Jurnalis Haiti Dibunuh Dengan Sadis oleh Geng Kriminal Lokal

Jurnalis Haiti Dibunuh Dengan Sadis oleh Geng Kriminal Lokal

Jurnalis Haiti Dibunuh Dengan Sadis oleh Geng Kriminal Lokal – Dua jurnalis Haiti tewas pada Kamis di pinggiran Port-au-Prince setelah sekelompok wartawan yang datang untuk mewawancarai pemimpin geng kriminal ditembaki sekelompok orang yang diduga anggota geng lawan, menurut pejabat kepolisian dan media lokal.

Kedua jurnalis yang dibunuh itu adalah Amady John Wesley dari stasiun radio Ecoute FM yang berbasis di Montreal dan wartawan setempat Wilguens Louissant, kata pejabat kepolisian Haiti yang enggan disebut identitasnya. Dua jurnalis di Haiti dibunuh secara sadis oleh geng kriminal lokal.

Kejadian memilukan ini terjadi setelah jurnalis asal Haiti itu tengah meliput pada area ibu kota Port-au-Prince yang dikuasai oleh geng kriminal. Kasus ini menambah panjang kriminalitas dan ketidakstabilan yang disebabkan aksi geng kriminal di Haiti. Bahkan, setelah tewasnya Presiden Jovenel Moïse diketahui geng kriminal kian merajalela di negara Karibia itu.

Kedua jurnalis tewas dibunuh ketika meliput di area Laboule 12

Dilansir dari Daily Mail, dua jurnalis yang tewas di area pinggiran Port-au-Prince bernama John Wesley Amady dan Wilguens Louissaint. Keduanya diketahui tewas di tempat, sedangkan jurnalis ketiga yang ikut berhasil lolos dari maut usai melarikan diri.

Ketiga jurnalis sebelumnya sudah pergi ke Laboule 12, yang berada tepat di sebelah selatan Port-au-Prince untuk melaporkan kondisi terkini pertempuran antar geng kriminal di area tersebut. Namun, nasib buruk justru menimpa para jurnalis yang sedang menjalankan tugas.

Salah satu jurnalis bernama John Wesley Amady yang bekerja untuk Écoute FM sebelumnya adalah kolaborator dari Vice News untuk melaporkan terkait respon geng kriminal usai insidenpembunuhan presiden pada Juni lalu.

Sementara, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengungkapkan bila Wilguens Louissaint diketahui bekerja untuk Télé Patriote dan Tambou Verité.

Kepolisian Haiti salah mengungkapkan bila kedua korban dibakar geng kriminal

Kepolisian Haiti mengungkapkan bahwa anggota geng telah menembak dan membakar hidup-hidup tubuh dua jurnalis tersebut. Atas hal itu, pihak Écoute FM mengecam tindakan barbar dari geng kriminal dan berencana untuk menunda seluruh aktivitas di Haiti.

Kendati demikian, dilansir CNN, tubuh kedua jurnalis itu tidak ditemukan tanda-tanda luka bakar. Namun, pada salah satu jasad ditemukan bekas tembakan yang sangat jelas di bagian kening kanannya.

Atas kesalahan ini, terdapat dugaan bahwa aparat kepolisian Haiti tidak datang ke lokasi kejadian pada Kamis lantaran khawatir akan masalah keamanan. Pasalnya, polisi setempat diduga kurang persenjataan dan tidak dapat pergi ke zona berbahaya yang dikuasai geng kriminal bersenjata lengkap.

Mendengar kabar ini, Kepolisian Haiti menolak untuk memberikan komentar papun terkait ungkapan bahwa jurnalis telah dibakar hidup-hidup. Bahkan, polisi juga tidak memberikan keterangan apapun kenapa mereka tidak dapat pergi ke tempat kejadian perkara.

Baz Ti Makak diduga dalang aksi pembunuhan dua jurnalis

Vice melansir bahwa Kepolisian Haiti menyebut geng kriminal Baz Ti Makak ada di balik aksi pembunuhan kepada dua jurnalis ini. Namun, masih belum bisa dipastikan apakah geng itu ataupun rivalnya yang menjadi pelaku insiden memilukan ini.

Sementara itu, Laboule 12 selama ini dikenal sebagai salah satu zona yang dikuasai oleh geng kriminal. Pasalnya, para geng kriminal bertempur satu sama lain untuk memperebutkan area strategis di selatan Port-au-Prince untuk mengamankan penyelundupan ke bagian selatan Haiti.

Sepanjang 2021, kasus kekerasan dan penculikan di Haiti sudah mencapai 950 kasus, terutama usai tewasnya Presiden Jovenel Moïse. Bahkan, aparat kepolisian tidak dapat berbuat apapun atau melangsungkan operasi berskala besar untuk menghadapi geng kriminal itu.

Sedangkan kasus pembunuhan kepada jurnalis di Haiti sebelumnya pernah terjadi pada April 2000. Kasus itu menimpa jurnalis Haiti bernama Jean Dominique yang dikenal sebagai jurnalis paling tersohor di negara Karibia itu.

Pada Juni 2021, jurnalis bernama Diego Charles juga dibunuh bersama dengan seorang aktivis politik dan 13 orang lainnya. Pelaku kedua kasus itu sampai detik ini juga tidak dapat ditemukan oleh aparat penegak hukum, dikutip Daily Mail.

Ecoute FM membenarkan kematian Wesley dalam pernyataan dan menggambarkan pembunuhan itu sebagai aksi kriminal dan barbar. Jurnalis ketiga dalam kelompok itu berhasil melarikan diri dari serangan, kata pejabat kepolisian. Beberapa geng berebut untuk menguasai kawasan Laboule 12 tempat pembunuhan itu terjadi.

Haiti menghadapi lonjakan kasus kekerasan terutama setelah pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada Juli 2021. Negara itu menghadapi kemiskinan berkepanjangan, kekerasan geng, dan krisis politik. Pada Sabtu pekan lalu giliran Perdana Menteri Ariel Henry yang menjadi sasaran percobaan pembunuhan, namun gagal. Kelompok kriminal bersenjata (KKB) berusaha membunuh Henry saat menghadiri peringatan hari kemerdekaan Haiti ke-218 di gereja Kota Gonaives.