Sekjen PBB Menyatakan Bahwa Senjata Nuklir Harus Dilenyapkan

Sekjen PBB Menyatakan Bahwa Senjata Nuklir Harus Dilenyapkan

Sekjen PBB Menyatakan Bahwa Senjata Nuklir Harus Dilenyapkan – Pimpinan PBB menunjukkan bahwa meski secara keseluruhan jumlah senjata nuklir  menurun selama beberapa dekade, tetapi sekitar 14.000 senjata di seluruh dunia masih ditimbun. Kondisi itu membuat dunia menghadapi “tingkat risiko nuklir paling tinggi,” dalam hampir empat dekade.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyatakan bahwa senjata nuklir harus dilenyapkan dari dunia. Menurut dia, saat ini adalah era perdamaian yang ditandai dengan terbukanya harapan untuk dialog.

Bertepatan dengan Hari Internasional untuk Penghapusan Total Senjata Nuklir, Guterres juga mengatakan bahwa salah satu tugas PBB adalah mengatasi ancaman senjata nuklir.

1. Masih ada 14 ribu senjata nuklir yang ditimbun
PBB Serukan Pemusnahan Massal Senjata Nuklir

Pimpinan PBB menunjukkan, meski secara keseluruhan jumlah senjata nuklir menurun selama beberapa dekade, namun sekitar 14 ribu senjata nuklir di seluruh dunia masih ditimbun.

Kondisi itu membuat dunia menghadapi risiko yang tinggi dari nuklir selama hampir empat dekade.

“Kini saatnya untuk mengusir ancaman ini selamanya, melenyapkan senjata nuklir dari dunia kita dan mengantarkan era baru dialog, harapan, dan perdamaian bagi semua orang,” ujarnya.

2. Indonesia serukan nuklir untuk tujuan damai
PBB Serukan Pemusnahan Massal Senjata Nuklir

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi, juga menyerukan penggunaan nuklir untuk tujuan damai. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan General Conference ke-65 Badan Energi Atom Dunia (International Atomic Energy Agency/IAEA) yang dihelat secara virtual, Senin (20/9/2021) lalu.

“Kita harus terus mendorong penggunaan nuklir untuk tujuan damai,” kata Menlu RI dalam pernyataannya, dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri RI.

Retno juga menyoroti nilai positif dari nuklir, seperti pengembangan varietas padi. Sejak 2013, misalnya, Indonesia yang diwakili oleh Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman Pangan (PAIR) bekerja sama dengan IAEA dan Badan Pangan Dunia (FAO) telah berhasil mengembangkan 23 varietas padi baru.

Kiprah Indonesia tersebut diapresiasi dunia internasional hingga memperoleh penghargaan FAO/IAEA Outstanding Achievement Award sebanyak dua kali, pada 2014 dan 2021.

“Kami merasa terhormat memperoleh FAO/IAEA Outstanding Achievement Award. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap dampak sosial ekonomi dari kolaborasi yang kami lakukan dan bukti kontribusi nuklir terhadap pembangunan berkelanjutan,” katanya.

3. Indonesia singgung manfaat nuklir di tengah pandemik COVID-19
PBB Serukan Pemusnahan Massal Senjata Nuklir

Indonesia juga menyoroti manfaat nuklir dalam upaya mengentaskan pandemik COVID-19, yaitu nuklir untuk mendeteksi varian virus baru dan mencegah terjadinya pandemik di masa depan.

Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung IAEA dalam meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir negara-negara berkembang, melalui kerja sama teknis yang inklusif, termasuk melalui Kerja Sama Selatan-Selatan.

“Mari kita lanjutkan kerja kolektif untuk ‘mempercepat dan memperluas kontribusi energi atom bagi perdamaian, kesehatan, dan kemakmuran’ sebagaimana yang tercantum dalam Piagam IAEA,” kata Menlu Retno.

Pimpinan PBB menunjukkan bahwa meski secara keseluruhan jumlah senjata nuklir menurun selama beberapa dekade, namun sekitar 14.000 senjata di seluruh dunia masih ditimbun. Kondisi itu membuat dunia menghadapi “tingkat risiko nuklir paling tinggi,” dalam hampir empat dekade.

4. Turki Justru Berniat Menimbun Senjata

Abaikan Amarah AS, Turki Tetap Beli S-400 Rusia Lagi Halaman all -  Kompas.com

Namun di sisi lain, Presiden Tayyip Erdogan mengatakan Turki justru akan membeli lebih banyak sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia. Washington mengatakan S-400 menimbulkan ancaman bagi jet tempur F-35 dan sistem pertahanan NATO yang lebih luas.

Turki mengatakan tidak dapat memperoleh sistem pertahanan udara dari sekutu NATO mana pun dengan persyaratan yang memuaskan.

“Di masa depan, tidak ada yang bisa ikut campur dalam sistem pertahanan seperti apa yang kami peroleh, dari negara mana dan pada tingkat apa. Tidak ada yang bisa mengganggu itu. Kami adalah satu-satunya yang membuat keputusan seperti itu,” kata Erdogan,