Sejumlah Terduga Teroris Tewas Dalam Sepekan di Negara India

Sejumlah Terduga Teroris Tewas Dalam Sepekan di Negara India

Sejumlah Terduga Teroris Tewas Dalam Sepekan di Negara India – Terorisme  adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta sering kali merupakan warga sipil.

Dalam sepekan terakhir, pasukan kepolisian India di Kashmir telah melakukan operasi dan menewaskan tujuh terduga teroris. Selain itu, dua warga sipil yang diduga mendukung operasi kelompok teroris juga ikut terbunuh. Total sembilan orang yang meninggal dunia.

Keluarga korban telah melakukan protes dan mengatakan bahwa dua warga sipil tersebut tidak memiliki kaitan apa pun dengan klaim pihak polisi. Mereka melakukan protes dan meminta jenazahnya agar bisa dimakamkan secara terhormat.

1. Korban tewas disebut anggota kelompok teroris TRF dan pendukungnya

Selama sepekan terakhir, pasukan keamanan India telah meluncurkan operasi dan terlibat dalam dua baku tembak secara terpisah di selatan kota utama Srinagar. Dalam baku tembak pertama, lima orang terduga teroris tewas.

Kemudian baku tembak kembali terjadi. Dalam insiden tersebut, dua terduga teroris tewas dan dua warga sipil yang dituduh mendukung kelompok tersebut juga menjadi korban.

Dilansir Reuters, Kepala Polisi Vijay Kumar, menjelaskan lima orang tewas dalam baku tembak pertama disebut adalah anggota kelompok The Resistance Front (TRF). Dia juga mengatakan dua tersangka dan dua orang pendukung tewas dalam baku tembak terbaru.

India dan Pakistan berbagi wilayah Kashmir. Di Kashmir bagian India, itu adalah satu-satunya wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Dalam satu bulan terakhir, terjadi peningkatan aksi kekerasan di wilayah tersebut, yang telah menewaskan lebih dari 30 orang, termasuk minoritas Hindu, Sikh, dan pekerja migran.

TRF dituduh kelompok yang telah membunuh para pekerja migran tersebut.

2. Keluarga korban protes untuk meminta jenazah

Dua warga sipil yang jadi korban meninggal dalam baku tembak terbaru di selatan kota Srinagar, kota utama Kashmir, dijelaskan oleh polisi adalah seorang pengusaha dan seorang dokter bedah.

Dua orang tersebut bernama Altaf Ahmad Bhat dan Mudasir Gul. Bhat memiliki toko bangunan dan Gul adalah ahli bedah serta pebisnis real estate.

Bhat dituduh oleh polisi telah menyediakan ruang untuk persembunyian teroris. Sedangkan Gul dituduh mendukung kelompok teroris tersebut.

Namun keluarga kerabat dari dua korban menolak klaim kepolisian. Dilansir Associated Press, sekitar selusin kerabat korban sipil telah melakukan protes dan menyalakan lilin di jalan. Mereka meminta jenazah keluarganya untuk dikembalikan.

Salah satu anggota keluarga yang ikut protes, bahkan mengambil senapan laras panjang petugas polisi dan menariknya ke dada sambil berteriak “tembak aku, teroris.”

Sejak tahun 2020, pihak berwenang India memiliki kebijakan mengubur mayat terduga teroris yang tewas secara diam-diam. Mayat-mayat tersebut dikebumikan di desa terpencil barat laut yang jauh dari Kashmir. Sebagian besar terduga teroris dan pendukungnya dikubur dalam kuburan tak bertanda.

Kebijakan baru tersebut telah semakin menambah kemarahan anti-India yang meluas di wilayah itu. Beberapa kelompok hak asasi manusia mengecamnya dan menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran hak-hak beragama.

3. Saksi mata menyebut korban sipil dijadikan sebagai perisai

Baku tembak pada hari Senin di selatan Srinagar berlangsung selama berjam-jam. Dalam waktu tersebut, polisi India berhasil menewaskan empat orang yang menurut mereka adalah teroris serta pendukungnya.

Satu korban disebut warga negara Pakistan tetapi tanpa disertai bukti yang cukup kuat terhadap klaim tersebut. Satu orang lagi adalah warga lokal bernama Amir Magray.

Dalam keterangan yang muat oleh Al Jazeera, ada saksi yang menuturkan bahwa korban warga sipil, Bhat dan Gul, dijadikan sebagai perisai oleh pasukan keamanan India.

Saksi yang tidak mau menyebutkan namanya tersebut menjelaskan bahwa Bhat dibawa pergi oleh pasukan keamanan sebanyak tiga kali. Sedangkan Gul juga dibawa pergi pasukan dan tak lama kemudian saksi mendengar suara tembakan.

Mehbooba Mufti, mantan kepala menteri daerah Jammu dan Kashmir dalam unggahan di media sosial mengecam tuduhan pihak polisi yang mengklaim bahwa korban sipil tewas adalah pendukung kelompok teroris.

Dia juga menyarankan pentingnya penyelidikan yudisial yang kredibel dilakukan untuk mengungkap kebenaran dan mengakhiri budaya impunitas pasukan keamanan yang merajalela.

Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (“teroris”) layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism: “Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin  adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang”. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.