Ini Kenyataan Vaksin AstraZeneca yang Penuh Perselisihan

Ini Kenyataan Vaksin AstraZeneca yang Penuh Perselisihan

Ini Kenyataan dari Vaksin AstraZeneca yang Penuh Perselisihan – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan kesehatan. Kementerian Kesehatan menghentikan sementara distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca kumpulan produksi (batch) CTMAV547. Penghentian ini untuk pengujian toksisitas dan sterilitas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sebagai upaya kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin asal Inggris ini.

Vaksin COVID-19, juga dikenal sebagai AZD1222, adalah sebuah vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca yang diberikan lewat suntikan intraotot. “Tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya. Hanya Batch CTMAV547 yang dihentikan sementara, sambil menunggu hasil investigasi dan pengujian dari BPOM yang kemungkinan memerlukan waktu satu hingga dua minggu,” ujar juru bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmiziq dikutip laman CS Live22, Minggu (16/5/2021).

Berikut adalah sejumlah hal yang perlu diketahui seputar vaksin yang juga dikenal dengan nama Vaxzevria, AZD1222, atau Covishield di India tersebut.

1. Vaksin Vaxzevria yang dirancang Universitas Oxford dan diproduksi AstraZeneca

Vaksin yang kini dikenal dengan nama Vaxzevria ini dirancang oleh Universitas Oxford Inggris dan diproduksi oleh perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca. Vaksin ini tercatat memiliki kemanjuran 76 persen.

Namun menurut catatan The New York Times, perjalanan Vaxzevria telah bergejolak, tersentak oleh pesan membingungkan dari AstraZeneca, kekhawatiran profil tinggi tentang keselamatan, dan kesulitan dengan produksi.

2. Tingkat perlindungan tinggi

Menurut BBC, satu suntikan vaksin Oxford-AstraZeneca memiliki tingkat perlindungan dari COVID-19 yang sangat tinggi. Vaksin ini mampu mengurangi kemungkinan seseorang jatuh sakit dan membutuhkan perawatan rumah sakit lebih dari 80 persen.

Para ilmuwan juga mengatakan hasilnya sangat kuat.

3. Bagaimana cara kerja vaksin AstraZeneca?

Vaksin ini dibuat dari versi lemah dari virus flu biasa (dikenal sebagai adenovirus) dari simpanse. Virus itu telah dimodifikasi agar lebih mirip virus corona, namun tidak bisa menyebabkan penyakit.

Setelah disuntikkan, virus itu akan mengajarkan sistem kekebalan tubuh bagaimana cara melawan virus yang sebenarnya.

4. Cara penyimpanan

Penyimpanan vaksin Oxford-AstraZeneca ini cukup mudah dilakukan karena tidak harus disimpan pada suhu yang sangat dingin mencapai -70 Celcius seperti vaksin Pfizer-BioNtech.

Vaksin AstraZeneca dapat disimpan di lemari es biasa. Ini membuatnya lebih mudah untuk didistribusikan.

5. Efektivitas vaksin AstraZeneca

Dari uji coba besar diketahui vaksin AstraZeneca 62 persen ampuh melawan COVID-19. Ini berarti vaksin memenuhi syarat efikasi minimal 50 persen dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun dalam sebuah studi baru-baru ini dilaporkan bahwa satu dosis vaksin AstraZeneca menawarkan perlindungan 76 persen selama tiga bulan, dan ini akan naik menjadi 82 persen setelah dosis kedua disuntikkan.

5. Lama tahan vaksin pada tubuh

Hingga saat ini belum diketahui berapa lama perlindungan dari vaksin ini terhadap COVID-19 akan bertahan pada tubuh.

Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang belum divaksinasi yang telah terinfeksi COVID-19, mengembangkan perlindungan setidaknya selama enam bulan. Namun vaksin dilaporkan cenderung memberikan perlindungan yang lebih kuat dari ini.

7. Orang yang tidak boleh divaksinasi AstraZeneca

WHO mengatakan, orang dengan riwayat reaksi alergi parah terhadap komponen vaksin apapun sebaiknya tidak menerima vaksin AstraZeneca. Vaksin ini juga tidak direkomendasikan untuk orang yang berusia di bawah 18 tahun karena masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut.

Data keamanan vaksin untuk perempuan yang mengandung atau hamil juga masih sedikit, kata WHO. Namun lembaga yang berbasis di Jenewa, Swiss itu mengatakan perempuan yang hamil dapat menerima vaksin jika manfaat vaksinasi lebih besar daripada potensi risikonya. Namun tetap harus berkonsultasi dengan dokter ahli terlebih dulu.

8. Dosis suntikan

Dosis yang dianjurkan adalah dua dosis yang diberikan secara intramuskular (masing-masing 0,5 ml) dengan selang waktu penyuntikan 8 sampai 12 minggu.

“Penelitian tambahan diperlukan untuk memahami perlindungan potensial jangka panjang setelah dosis tunggal,” kata WHO.

9. Sejumlah masalah terkait vaksin AstraZeneca

Namun, meski murah dan telah diterima cukup banyak negara, penggunaan vaksin AstraZeneca ternyata tidak mulus. Di Afrika Selatan misalnya, uji coba kecil menunjukkan bahwa vaksin ini tidak bisa melindungi orang dari varian B.1.351, yang telah menjadi dominan di negara tersebut. Pada 7 Februari, Afrika Selatan menghentikan rencana peluncuran 1 juta dosis vaksin AstraZeneca.

Di Indonesia juga telah terjadi sejumlah tragedi pasca pemberian vaksin Astrazeneca. Di mana yang paling menghebohkan yaitu yang melibatkan seorang pemuda berusia 22 tahun bernama Trio Fauqi Virdaus, warga Buaran, Jakarta Timur. Pegawai outsourcing di PT Pegadaian itu meninggal dunia sehari setelah disuntik vaksin AstraZeneca.

Kakak Trio, Viki, mengungkapkan adiknya mendapatkan vaksin AstraZeneca pada Rabu (5/5/2021). Ini merupakan vaksinasi dosis pertama bagi Trio. Namun, sekitar 24 jam kemudian atau pada Kamis (6/5/2021), pemuda berusia 22 tahun tersebut harus berpulang.