Pemilu Zambia Terlaksana Saat Sedang Gejolak Ekonomi Negara

Pemilu Zambia Terlaksana Saat Sedang Gejolak Ekonomi Negara

Pemilu Zambia Terlaksana Saat Sedang Gejolak Ekonomi Negara – Dalam hitungan hari, Zambia akan menentukan masa depannya dengan menggelar pemillu pada 12 Agustus mendatang. Rakyat akan dengan memilih seorang presiden, 156 anggota parlemen, dan 117 pemimpin dewan distrik.

Pemilu 2021 juga menjadi pertaruhan apakah petahana Presiden Edgar Lungu akan terpilih kembali setelah kinerja ekonomi terburuk negara itu dalam beberapa dekade dan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat yang telah menimbulkan kekhawatiran kerusuhan di negara Afrika selatan tersebut.

Lungu akan bersaing dengan rival utamanya Hakainde Hichilema (59) yang mencalonkan diri untuk idn poker keenam kalinya dalam pemilihan presiden. Hichilema telah kalah tipis dari Lungu sebanyak dua kali, pertama dalam pemilihan sela 2015 setelah kematian mantan presiden Michael Sata dan kemudian dalam jajak pendapat umum pada tahun berikutnya.

1. Persaingan dalam pemilu

Dilansir Al Jazeera, pada pemilu ini pesaing terberat Presiden Lungu adalah Hakainde Hichilema. Hichilema merupakan pesaing terberat Lungu dalam pemilu sebelumnya dan telah enam kali mencalonkan diri sebagai presiden. Pada pemilu sebelumnya di 2015 dan 2016 kekalahan tipis diraih Hichilema dari Lungu, yang pertama dalam pemilihan sela 2015 setelah kematian Presiden Michael Sata, kedua pada 2016 dalam pemilu umum.

Pemilu akan dilakukan dua putaran jika tidak ada kandidat yang berhasil meraih 50 persen suara. Menurut pandangan para analis pemilihan akan berlangsung ketat dan hasilnya akan menentukan arah untuk investasi di Afrika Selatan yang kaya tembaga, yang akan membantu kehidupan 17 juta penduduk Zambia, setengah dari populasi hidup dalam kemiskinan.

Dari jajak pendapat yang dilakukan menunjukkan bahwa perekonomian Zambia yang terpuruk telah mengikis suara untuk Lungu, dia dituduh telah lalai dalam meminjam dana untuk membiayai proyek infrastruktur.

Partai Front Patriotik (FP) pimpinan Lungu di ibu kota Lusaka dilaporkan mendominasi papan reklame di jalanan. Sedangkan pihak oposisi dari Partai Persatuan Pembangunan Nasional (UPND) pimpinan Hichilema, yang warna partainya merah, tidak menonjolkan diri, bahkan ada yang mengenakan pakaian hijau, warna partai Lungu. Hal itu dilakukan untuk menghindari masalah karena merasa tidak aman, disebut sebagai “taktik semangka”.

2.  Keamanan pemilu menjadi perhatian
Zambia Selenggarakan Pemilihan Presiden dan Parlemen

Dilansir VOA News, keamanan pemilu telah menjadi perhatian karena dalam beberapa pekan terakhir pendukung FP yang UPND telah bentrok, konfrontasi menyebabkan dua orang tewas. Karena hal itu petugas polisi telah dikerahkan menertibkan para pendukung dan mencegah terjadinya kekerasan selama pemilihan.

Namun, tindakan pemerintah yang mengerahkan polisi dipandang oleh pihak sebagai tindakan untuk mengintimidasi dan melecehkan pendukung mereka sebelum pemilihan. Tuduhan itu dibantah oleh juru bicara kepolisian, yang memberitahu saat ini tidak ada korban kekerasan polisi.

Kelompok agama di Zambia mendesak agar kekerasan menjelang pemilu diakhiri. Pendeta bernama Emmanuel Chikoya meyakini bahwa perdamaian diperlukan untuk menyelenggarakan pemiliu yang adil. Komisi pemilihan di Zambia menyampaikan bahwa pemilu akan berlangsung dengan transparan dan kredibel.

Lungu dituduh bersikap keras dalam melawan para penentangnya. Berdasarkan laporan Amnesti internasional pada bulan Juni menyampaikan bahwa Lungu semakin brutal dalam melawan oposisi, aktivis, dan para jurnalis. Tindakan keras itu membuat pihak berwenang dituduh menggunakan kekuatan berlebihan, dengan penangkapan sewenang-wenang di luar proses hukum. Hichilema mengaku telah 15 kali ditangkap.

Meski ada kekhawatiran kekerasan dalam pemilu, tapi kekerasan pra-pemilu tidak jarang terjadi di Zambia. Dalam setiap transisi kekuasaan yang terjadi selalu berlangsung damai sejak negara itu mengadopsi demokrasi multi-partai pada tahun 1990.

3. Perekonomian Zambia diperkirakan akan tumbuh 1,5 persen
Zambia Gelar Pemilu Mencari Pengganti Sata

Dilansir BBC, partai yang saat ini berkuasa menyampaikan bahwa selama 10 telah berhasil meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan sukses membangun infrastruktur, menyoroti pembangkit listrik baru, sekolah, rumah sakit dan bandara internasional di Lusaka dan Ndola. Tahun ini ekonomi negara diperkirakan akan bertumbuh sebesar 1,5 persen.

Namun, saat ini Zambia justru terlihat sedang mengalami keterpurukan ekonomi. Negara tersebut pada tahun lalu mengalami resesi, yang merupakan pertama kalinya sejak1998. Salah satu penyebabnya adalah krisis wabah virus corona.

Menurut data International Labour Organization (ILO) bahwa saat ini tingkat pengangguran di Zambia meningkat menjadi 12,17 persen pada 2020, yang merupakan tingkat tertinggi sejak partai Lungu berkuasa  pada tahun 2011. Diperkirakan saat ini satu dari lima kaum muda tidak memiliki pekerjaan dan biaya hidup telah meningkat pesat.

Hutang negara juga dilaporkan terus meningkat sekitar 30 persen pendapatan negara dibayarkan untuk bunga pinjaman. Banyaknya hutang membuat Zambia pada tahun lalu tidak bisa membayar bunga pinjamannya, yang membuat negara itu menjadi negara Afrika pertama yang gagal membayar pinjaman selama pandemik. Pemerintah telah melakukan peminjaman baru untuk membangun rumah sakit.

Saat ini Zambia dilaporkan sedang kekurangan pekerja di sektor pendidikan dan kesehatan, tapi ada lebih dari 50 ribu guru, 17 ribu perawat, dan 500 dokter yang saat ini menganggur.