yang tidak dapat memenuhi komitmennya” ujar juru bicara Gazprom, Sergei Kuprianov, dalam laman Euronews.

Sebelumnya, negosiasi antara Moldova dan Rusia sudah dilakukan yang hampir membawa negara Eropa Timur itu masuk dalam krisis energi. Namun, akhirnya kontrak selama lima tahun sudah disetujui kedua belah pihak dan Gazprom kembali mengirimkan gas ke Moldova sejak 1 November.

2. Gazprom sudah memenuhi semua permintaan Moldova

Dikutip dari RT, Kuprianov mengatakan bahwa Gazprom berusaha untuk menyesuaikan harga pasar gas untuk Moldova. Namun, harus dihadapkan dengan kesulitan ekonomi dan finansial yang tengah dihadapi negara Eropa Timur itu. Bahkan, pihaknya sudah menyetujui semua keinginan Chisinau, termasuk pemberian diskon.

Di samping itu, Gazprom hanya menginginkan Moldova membayar konsumsi gas alam sesuai waktunya. Ia juga menyebutkan bila terdapat pelanggaran dari kontrak yang sudah disetujui dan memaksa Gazprom menerapkan ancaman ini.

Moldova dan Gazprom tengah menghadapi alotnya perpanjangan kontrak terkait harga gas yang dinilai terlalu mahal. Namun, kesepakatan akhirnya berhasil tercapai setelah diadakan negosiasi antara Deputi PM Andrei Spinu dan Dirut Gazprom Alexei Miller di Saint Petersburg, dilaporkan dari The Moscow Times.

3. Moldova tengah berupaya membayarkan hutang tepat waktu

RFE/RL melaporkan, Kepala Moldovagaz Vadim Ceban mengungkapkan bila perusahaan yang dipimpinnya sudah menerima notifikasi dari Gazprom bahwa hutangnya mencapai 1,3 miliar lei Moldova atau Rp1 triliun.

“Kami tengah aktif bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatasi masalah ini dan membayarkan hutang sesuai tenggat waktu. Saya berharap kami dapat mengatasi masakah ini ke depannya” ujar Ceban.

Di sisi lain, para pengamat berpendapat bahwa Moskow menggunakan energi yang melimpah di negaranya sebagai senjata melawan Moldova. Pasalnya, negara di tengah Rumania dan Ukraina itu kini dipimpin Maia Shandu yang dikenal sebagai pemimpin pro Barat.

Namun, Rusia menolak tuduhan tersebut dan mengatakan bila tingginya harga memang disebabkan kenaikan harga gas alam yang dipengaruhi oleh pasar global.

Gazprom memandang misinya sebagai memastikan pasokan gas alam yang andal, efisien, dan seimbang, sumber daya energi lainnya, dan turunannya kepada konsumen.

Tujuan strategis Gazprom adalah untuk memperkuat posisi terdepan di antara perusahaan energi global dengan mendiversifikasi pasar penjualan, memastikan keamanan energi dan pembangunan berkelanjutan, meningkatkan efisiensi operasi dan memenuhi potensi ilmiah dan teknisnya.

Gazprom memegang cadangan gas alam terbesar di dunia. Bagian Perusahaan dalam cadangan gas global dan Rusia masing-masing berjumlah 16 dan 71 persen.