Pemerintah UEA Menunda Pembelian 50 Jet Tempur F35 Buatan AS

Pemerintah UEA Menunda Pembelian 50 Jet Tempur F35 Buatan AS

Pemerintah UEA Menunda Pembelian 50 Jet Tempur F35 Buatan AS – Lockheed Martin F-35 Lightning II adalah keluarga pesawat tempur multiperan siluman berkursi tunggal, bermesin tunggal, segala cuaca buatan Amerika Serikat yang dimaksudkan untuk melakukan misi superioritas udara dan serangan.

F-35 juga mampu memberikan kemampuan peperangan elektronik dan intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Lockheed Martin adalah kontraktor utama F-35, dengan mitra utama Northrop Grumman dan BAE Systems. Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan ditundanya rencana pembelian 50 jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan ini disampaikan Kedutaan Besar UEA di AS, pasca lambatnya pertimbangan ulang penjualan senjata ke UEA oleh pemerintah AS di bawah Presiden Joe Biden. Kedutaan Besar UEA memastikan Abu Dhabi tetap akan memilih AS sebagai daftar idn poker penyedia alutsista utamanya. Namun persoalan akuisisi F-35 untuk sementara waktu akan dihentikan.

1. Tidak ada kepastian dari Amerika Serikat
UEA Tunda Rencana Akuisisi Jet Tempur F-35

Kesepakatan 23 miliar dollar AS atau setara dengan 329 triliun rupiah antara UEA dan AS terkait pembelian F-35, Drone MQ-9, dan peralatan militer lainnya terancam batal. Sebelumnya kontrak ini sudah mendapat restu dari Presiden Donald Trump, namun proses tersebut ditunda secara sepihak oleh Presiden Biden.

Dikutip dari Financial Times, kekhawatiran Washington atas rencana penggunaan teknologi 5G Huawei oleh pemerintah UEA menjadi alasan utama mengapa Joe Biden enggan memberi lampu hijau. Ia bersama pejabat AS lainnya takut teknologi 5G Tiongkok secara tidak langsung mencuri data pesawat jet tempur F-35 ketika digunakan oleh Abu Dhabi.

Meskipun begitu, UEA menilai mereka sudah berusaha menunda rencana pemasangan 5G tapi tidak ada respon lebih lanjut dari AS. Kondisi ini lalu memaksa salah satu sekutu AS di Timur Tengah tersebut untuk menunda rencana pembelian F-35nya.

2. Jet tempur Rafale menggantikan F-35
UEA Tunda Rencana Akuisisi Jet Tempur F-35

Pengumuman ditundanya akuisisi F-35 oleh UEA bukan dilakukan tanpa pengganti yang pasti. Satu minggu sebelumnya UEA dan Prancis telah menyepakati kontrak pembelian 80 unit jet tempur Rafale dan 12 helikopter Caracal senilai 17 miliar Euro atau 279 triliun rupiah, seperti yang dilansir dari Financial Times.

Walaupun Abu Dhabi tidak menjelaskan pembelian tersebut sebagai pengganti F-35, namun para ahli sepakat Rafale telah memenuhi kebutuhan UEA. Sampai saat ini belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih terkait kesepakatan UEA-Prancis di mana keduanya adalah sekutu AS.

3. Masih membuka peluang negosiasi
UEA Tunda Rencana Akuisisi Jet Tempur F-35

Penundaan yang diumumkan UEA ternyata belum menjadi akhir dari rencana pembelian F-35. Selain tersendatnya proses peninjauan ulang AS, UEA awalnya berdalih persyaratan teknis, batasan operasional, hingga analisis biaya/manfaat dari F-35 membuat mereka menunda rencana akuisisi.

Dilaporkan Reuters, Kedutaan Besar UEA kemudian memberikan penekanan bahwa Abu Dhabi tetap akan membuka opsi proses negosiasi ulang di masa yang akan datang. Belum diketahui pasti negosiasi ulang seperti apa yang akan dilakukan UEA dan AS terkait kelanjutan F-35. Tetapi semua ini menunjukkan betapa dinamisnya geopolitik bahkan di ranah persekutuan.

Pesawat ini diturunkan dari Lockheed Martin X-35, yang pada tahun 2001 mengalahkan Boeing X-32 untuk memenangkan program Joint Strike Fighter (JSF). Pembangunannya pada prinsipnya didanai oleh Amerika Serikat, dengan dana tambahan dari negara-negara mitra program dari NATO dan sekutu dekat AS, termasuk Inggris, Australia, Kanada, Italia, Norwegia, Denmark, Belanda, dan Turki (sebelum dikeluarkan).

Beberapa negara lain telah memesan, atau sedang mempertimbangkan untuk memesan, pesawat tersebut. Program ini telah menarik banyak perhatian dan kritik karena ukuran program yang belum pernah terjadi sebelumnya, kerumitan, biaya yang membengkak, dan pengiriman yang sangat tertunda, dengan banyak kekurangan teknis yang masih diperbaiki.