Ribuan Orang di Turki Memprotes Kekerasan Terhadap Perempuan

Ribuan Orang di Turki Memprotes Kekerasan Terhadap Perempuan

Ribuan Orang di Turki Memprotes Kekerasan Terhadap Perempuan – Sedikitnya 300 wanita dibunuh di Turki pada tahun 2020. Demikian data organisasi hak-hak wanita.

Jumlah kasus yang tidak tercatat diyakini jauh lebih tinggi karena femisida sering ditutupi sebagai kasus bunuh diri.  Ribuan orang di Turki melakukan protes yang menyerukan untuk diakhirinya kekerasan terhadap perempuan.

Dalam protes di Istanbul polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Protes tersebut merupakan bagian dari demonstrasi pada hari Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, yang diperingati setiap 25 November.

1. Pengunjuk rasa menuntut tindakan segera terhadap kekerasan berbasis gender
Polisi Turki Tembak Gas Air Mata ke Massa Anti Kekerasan Perempuan

Melansir dari Reuters, dalam protes di Istanbul berkumpul ribuan orang, yang kebanyakan wanita berjalan ke pusat kota di Lapangan Taksim. Demonstran yang berkumpul meneriakkan “pemerintah mengundurkan diri”, sebagai bentuk kekecewaan terhadap penanganan pemerintah dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan.

Para pengunjuk rasa juga membawa spanduk, yang menuntut tindakan segera terhadap kekerasan terhadap berbasis gender di Turki. Ketika berusaha menerobos barikade polisi massa mengatakan tidak akan diam, tidak akan takut, dan tidak akan patuh.

Para pengunjuk rasa yang berusaha menerobos barisan polisi ditembak gas air mata dan terjadi bentrokan dengan petugas, sebelumnya polisi telah mendesak massa untuk bubar. Tembakan gas air mata itu dilaporkan membuat seorang pengunjuk rasa terluka.

Intervensi yang dilakukan polisi dianggap penyelenggara protes sebagai serangan terhadap perempuan dan kelompok minoritas. Protes juga terjadi di Ankara dan di kota-kota lainnya. Pekan ini Turki juga dilanda protes akibat nilai mata uang lira yang mengalami penurunan tajam.

2. Meminta Turki kembali ke dalam Konvensi Istanbul
Polisi Turki Tembak Gas Air Mata ke Massa Anti Kekerasan Perempuan

Para demonstran di Turki menyerukan agar Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membawa Turki kembali ke dalam Konvensi Istanbul, sebuah perjanjian internasional yang dirancang pada 2014 untuk melindungi perempuan dan mengadili kasus kekerasan terhadap perempuan.

Melansir dari Associated Press,  Erdogan menarik Turki keluar dari konvensi pada bulan Maret, yang memicu kemarahan dari kelompok hak-hak perempuan dan dari negara-negara Barat. Untuk mencegah Turki keluar telah dilakukan banding di pengadilan, tapi langkah itu tidak berhasil dan penarikan Turki diresmikan pada Juli.

Beberapa pejabat dari partai yang mendukung Erdogan telah menyerukan peninjauan kembali perjanjian tersebut, mereka beralasan bahwa konvensi tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut di Turki.

Untuk melawan kekerasan terhadap perempuan pemerintah telah menyiapkan sebuah hukum yang disebut “Rencana Aksi untuk Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan,” bertujuan untuk meninjau proses peradilan, meningkatkan layanan perlindungan, dan mengumpulkan data tentang kekerasan.

3. Sepanjang tahun 2021 ada 345 wanita meninggal di Turki karena kekerasan
Polisi Turki Tembak Gas Air Mata ke Massa Anti Kekerasan Perempuan

Para kelompok yang memperjuangkan perlawanan kekerasan terhadap perempuan mengatakan kekerasan di Turki sedang meningkat yang membuat mereka prihatin.

Sepanjang tahun ini menurut We Will Stop Femicide Platform, sebuah organisasi yang berupaya memerangi kekerasan terhadap perempuan, mengatakan ada 345 perempuan terbunuh akibat kekerasan. Menurut kelompok tsrsebut pada tahun lalu ada 409 kematian perempuan akibat kekerasan, dikutip dari DW.

4. Kasus Paling Menggemparkan

Two men get decades in prison for killing student in Turkey

Kelompok anti kekerasan terhadap perempuan itu juga mengatakan pada bulan Oktober tahun ini ada 18 wanita dibunuh oleh pria, sementara 19 lainnya ditemukan tewas dalam penyebab yang masih diragukan.

Kasus pembunuhan pada Mei 2018 terhadap warga Ankara berusia 23 tahun, Sule Cet, merupakan salah satu kasus yang menggemparkan. Wanita muda itu diperkosa di kantor oleh dua pria mabuk, salah satunya adalah bosnya. Setelah diperkosa, dia dilempar keluar jendela dari ketinggian.

Pelaku mengatakan kepada polisi bahwa Cet telah bunuh diri, meski petugas menemukan kondisi Cet dalam keadaan patah leher, luka robekan di daerah anus, dan ditemukan kandungan obat penenang dalam darahnya. Sejumlah bukti yang hampir tidak sesuai dengan kejadian “bunuh diri”.

Proses persidangan pembunuhan terhadap Cet berlangsung selama enam bulan, dengan diwarnai aksi unjuk rasa sebagai bukti solidaritas dari kaum perempuan. Kasus tersebut juga ramai diperbincangkan di media sosial. Tekanan dari publik membuahkan hasil, pengadilan di Ankara memvonis pelaku utama dengan hukuman penjara seumur hidup, sedangkan rekannya dipenjara selama 19 tahun.

Saat itu, kelompok hak perempuan berharap kasus Cet akan mendorong perubahan di masyarakat – tidak hanya didukung oleh masyarakat sipil tetapi juga oleh sistem peradilan Turki.