PBB Menghentikan Badan Penyelidikan Pelanggaran HAM di Yaman

PBB Menghentikan Badan Penyelidikan Pelanggaran HAM di Yaman

PBB Menghentikan Badan Penyelidikan Pelanggaran HAM di Yaman – Sebuah laporan PBB tentang pelanggaran hak asasi manusia menuduh serangan udara koalisi Arab Saudi menyebabkan kerusakan parah di Yaman. Sejak awal perang pada tahun 2015, setidaknya 10 ribu orang telah terbunuh di wilayah tersebut. Menurut informasi yang diperoleh Al Jazeera, sebuah panel PBB menyelidiki 10 serangan udara pada tahun 2017 yang menewaskan 157 orang.

Penyelidikan itu menemukan bahwa target-target serangan udara tersebut mencakup kapal migran, kendaraan, pasar malam, lima bangunan tempat tinggal, motel, dan gedung pemerintah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menghentikan badan penyelidikan pelanggaran HAM dan kejahatan perang di Yaman.

Keputusan tersebut disepakati, ketika Dewan HAM PBB gagal mencapai suara terbanyak dalam pengambilan suara perpanjangan izin Group of Eminent Experts (GEE). Dikutip dari Reuters, kegagalan ini dicap sebagai kekalahan terburuk Negara Barat dalam penegakan HAM internasional. Sebelumnya, Arab Saudi sebagai salah satu pihak yang terlibat pada Perang Saudara Yaman diketahui telah melobi banyak negara anggota Dewan HAM PBB agar menolak perpanjangan GEE.

1. Mayoritas anggota Dewan HAM PBB tolak usulan perpanjangan dua tahun
PBB Hentikan Investigasi Kejahatan di Yaman, Arab Saudi Selamat

Perpecahan sangat terlihat di Dewan HAM PBB ketika salah satu cabang PBB terpenting itu gagal mencapai kata sepakat terkait Yaman.

Saat proses debat berlangsung, delegasi Belanda mengusulkan perpanjangan izin GEE selama dua tahun kepada Dewan HAM PBB. Sayangnya, usulan tersebut kalah tipis ketika pengambilan suara.

Dari 47 negara anggota Dewan HAM PBB, 21 di antarnya menolak pembaharuan mandat GEE, termasuk Rusia, Arab Saudi, Bahrain, Uzbekistan, dan China.

Menurut Duta Besar Bahrain untuk PBB, Yusuf Abdulkarim Bucheeri, Group of Eminent Experts telah berkontribusi dalam penyebaran disinformasi terkait kondisi di Yaman.

2. Organisasi HAM Yaman kecam keputusan Dewan HAM PBB
PBB Hentikan Investigasi Kejahatan di Yaman, Arab Saudi Selamat

Aktivis HAM internasional menyuarakan kekecewaannya terhadap Dewan HAM PBB, tidak terkecuali organisasi HAM asal Yaman, Mwatana for Human Rights. Mwatana mencap pengambilan suara yang dilakukan Dewan HAM PBB atas GEE menjadi tamparan keras bagi ribuan masyarakat Yaman yang telah menjadi korban.

Tidak hanya itu, Mwatana juga menjelaskan apa yang baru saja dilakukan PBB sebagai lampu hijau bagi setiap pihak yang berperang di Yaman untuk melanjutkan pembantaiannya.

Berdasarkan laporan terakhir Group of Eminent Experts, sejak 2015 silam setidaknya 23 ribu serangan udara yang dilaksanakan Koalisi Saudi di Yaman telah melukai atau bahkan membunuh sekitar 18 ribu masyarakat sipil Yaman.

3. Utusan Khusus PBB untuk Yaman desak setiap pihak lanjutkan proses negosiasi
PBB Hentikan Investigasi Kejahatan di Yaman, Arab Saudi Selamat

Kondisi Yaman yang semakin hari semakin mengkhawatirkan tidak pernah lepas dari perhatian PBB. Meskipun PBB terbukti sampai saat ini belum dapat menghentikan konflik tersebut, namun mereka masih sangat berharap setiap pihak menempuh jalur damai.

Dilaporkan The Guardian, Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, meminta agar kelompok Houthi dan pemerintah Yaman kembali berdialog. Dialog nantinya dapat menjadi jawaban pemungkas ketika kekuatan militer terbukti gagal mengakhiri konflik berdarah yang telah menyelimuti Yaman selama tujuh tahun.

Panel tersebut meminta pemerintah Arab Saudi untuk memberikan alasan mereka di balik serangan tersebut, namun belum mendapat tanggapan, Al Jazeera melaporkan. Laporan tersebut juga menunjuk pada peran yang dimainkan oleh pemberontak Houthi dalam konflik Yaman.

Pada tanggal 19 Desember, Yaman menandakan 1.000 hari perang yang dipimpin oleh Saudi. Johan Mooij, Direktur Country CARE di Yaman, menggambarkan situasi tersebut “sangat mengerikan.” Dia menambahkan bahwa “jutaan orang Yaman menghadapi krisis perang, kelaparan, wabah penyakit, dan blokade baru-baru ini terhadap bahan bakar dan impor perdagangan.”

Pada bulan yang sama, Pentagon mengakui adanya “beberapa operasi darat” di Yaman, yang menyebabkan kematian warga sipil, yang membuat wilayah ini semakin tidak stabil.

Kerusakan yang meluas akibat serangan udara Saudi yang didukung AS, telah membuat lebih dari satu juta orang di wilayah tersebut mengungsi. Wabah kolera yang parah di daerah tersebut juga telah menewaskan setidaknya 2.119 orang, menurut Palang Merah. Delapan juta lainnya berada di ambang kelaparan.