Seorang Jurnalis Polandia Resmi Dilarang Masuk ke Uzbekistan

Seorang Jurnalis Polandia Resmi Dilarang Masuk ke Uzbekistan

Seorang Jurnalis Polandia Resmi Dilarang Masuk ke Uzbekistan – Agnieszka Pikulicka Wilczewska seorang jurnalis lepas yang berbasis di Tashkent, Uzbekistan. Berasal dari Polandia, selama beberapa tahun terakhir telah meliput politik dan masyarakat di seluruh ruang pasca-Soviet, Asia Selatan dan Timur Tengah.

Semua Orang dapat membaca karya di Al Jazeera English, the Guardian, Eurasianet, the Diplomat dan banyak media berbahasa Inggris dan Polandia lainnya.  Seorang jurnalis Polandia bernama Agnieszka Pikulicka Wilczewska pada Senin (7/11/2021) resmi dilarang masuk ke Uzbekistan.

Bahkan, tidak ada alasan yang jelas mengapa ia ditolak masuk, padahal selama ini ia diketahui sudah lama menetap di Uzbekistan Kebijakan ini diambil sehari setelah kembali terpilihnya Presiden Shavkat Mirziyoyev dalam periode kedua kepemimpinannya di negara Asia Tengah itu. Hal ini mengindikasikan rendahnya perlindungan kepada jurnalis independen di Uzbekistan.

1. Pikulicka terjebak di perbatasan Uzbekistan-Kazakhstan

Pelarangan masuk Pikulicka di Uzbekistan diketahui mengakibatkan jurnalis asal Polandia itu harus terjebak di pintu perbatasan Kazakhstan. Pasalnya, ia tidak diperbolehkan masuk ke dalam wilayah Uzbekistan dan juga tidak memiliki hak atau izin resmi untuk masuk ke teritori Kazakhstan.

Namun, ia diharuskan keluar dari Uzbekistan setiap bulannya sesuai dengan aturan visa Uzbekistan selama 30 hari. Maka dari itu, Pikulicka setiap bulannya keluar ke Kazakhstan untuk masuk kembali ke Uzbekistan dan memperpanjang izin bebas visanya.

“Saya tinggal di Uzbekistan selama tiga tahun ini dan sudah menganggap negara itu sebagai rumah saya. Ini sangat menyedihkan dan tidak adil lantaran saya tidak diperbolehkan melintas perbatasan hanya untuk mengambil pakaian dan barang saya” ungkap Pikulicka, dari laman Eurasianet.

2. Pikulicka pernah menuding pejabat Kemenlu Uzbekistan melakukan pelecehan seksual padanya

Dilansir dari RFE/RL, jurnalis independen asal Polandia yang menjadi koresponden Al Jazeera, The Guardian, The Diplomat dan Eurasianet itu sempat menuding pejabat Kemenlu Uzbekistan melakukan aksi pelecehan seksual kepadanya.

Tak hanya itu saja, pejabat itu juga menekannya agar ia hanya menulis artikel positif mengenai negaranya. Sebagai imbalannya, ia akan diberikan perpanjangan izin tinggal dan akreditasi untuk meliput di negara Asia Tengah itu.

Pada Februari lalu, Kemenlu Uzbekistan akhirnya bersedia mengucapkan permintaan maaf kepada Pikulicka. Bahkan, pihak Uzbekistan mengatakan bila sudah memecat pejabat yang diketahui melakukan aksi bejat itu.

Keputusan ini dilakukan Pemerintah Uzbekistan lantaran tengah mencoba untuk membatasi aktivitas Pikulicka di negaranya.

3. Uzbekistan masuk dalam negara dengan kebebasan pers terendah di dunia
Uzbekistan Larang Jurnalis Polandia untuk Masuk

Eurasianet melaporkan bahwa, Pikulicka selama ini tengah kesulitan dalam memperbarui akreditasi jurnalistiknya di Uzbekistan. Pemerintah Uzbekistan menuduhnya tengah ikut campur dalam urusan dalam negeri dengan merendahkan harga diri negara dan warga Uzbekistan.

Pikulicka mengatakan jika tindakan ini sebagai bentuk pembalasan kepadanya lantaran telah melaporkan berita terkait LGBT. Pasalnya, isu terkait LGBT merupakan isu paling sensitif di kalangan publik Uzbekistan.

Nasib yang dialami jurnalis Polandia itu juga terkait dengan berlanjutnya upaya pemerintah untuk menangkap para blogger dan jurnalis independen di negara Asia Tengah itu. Lantas, mencuat pertanyaan terkait reformasi demokratisasi dari Presiden Mirziyoyev yang berupaya menghilangkan citra diktator di Uzbekistan, dikutip dari RFE/RL.

Uzbekistan diketahui masuk dalam negara berperingkat rendah terkait kebebasan pers. Bahkan, negara itu masuk dalam peringkat 157 dari 180 negara dengan Indeks Kebebasan Pers yang dikeluarkan Reporters Without Borders tahun 2020.

Agnieszka Pikulicka-Wilczewska adalah jurnalis lepas yang tinggal di Uzbekistan, mantan editor majalah New Eastern Europe, dan rekan di Koalisi Wanita dalam Jurnalisme.

Dia telah banyak menulis tentang subyek yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan konflik, sebagian besar berfokus pada ruang pasca-Soviet, Afghanistan dan Lebanon. Artikelnya muncul di Al Jazeera English, The Guardian, Foreign Policy, The Diplomat, Eurasianet, dan media lainnya.

Dia meraih gelar MA ganda dalam Hubungan Internasional dari University of Kent (UK) dan Higher School of Economics (Rusia) dan gelar BA dari University of Westminster (UK).

Dia ikut mengedit dua buku akademis: “Ukraina dan Rusia: Rakyat, Politik, Propaganda dan Perspektif” (2015) dan “Migrasi dan Krisis Ukraina: Perspektif Dua Negara” (2017). Dia saat ini sedang mengerjakan buku laporan pertamanya tentang Uzbekistan.