Penembakan Massal Kembali Terjadi di Eropa & 6 Orang Tewas

Penembakan Massal Kembali Terjadi di Eropa & 6 Orang Tewas

Penembakan Massal Kembali Terjadi di Eropa & 6 Orang Tewas – Penembakan massal adalah insiden yang melibatkan banyak korban kekerasan terkait senjata api. Tidak ada definisi dari istilah “penembakan massal” yang diterima secara luas, meskipun pembunuhan massal sebagai akibat dari terorisme, penegakan hukum yang berwenang atau tindakan militer yang berwenang biasanya tidak dianggap sebagai penembakan massal.

Peristiwa tragis terjadi di barat daya Inggris, tepatnya di luar kota Plymouth, kota yang berjarak 347 kilometer dari London. Seorang pria bersenjata melakukan penembakan massal dan telah menyebabkan beberapa orang terbunuh.

Polisi dan petugas paramedis segera meluncurkan idn poker tanggapan secara besar-besaran usai mendapat laporan penembakan masal, termasuk pengiriman ambulans darat dan udara. Pengejaran pelaku juga dilakukan secara cepat. Insiden tragis yang terjadi disebut oleh beberapa saksi sebagai insiden yang “mengerikan dan sangat menyedihkan.”

1. Sedikitnya enam orang tewas dalam penembakan massal di Plymouth

Inggris memiliki undang-undang kepemilikan senjata api yang ketat, sehingga aksi kejahatan yang menggunakan senjata api jarang terjadi di negara tersebut. Oleh sebab itu, penembakan massal yang terjadi di Plymouth telah mengejutkan banyak pihak, termasuk para pejabat tinggi.

Peristiwa itu terjadi pada sore hari, sekitar pukul enam waktu setempat. Melansir laman The Guardian, layanan ambulans menjelaskan, mereka mendapat panggilan ke daerah bernama Keyham, di luar kota Plymouth, karena terjadi penembakan massal. Tim langsung merespon dengan mengirim sejumlah besar tenaga medis, termasuk ambulans, beberapa dokter, dan paramedis senior.

Sementara ini, korban tewas dalam insiden tragis itu ada enam orang. Polisi telah menutup tempat kejadian perkara dan menginstruksikan kepada masyarakat untuk tidak menyebarkan rumor tentang peristiwa menyedihkan itu.

Polisi wilayah Devon dan Cornwall, dalam sebuah pernyataan, mengatakan “ada sejumlah korban jiwa di tempat kejadian dan beberapa korban lainnya menerima perawatan. Sebuah insiden kritis telah diumumkan. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak berspekulasi atau membagikan foto-foto kejadian tersebut di media sosial atau di tempat lain.”

2. Insiden disebut ‘mengerikan dan menyedihkan’

Beberapa saksi mata yang berhasil diwawancarai oleh BBC menjelaskan, seorang pria berpakaian hitam telah melakukan penembakan secara acak.

Sharron, seorang saksi yang enggan disebutkan nama lengkapnya, menjelaskan bahwa pertama kali terdengar ada teriakan, “diikuti tembakan, tiga atau mungkin empat (kali).”

Penembak terlihat menendang pintu sebuah rumah, keluar menuju taman dan mulai menembak secara acak. “Dia lari dari rumah sambil menembak sambil berlari dan terus menembak beberapa orang di taman,” katanya.

Seorang saksi mata lain yang bernama Robert Pinkerton juga sama terkejutnya. Itu karena ketika dia berjalan di tikungan, dia menabrak seorang pria dengan senapan. Dalam pengakuannya, pria tersebut berpakaian serba hitam.

Korban tewas di lokasi kejadian adalah tiga perempuan, dua lelaki dan pelaku itu sendiri. Belum diketahui secara jelas apa motif pelaku dan apakah pelaku tewas karena tertembak aparat atau bunuh diri.

3. Insiden penembakan massal tidak terkait dengan ‘terorisme’

Melansir dari Reuters, seorang perempuan yang jadi korban merupakan anak berusia sekitar lima tahun, kata saksi mata. Polisi memastikan situasinya telah terkendali dan penyelidikan masih dilakukan terkait apakah pelaku melakukan kontak dengan beberapa orang sebelumnya. Duka cita dan ucapa bela sungkawa mengalir dari para pejabat Inggris. Johnny Mercer, anggota parlemen lokal wilayah itu, mengatakan di media sosial bahwa insiden mengerikan itu tidak terkait teror.

Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel berkomentar,  “insiden di Plymouth sangat mengejutkan dan pikiran saya bersama mereka yang terkena dampak.” Pada saat yang sama, dia mendesak masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti semua saran dan arahan polisi, serta membiarkan layanan darurat untuk melanjutkan pekerjaannya.

Pemimpin Partai Buruh Inggris, Sir Keir Starmer, juga terkejut atas insiden penembakan itu. “Pikiran saya bersama keluarga dan tetangga dari mereka yang terjebak dalam mimpi buruk ini. Saya memberi penghormatan kepada layanan darurat kami yang berlari menuju insiden yang kita semua hindari,” kata dia.

Penembakan massal dapat dimotivasi oleh ideologi politik (misalnya Neo-Nazisme, politik kiri jauh dan terorisme), misantropi, gangguan jiwa,  perundungan (bullying), serta alasan-alasan lainnya. Psikolog forensik Stephen Ross berpendapat bahwa amarah yang ekstrem dan gagasan bahwa seseorang berbuat untuk suatu prinsip atau pergerakan—bukan gangguan jiwa—adalah penjelasan utama dari penembakan massal.