Inilah Berita Baik & Buruk Bagi Kaum LGBTQ di Selandia Baru

Inilah Berita Baik & Buruk Bagi Kaum LGBTQ di Selandia Baru

Inilah Berita Baik & Buruk Bagi Kaum LGBTQ di Selandia Baru – LGBT atau GLBT adalah akronim dari “lesbian, gay, biseksual, dan transgender”. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa “komunitas gay” karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan.

Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman “budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender”. Kadang-kadang istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender.

Sebanyak lebih dari 100 ribu orang Selandia Baru pada Rabu (15/9) waktu setempat mengajukan pelarangan terhadap praktik terapi konversi LGBTQ. Sebelumnya, Selandia Baru mengajukan undang-undang mengenai pelarangan praktik itu pada akhir Juli 2021 lalu.

1. Jumlah pengajuan tersebut lebih banyak dua kali lipat dibandingkan RUU mengenai Euthanasia
Ribuan Orang Selandia Baru Ajukan Larangan Konversi LGBTQ

Dilansir dari The Guardian, seorang aktivis dan penyeleggara gerakan pelarangan praktik konversi LGBTQ, Shaneel Lal, mengatakan kelompoknya membuat sejarah dengan gerakan ini dan bahkan belum selesai.

Ia menambahkan orang-orang benar-benar peduli tentang ini karena pada tahun 2021 ini tidak tepat untuk menghapus identitas queer.

Pemerintah Selandia Baru telah menerima total sebanyak 106.700 pengajuan RUU, yang akan menjadikannya sebagai kejahatan dalam melakukan praktik konversi, atau mencoba mengubah seksualitas atau identitas gender seseorang.

Pengajuan tersebut jumlahnya dua kali lipat dari pengajuan yang diterima pada undang-undang kontroversial baru-baru ini, termasuk RUU mengenai Euthanasia, yang dilaporkan telah mencapai 40 ribu pengajuan pada saat itu.

Jumlah tersebut juga mendekati 5 kali lipat jumlah pengajuan yang diterima pada RUU yang melegalkan pernikahan sesama jenis tahun 2013 lalu.

Pengajuan tersebut masih belum diproses, jadi belum diketahui berapa banyak yang akan mendukung larangan itu, tetapi Lal optimis bahwa mayoritas akan mendukung setelah kampanye media sosial berskala besar yang meminta orang untuk mengirimkan dukungan mereka.

Sekitar 160 ribu orang telah menandatangani petisi untuk melarang praktik tersebut di awal tahun 2021 lalu serta jajak pendapat oleh salah satu televisi setempat pada September 2020 lalu menemukan sekitar 72 persen warga Selandia Baru mendukung larangan itu dan hanya 14 persen yang menentang.

Lal mengatakan template kampanye untuk pengajuan larangan praktik konversi telah dibuka lebih dari 300 ribu kali.

2. Bagi komunitas LGBT Selandia Baru, kabar tersebut menjadi kabar baik dan buruk
Ribuan Orang Selandia Baru Ajukan Larangan Konversi LGBTQ

Bagi komunitas LGBT di Selandia Baru, Lal mengatakan kabar tersebut disambut dengan antara perayaan dan ketakutan, di mana kesenangan melihat gelombang keterlibatan seperti itu diredam oleh kekhawatiran bahwa hal itu dapat mengarah pada kekerasan karena debat menjadi semakin menonjol di mata publik.

Menurutnya, bagi mereka yang selamat dari praktik konversi, ini seperti tsunami emosional. Ketua Komite Pemilu yang juga seorang hakim, Ginny Andersen, mengatakan dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu bagi 41 staf untuk memproses pengajuan tersebut.

Dia juga mengatakan panitia juga akan menderngar sekitar 3.000 pengajuan lisan. Juru bicara kehakiman Partai Oposisi Nasional, Simon Bridges, mengatakan kemungkinan sebagian besar dari ini sangat penting dari RUU tersebut dan meminta lebih banyak waktu untuk RUU tersebut dalam pertimbangan.

Terapi praktik konversi ini masih legal di beberapa negara di dunia, termasuk di Inggris dan banyak negara bagian di Amerika Serikat.

Dalam undang-undang tersebut akan membuat pelanggaran untuk melakukan praktik konversi pada siapa pun di bawah berusia 18 tahun atau dengan kapasitas pengambilan keputusan yang terganggu, dengan hukuman hingga 3 tahun penjara.

Hal itu juga merupakan untuk melakukan praktik ini menyebabkan kerugian serius, tanpa memandang usia dan membawanya mendapatkan hukuman hingga 5 tahun penjara.

3. Sebuah laporan dari PBB mengatakan praktik ini dapat menyebabkan beberapa masalah

Sekitar akhir Juli 2021 lalu, Selandia Baru telah memperkenalkan undang-undang untuk melarang praktik konbversi dengan mengatakan praktik itu berbahaya dan tidak memiliki tempat di negaranya yang modern ini.

Terapi konversi sendiri mengacu pada kegiatan praktik, yang sering kali oleh kelompok agama mencoba untuk menyembuhkan orang dari masalah seksualitas, ekspresi gender, atau identitas LGBTQ mereka.

Menteri Kehakiman Selandia Baru, Kris Faafoi, mengatakan mereka yang telah menjalani praktik ini berbicara mengenai tekanan kesehatan mental yang berkelanjutan, depresi, rasa malu, dan stigma serta bahkan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Sebuah laporan dari Pakar Independen PBB tentang perlindungan terhadap kekerasan dan diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender yang menemukan bahwa praktik konversi menyebabkan kehilanganhar diri yang signifikan, kecemasan, sindrom depresi, isolasi sosial, kesulitan keintiman, kebencian diri, rasa malu dan rasa bersalah, disfungsi seksual, ide buuh diri, serta upaya bunuh diri dan gejala gangguan stres pasca-trauma.

Mereka menganggap praktik tersebut melanggar konvensi PBB tentang penyiksaan dan merekomendasikan larangan secara global.

Badan kesehatan termasuk American Psychological Association telah menyimpulkan tidak ada bukti bahwa praktik konversi berhasil mengubah seksualitas atau identitas gender.

Faafoi mengatakan RUU itu telah dirancang dengan hati-hati untuk memastikan bahwa layanan kesehatan yang sah, konseling, serta ekspresi umum keyakinan agama atau prinsip tentang seksualitas dan gender tidak akan ditangkap.Ribuan Orang Selandia Baru Ajukan Larangan Konversi LGBTQ.

Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga digunakan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya.

Tidak semua kelompok yang disebutkan setuju dengan akronim ini. Beberapa orang dalam kelompok yang disebutkan merasa tidak berhubungan dengan kelompok lain dan tidak menyukai penyeragaman ini. Beberapa orang menyatakan bahwa pergerakan transgender dan transeksual itu tidak sama dengan pergerakan kaum “LGB”.