PBB Khawatirkan Perang Sipil Akan Segera Terjadi di Myanmar

PBB Khawatirkan Perang Sipil Akan Segera Terjadi di Myanmar

PBB Khawatirkan Perang Sipil Akan Segera Terjadi di Myanmar – Pasukan sipil bersenjata yang diprakarsai kelompok pendukung Aung San Suu Kyi dan pro-demokrasi mulai melakukan serangan ke arah pasukan junta.

Dan Saat ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khawatir dengan perang sipil yang akan meletus di Myanmar dalam waktu dekat. Pernyataan itu merupakan tanggapan atas berbagai serangan yang dilakukan Tentara Pertahanan Rakyat (PDF) dalam kampanye perang defensif melawan junta.

Di tengah situasi yang memanas, PBB mengatakan bahwa dunia hampir kehabisan waktu untuk memulihkan demokrasi dan mencegah konflik yang lebih luas terjadi di Burma.

1. Perang sipil di depan mata
PBB: Perang Sipil Myanmar Sudah di Depan Mata!

Pada awal September, National Unity Government (NUG) atau pemerintahan bayangan yang diisi oleh politisi Liga Nasional Demokrasi (NLD) mendeklarasikan perang defensif melawan junta. NUG juga memiliki basis militan yang tergabung dalam PDF, yaitu masyarakat sipil dan etnis minoritas bersenjata yang menentang kudeta militer.

Menurut Bachelet, situasi kemanusiaan yang memburuk di Myanmar akan menghancurkan kehidupan dan harapan masyarakat.

“Konflik, kemiskinan, dan dampak pandemik meningkat tajam, dan negara menghadapi pusaran penindasan, kekerasan, dan keruntuhan ekonomi,” katanya.

Di sisi lain, Bachelet juga menyoroti represivitas junta yang justru membangkitkan gerakan perlawanan, alih-alih meredam gerakan pemberontakan.

“Tren ini menunjukkan kemungkinan yang mengkhawatirkan akan terjadinya perang saudara,” ujar dia.

2. Lebih dari 1.100 orang meninggal dunia sejak kudeta terjadi
PBB: Perang Sipil Myanmar Sudah di Depan Mata!

Bachelet mendesak komunitas internasional untuk mendukung proses rekonsiliasi yang melibatkan semua pihak. Dia juga berharap ASEAN selaku organisasi kawasan menggunakan segala instrumen, termasuk penerapan insentif dan sanksi, untuk membalikkan situasi di Myanmar.

“Stabilitas Myanmar dan jalan menuju demokrasi serta kemakmuran telah dikorbankan selama beberapa bulan terakhir, untuk memajukan ambisi elit militer yang memiliki hak istimewa dan mengakar,” katanya.

Kemudian, Bachelet menyebut ada lebih dari 1.100 orang yang dilaporkan tewas di tangan pasukan keamanan sejak 1 Februari 2021. Sementara, lebih dari 8.000 lainnya, termasuk anak-anak, telah ditangkap dan sekitar 4.700 orang masih ditahan.

Lelaki yang pernah menjadi Presien Chili itu mendesak semua pihak, terutama militer, untuk mengizinkan akses tidak terbatas kepada bantuan kemanusiaan. Bersamaan dengan itu, dia berharap rezim junta yang dipimpin Min Aung Hlaing segera membebaskan para tahanan politik.

Dia menyerukan angkatan bersenjata untuk melindungi warga sipil dan penggunaan serangan udara serta artileri di daerah pemukiman harus segera dihentikan.

3. Junta kembali menghanguskan sebuah desa
PBB: Perang Sipil Myanmar Sudah di Depan Mata!

Awal pekan ini, tentara membakar habis sebuah desa yang berada di Thantlang, negara bagian Chin dekat perbatasan India. Sekitar 10 ribu orang terpaksa mengungsi untuk mencari perlindungan, demikian dilaporkan Reuters.

Media lokal Myanmar Now menambahkan, penyerangan itu menewaskan seorang pendeta Kristen yang berupaya memadamkan api.

“Pembunuhan seorang pendeta Baptis dan pemboman rumah-rumah di Thantlang, Negara Bagian Chin, adalah contoh terbaru dari neraka hidup yang disampaikan setiap hari oleh pasukan junta terhadap rakyat Myanmar,” cuit Thomas Andrews, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar.

The Global New Light of Myanmar, media pemerintah, melaporkan bahwa ketegangan bermula dari pasukan pemerintah yang disergap oleh sekitar 100 teroris, istilah yang disematkan junta kepada PDF dan NUG. Alhasil, kedua pihak terlibat baku tembak.

Menurut Salai Thang, seorang pemimpin masyarakat, serangan junta merupakan bagian dari rangkaian pembalasan atas penyerbuan pangkalan militer awal September.

Bentrokan yang baru-baru ini terjadi menyebabkan 30 milisi Chin meninggal dunia.

Beberapa hari lalu, dilansir dari The Straits Times, PDF menyerang iring-iringan junta dengan bom di dekat Yangon. Serangan yang disusul baku tembak itu juga menewaskan beberapa orang.

Kemudian, pada awal September, demonstran anti-junta juga menghancurkan menara komunikasi milik pemerintah Mytel. Gerakan pemberontakan yang dikoordinir oleh NUG mulai menyasar sumber bisnis militer, untuk melemahkan sumber daya mereka.

Seorang anggota pasukan perlawanan sipil Kani mengatakan kepada The Irrawaddy bahwa tiga baku tembak terjadi di hutan di sepanjang jalan raya Monywa-Kalaywa pada hari Jumat. Dua baku tembak lagi terjadi di Gunung Kyauklonegyi dekat desa Chaungma dan di hutan dekat desa Thaminchan di kotapraja.

Dalam baku tembak di Gunung Kyauklonegyi, sedikitnya delapan pasukan militer tewas dan beberapa lainnya luka-luka. Sekitar tujuh anggota pasukan perlawanan sipil tewas, kata sumber itu kepada The Irrawaddy.

Dalam bentrokan hari Kamis, sekitar delapan tentara militer dan dua penduduk desa yang melawan pasukan junta dilaporkan tewas, menurut penduduk setempat.