Gokil! Reuters Pakai Deepfake untuk Bikin Berita

Gokil! Reuters Pakai Deepfake untuk Bikin Berita

Gokil! Reuters Pakai Deepfake untuk Bikin BeritaBerita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media internet.

Topik umum untuk laporan berita meliputi perang, pemerintah, politik, pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, bisnis, mode, dan hiburan, serta acara atletik, acara unik atau tidak biasa.

Menurut beberapa teori, “berita” adalah apa pun yang dijual oleh industri berita. Jurnalisme, dipahami secara luas di sepanjang baris yang sama, adalah tindakan atau pekerjaan mengumpulkan dan menyediakan berita.

Kantor berita Reuters menggandeng perusahaan rintisan digital Club388 Indonesia untuk bereksperimen membuat video berita secara real-time berbekal teknologi semacam deepfake. Untuk kamu yang belum tahu, deepfake adalah pembuatan citra manusia menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dalam uji coba tersebut, Reuters membuat berita olahraga secara langsung berdasarkan data dari pertandingan sepak bola. Synthesia dan Reuters menggunakan neural network yang sama dengan deepfake.

Untuk menghasilkan berita otomatis, mereka terlebih dahulu merekam pembaca berita membacakan berita sesungguhnya. Selanjutnya, AI akan menghasilkan citra sangat mirip dengan pembaca berita. Ai juga bisa secara langsung membuat skrip berdasarkan data yang dia baca dari pertandingan sepak bola.

Eksperimen ini bertujuan untuk menguji apakah memungkinkan, misalnya, Reuters membuat sepuluh sampai 20 live streaming berbeda secara bersamaan dan menampilkan “orang” yang sama mengumumkan skor terakhir pertandingan yang berbeda-beda pula. Meski demikian, mereka belum akan menerapkannya dalam waktu dekat.

Kepada The Next Web, Nick Cohen, Head of Product and Core News Service Reuters, menyatakan, perusahaan telah lama menjadi yang terdepan dalam mengeksplorasi potensi teknologi baru untuk menyampaikan berita.

“Prototype semacam ini membantu kami untuk memahami bagaimana AI dan media sintetis bisa digabungkan dengan laporan dan fotografi real-time kami untuk membuat produk dan layanan yang sepenuhnya baru,” katanya.

Selain berpotensi positif, deepfake juga berpotensi memicu hal negatif, seperti konten hoaks . Bayangkan saja, kita bisa membuat video menampilkan figur yang sangat mirip wajah seseorang dan membuatnya mengucapkan hal-hal yang kita mau.