Joe Biden Memperingatkan Tak Akan Menerima “Red Lines” Rusia

Joe Biden Memperingatkan Tak Akan Menerima “Red Lines” Rusia

Joe Biden Memperingatkan Tak Akan Menerima “Red Lines” Rusia – Presiden Vladimir Putin mengakui hubungan Rusia dan Amerika Serikat saat ini sedang berada pada fase terburuknya dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan bertemu untuk pertama kali sebagai kepala negara di Jenewa, Swiss, pada 16 Juni.

Gedung Putih mengatakan Biden akan membawa isu serangan ransomware dari Rusia, ancaman agresi Rusia terhadap Ukraina, penahanan aktivis pro-demokrasi, dan beberapa isu lain yang menghantui hubungan dua negara, dikutip dari Reuters, 12 Juni 2021.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, memperingatkan bahwa dia tidak akan menerima “Red Lines” yang ditetapkan oleh Rusia ketika kekhawatiran semakin meningkat bahwa Rusia telah merencanakan invasi segera ke Ukraina. Pihak Rusia sendiri telah meningkatkan militernya di sekitar perbatasan belum lama ini.

1. Komunikasi antara Biden dengan Presiden Rusia diharapkan dapat meredakan ketegangan

Dilansir dari BBC, Presiden AS mengatakan dia akan membuat sangat sulit bagi Rusia untuk menyerang negara tetangganya. Sementara itu, sebuah sumber di AS melaporkan bahwa para pejabat intelijen khawatir invasi dapat dimulai pada awal tahun 2022 ini.

Hal tersebut terjadi ketika Ukraina mengatakan Rusia telah meningkatkan militernya di perbatasan dan mengumpulkan sekitar 94 ribu tentara di sana. Panggilan vide antara Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan Biden diharapkan dapat meredakan ketegangan pada minggu ini.

Biden mengatakan bahwa dia mengharapkan adanya diskusi panjang dengan pemimpin Rusia itu serta memperingatkan bahwa dia tidak akan menerima “Red Lines” siapa pun.

“Apa yang saya lakukan adalah menysun apa yang saya yakini sebagai serangkaian inisiatif paling komprehensif dan bermakna untuk membuat sangat sulit bagi Putin untuk terus maju dan melakukan apa yang orang khawatirkan akan dia lakukan,” ungkap pernyataan Biden yang dilansir dari BBC.

Sementara Biden tidak menjelaskan tindakan tepat apa yang akan diambil oleh AS, para pejabar AS dan Ukraina memperingatkan lagi pada minggu ini bahwa sanksi ekonomi yang berat akan dijatuhkan terhadap Rusia.

2. Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS memperingatkan Rusia akan ada biaya berat jika Rusia meningkatkan konflik

 

Pihak Kremlin mengatakan pada Jumat waktu setempat bahwa Rusia dan AS memiliki tanggal dan waktu tentatif untuk KTT dalam beberapa hari ke depan, tetapi Rusia sedang menunggu AS untuk menyelesaikannya. Gedung Putih hanya mengatakan pihaknya terlibat dalam pembicaraan untuk kemungkinan adanya panggilan telepon.

Biden sendiri telah memberlakukan sanksi terhadap Rusia pada April 2021 lalu dan membuka kemungkinan lebih banyak sanksi lagi. Tetapi AS berharap bahwa keterlibatan langsung yang berkelanjutan akan menurunkan suhu pada saat hubungan berada pada tingkat terendah sejak berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet.

Sekilas tentang seperti apa panggilan Biden dan Putin ditawarkan oleh pertemuan di antara pejabat tingkat bawah. Di Stockholm, Swedia, pada Kamis lalu, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, memperingatkan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, bahwa akan ada biaya berat jika Ruia meningkatkan konflik, sebuah pesan yang tampaknya siap untuk diulangi oleh Biden.

Blinken mengatakan pada Jumat waktu setempat bahwa Biden akan memberi tahu Putin tentang tekad negara, bukan sebagai ancaman, tetapi hanya sebagai fakta, untuk berdiri dengan tegas terhadap tindakan sembrono atau agresif yang mungkin dilakukan Rusia dan juga untuk mempertahankan wilayah integritas, kedaulatan, dan kemerdekaan Ukraina.

Pejabat Rusia, sementara itu, mengatakan Putin akan mendesakkan kasusnya untuk jaminan keamanan yang mengikat secara hukum dari Barat bahwa NATO tidak akan mengakui Ukraina sebagai anggota aliansi militer atau menyebarkan sistem rudal di sana untuk menargetkan Rusia.

3. Baik Biden maupun Presiden Ukraina dikabarkan setuju untuk melakukan panggilan telepon pada pekan depan
Biden Tak akan Terima 'Red Lines' yang Ditetapkan Rusia

Biden dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dikabarkan sementara setuju melakukan panggilan telepon pada pekan depan. Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki, mengatakan pejabat pemerintah telah terlibat dalam kemungkinan panggilan Biden-Putin.

Pejabat Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar atas panggilan telepon Zelenskyy yang diharapkan. “Ini tentu akan menjadi kesempatan untuk membahas keprihatinan serius kami tentang retorika perang, tentang penumpukan militer yang kami lihat di perbatasan Ukraina,” ungkap pernyataan Psaki mengenai potensi panggilan Biden-Putin yang dilansir dari Apnews.com. Psaki mengatakan pemerintah AS akan berupaya berkoordinasi dengan sekutu Eropa jika melanjutkan sanksi.

Dia mencatat bahwa adanya peristiwa pahit tentang pencaplokan wilayah Krimea oleh Rusia pada tahun 2014 lalu, semenanjung Laut Hitam yang telah berada di bawah kendali Ukraina sejak 1954 lalu, berada di depan pikiran ketika Gedung Putih mempertimbangkan jalan ke depan. Zelenskyy sendiri telah mendorong Ukraina untuk bergabung dengan aliansi NATO, yang telah memenuhi keanggotaan tetapi belum nenetapkan batas waktu.

Putin membandingkan Biden dengan mantan Presiden Donald Trump.
Ia memuji Trump sebagai “individu yang luar biasa, individu yang berbakat,” sementara mengatakan Biden, sebagai politisi karir yang “sangat berbeda” dari Trump. Ditanya tentang Biden yang menyebutnya sebagai pembunuh dalam sebuah wawancara pada Maret, Putin mengatakan dia telah mendengar puluhan tuduhan semacam itu. “Ini sama sekali bukan sesuatu yang saya khawatirkan,” kata Putin.

Duta Besar Rusia untuk Amerika Serikat Anatoly Antonov ditarik dari Washington setelah Biden menyebut Putin sebagai pembunuh pada Maret. Duta Besar AS untuk Rusia John Sullivan meninggalkan Moskow setelah Rusia menyarankan agar dia kembali ke Washington untuk berkonsultasi.