Polandia Membangun Pagar di Perbatasannya Dengan Belarusia

Polandia Membangun Pagar di Perbatasannya Dengan Belarusia

Polandia Membangun Pagar di Perbatasannya Dengan Belarusia – Penduduk migran suatu provinsi atau kabupaten/kota adalah penduduk yang daerah asalnya bukanlah provinsi atau kabupaten/kota tersebut. Analisis mengenai daerah asal penduduk miskin dan rentan umumnya diperlukan oleh pemerintah daerah.

Yang tergolong sebagai daerah perkotaan sebagai destinasi migrasi penduduk yang mencari penghasilan yang lebih baik dibandingkan daerah asalnya. Lonjakan tajam migran dari Timur Tengah dan Asia, memaksa Polandia untuk membangun pagar di sepanjang perbatasannya dengan Belarusia. Serta akan mengerahkan lebih banyak pasukan di sana guna menghentikan migran yang ingin memasuki negara Uni Eropa (UE).

Hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh idn poker android Polandia, tapi juga tiga negara Baltik: Latvia, Lithuania, dan Estonia. Mereka menuduh Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengirim migran melintasi perbatasan mereka, di mana perbatasan tersebut merupakan perbatasan timur Uni Eropa.

1. Polandia akan bangun pagar kokoh setinggi 2,5 meter di perbatasan dengan Belarusia
Antisipasi Lonjakan Migran, Polandia akan Bangun Perbatasan

Menteri Pertahanan Polandia, Mariusz Blaszczak melalui akun Twitter miliknya mengatakan bahwa, “Pagar kokoh setinggi 2,5 meter akan dibangun di perbatasan dengan Belarusia. Lebih banyak pasukan akan terlibat dalam membantu menjaga perbatasan,” ungkapnya pada hari Senin (23/8/2021). Dia juga menambahkan akan segera menyajikan rincian keterlibatan lebih lanjut dari angkatan bersenjata Polandia.

Dilansir BBC, Sebelumnya, dalam mengantisipasi lonjakan migran yang datang, Polandia telah menempatkan lebih dari 900 pasukan guna membantu menjaga di perbatasan 400 kilometer (248 mil) Polandia dengan Belarusia dan telah memasang kawat berduri sepanjang 150 kilometer di perbatasan.

Pemerintah Polandia juga melaporkan bahwa pekan lalu, sebanyak 1.935 orang telah mencoba menyeberang ke Polandia secara ilegal dari Belarusia sejauh bulan ini. Lalu, 1.175 dari mereka telah dikirim kembali dan 760 dikirim ke pusat migran asing di Polandia. Sepanjang tahun 2020, 122 orang melintasi perbatasan secara ilegal dan ditahan.

Langkah yang dilakukan oleh Polandia dalam membangun pagar perbatasan baru, nantinya akan meniru pagar yang didirikan Hungaria terhadap para migran bertahun-tahun lalu di perbatasannya dengan Serbia, yang mana diperkuat dengan gulungan kawat berduri.

2. Polandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia mengecam langkah yang diambil Belarusia soal migran
Antisipasi Lonjakan Migran, Polandia akan Bangun Perbatasan

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh perdana menteri Polandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia pada hari Senin, mereka mengatakan bahwa, “Menggunakan imigran untuk mengacaukan negara-negara tetangga merupakan pelanggaran yang jelas terhadap hukum internasional dan memenuhi syarat sebagai serangan gabungan terhadap… Latvia, Lithuania, Polandia dan dengan demikian terhadap seluruh Uni Eropa,” dikutip dari Associated Press.

UE mengatakan Presiden Lukashenko melancarkan ‘perang hibrida’ dengan menggunakan para migran untuk menekan blok tersebut dampak dari sanksi yang dijatuhkan UE terhadap Belarusia pada bulan Juni soal tindakan keras Lukashenko terhadap pengunjuk rasa dan penangkapan seorang jurnalis pembangkang di dalam penerbangan Ryanair yang terpaksa mendarat di Minsk.

Mereka juga meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk campur tangan dalam perselisihan dengan Belarus mengenai migrasi.

Sementara itu di Jenewa, Shabia Mantoo selaku juru bicara Badan Pengungsi PBB mengatakan bahwa organisasi tersebut telah mengikuti situasi dengan cermat, “Kami sangat prihatin dengan perkembangan di perbatasan yang mengakibatkan orang-orang terdampar selama berhari-hari,” ungkapnya.

3. Kebijakan soal migran yang diambil oleh Polandia menuai kecaman dari dalam negeri
Antisipasi Lonjakan Migran, Polandia akan Bangun Perbatasan

Dilansir Reuters, Langkah yang diambil oleh Polandia dalam memerangi dan mengantisipasi lonjakan migran yang datang, menuai kecaman dari para pembela hak asasi manusia (HAM) atas penderitaan sekelompok migran yang terperangkap selama dua minggu di tempat terbuka antara penjaga perbatasan Polandia-Belarusia di dekat desa Usnarz Gorny.

Beberapa pengacara dan LSM menuduh Polandia memperlakukan para migran yang terdampar secara tidak manusiawi dengan menghalangi mereka masuk.

Selain itu, Ombudsman HAM Polandia mengatakan bahwa penjaga perbatasan telah melanggar Konvensi Jenewa, di mana tidak menerima pernyataan lisan dari beberapa migran bahwa mereka ingin mengajukan permohonan perlindungan internasional di Polandia.

Atas berbagai pernyataan tersebut membuat pemerintah Polandia meresponnya. Polandia mengatakan, mengizinkan para migran memasuki wilayah Polandia akan mendorong migrasi ilegal lebih lanjut dan juga akan bermain di tangan Lukashenko.

Marcin Przydacz selaku pejabat di Kementerian Luar Negeri Polandia mengatakan kepada wartawan, “Ini bukan pengungsi, mereka adalah migran ekonomi yang  dibawa oleh pemerintah Belarusia.”

Dengan melakukan analisis terhadap komposisi penduduk migrannya, daerah dapat menarik kesimpulan apakah migrasi yang terjadi di daerahnya mempengaruhi dinamika kemiskinan daerah tersebut.

Karena pertanyaan mengenai daerah asal penduduk dalam Survei Sosioekonomi Nasional (Susenas) sangat terbatas, definisi penduduk migran dalam modul Partisipasi Miskin dan Rentan dalam Pelayanan Publik harus diwakilkan dengan indikator yang tersedia