Perdana Menteri Norwegia Akui Kekalahan Dalam Pemilu 2021

Perdana Menteri Norwegia Akui Kekalahan Dalam Pemilu 2021

Perdana Menteri Norwegia Akui Kekalahan Dalam Pemilu 2021 – Partai oposisi dari sayap kiri-moderat Norwegia memenangkan pemilihan parlemen dan akan mulai melakukan negosiasi untuk membentuk koalisi pemerintah.

Perubahan iklim dan ketimpangan kekayaan diprediksi menjadi fokus pembicaraan. Perdana Menteri Erna Solberg yang berasal dari partai konservatif kalah dalam pemilihan dan akan turun setelah berkuasa selama delapan tahun.

Sementara Ketua Partai Buruh Jonas Gahr Stoere mengatakan akan membentuk pemerintahan berikutnya. Koalisi sayap kiri berhasil meraih sebanyak 100 kursi parlemen Norwegia dalam hasil Pemilu Norwegia kali ini.

1. Hasil tersebut dipastikan setelah 97,5 persen suara sudah masuk

Oposisi sayap kiri Norwegia yang dipimpin oleh pemimpin Partai Buruh, Jonas Gahr Store, menang telak dalam Pemilu Norwegia 2021 setelah kampanye yang didominasi oleh masa depan industri minyak di Norwegia.

Store mengalahkan koalisi kanan-tengah pada Senin waktu setempat yang dipimpin oleh Erna Solberg, yang sudah berkuasa sejak tahun 2013 lalu.

Dengan sebanyak 97,5 persen suara sudah dihitung, Partai Buruh bersama 4 partai kiri-tengah lainnya meraih kursi mayoritas parlemen Norwegia sebanyak 100 kursi, naik dari 81 kursi sebelumnya.

Untuk memenangkan mayoritas parlemen minimal sebanyak 85 kursi dari total 169 kursi yang diperebutkan.

Menurut Store, Norwegia telah mengirimkan sinyal yang jelas di mana Pemilu menunjukkan bahwa warga Norwegia meninginkan masyarakat yang lebih adil. Store sendiri sebelumnya telah berkampanye menentang ketidaksetaraan sosial.

Anggota Partai Buruh, Anniken Huitfeldt, mengatakan kemenangan itu melampaui semua harapan. Ia mengakui belum pernah melihat perubahan yang begitu besar dan sangat berarti untuk membentuk pemerintahan dengan koalisi partai kiri dan tengah serta ia berharap itu akan menjadi hasilnya.

Pemimpin Sosialis Kiri, Audun Lysbakken, mendukung aliansi 5 partai yang lebih luas, dengan memperkirakan pembicaraan koalisi akan berjalan sulit.

2. Partai Konservatif Norwegia mengalami pengurangan persentase sebanyak 4,7 poin
PM Norwegia Akui Kekalahan kepada Oposisi Sayap Kiri

Partai Konservatif Norwegia mengalami kemunduran pada Pemilu Norwegia kali ini, di mana telah kehilangan persentase sebesar 4,7 poin yang dijuluki oleh penyiar Norwegia, NRK, sebagai “pecundang terbesar dalam Pemilu”.

Mantan mitra koalisinya, Partai Kemajuan, kehilangan persentase 3,4 poin. Solberg yang berusia 60 tahun saat ini telah berada di depan pemerintahan minoritas sejak 2020 lalu, sebelum itu koalisi dengan antara lain Partai Kemajuan yang populis.

Karena masa jabatannya yang panjang serta komitmennya terhadap liberalisme ekonomi, ia dikenal di dalam negeri sebagai “Iron Erna”, terinspirasi oleh mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, yang dijuluki “Wanita Besi” karena gayanya yang tegas.

Solberg sendiri berharap menjadi Perdana Menteri Norwegia pertama yang memenangkan masa jabatan 4 tahun ketiga secara berturut-turut.

Selama 8 tahun masa jabatannya, dia telah memperluas eksplorasi minyak, memotong pajak, serta berusaha membuat administrasi publik lebih efisien.

Pada Pemilu Norwegia 2013 lalu, Partai Buruh digulingkan dari kekuasaan saat itu, setelah takluk dari Partai Konservatif dengan calonnya, Erna Solberg, yang membuatnya menjadi pemimpin terlama di Norwegia.

Setelah dinyatakan unggul, Store berterima kasih kepada Solberg karena telah menjadi Perdana Menteri yang baik selama menjabat.

3. Kampanye Pemilu Norwegia kali ini membahas produsen minyak dan gas
PM Norwegia Akui Kekalahan kepada Oposisi Sayap Kiri

Posisi Norwegia sebagai produsen minyak dan gas terbesar di Eropa Barat menjadi inti kampanye Pemilu setelah laporan iklim bulan Agustus 2021 lalu dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mendorong masalah ini ke puncak agenda.

Store telah menyerukan transisi bertahap dari ekonomi minyak, sementara Partai Hijau telah menyerukan untuk segera mengakhiri eksplorasi minyak.

Partai Konservatif juga menyerukan transisi dari bahan bakar fosil yang telah membuat Norwegia menjadi kaya.

Baik Partai Konservatif maupun Partai Buruh menganjurkan penarikan bertahap dari minyak dan gas, yang menyumbang sebesar 14 persen dari PDB Norwegia dan 40 persen dari ekspor, yang menyediakan 160 ribu pekerjaan langsung dan telah membantu negara membangun dana kekayaan berdaulat sebesar 1,2 triliun euro atau setara dengan Rp20.210 triliun.

Mereka berpendapat bahwa perusahaan minyak perlu waktu untuk mengadaptasi kecakapan teknik mereka untuk mengejar teknologi hijau.

Para pengamat politik setempat mengatakan potensi perpecahan koalisi atas pertanyaan itu dapat menghasilkan kompromi yang akan memerlukan pengecualian beberapa perairan untuk eksplorasi minyak di masa depan, terutama di Kutub Utara.

Kemungkinan perselisihan lain dalam koalisi sayap kiri adalah Eropa, dengan keanggotaan Norwegia di Wilayah Ekonomi Eropa (EEA) sangat disukai oleh Partai Buruh tetapi ditentang oleh Partai Eurosceptic Center, Partai Sosialis Kiri, dan Partai The Reds.

Store mengatakan pemerintahannya akan fokus pada pengurangan emisi CO2 negara itu sesuai dengan Perjanjian Paris 2015, tetapi menolak ultimatum apa pun pada kebijakan energi.

Status Norwegia sebagai produsen minyak dan gas telah menjadi inti kampanye. Namun langkah menjauh dari industri petroleum dan menciptakan lapangan pekerjaan tampaknya berlangsung secara bertahap meski partai-partai pro lingkungan semakin menguat.

Demi membentuk kabinet yang seimbang, Stoere harus menarik mitra-mitra kiri moderat untuk mengompromikan berbagai kebijakan. Mulai dari kepemilikan pribadi dan minyak hingga hubungan Norwegia dengan Uni Eropa.