Serangan Militer Ethiopia yang Menewaskan Enam Pasukan Sudan

Serangan Militer Ethiopia yang Menewaskan Enam Pasukan Sudan

Serangan Militer Ethiopia yang Menewaskan Enam Pasukan Sudan – Konflik di Ethiopia memicu ketakutan bahwa perang saudara yang berkecamuk di wilayah Tigray utara bakal memperparah gelombang pengungsi ke negara tetangga, Sudan.

Sudan sendiri tengah menghadapi kesulitan ekonomi akibat konflik di dalam negaranya sendiri. Sumber-sumber militer dari Sudan mengatakan bahwa enam pasukannya tewas. Mereka diduga diserang oleh pasukan dan milisi Ethiopia.

Serangan tersebut dilakukan di daerah sengketa yang bernama Al-Fushqa, atau kadang ditulis Al-Fusaga, sebuah daerah yang subur. Sudan dan Ethiopia telah lama berebut perbatasan. Konflik di daerah tersebut telah menyebabkan puluhan orang tewas, baik itu dari militer atau sipil.

1. Militer Sudan mengatakan menangkis serangan dan melakukan pembalasan

Sudan dan Ethiopia adalah dua negara terbesar yang terletak di Tanduk Afrika. Dua negara itu telah bersitegang lama dalam perebutan perbatasan. Ketegangan antara mereka meningkat sejak tahun 2020 lalu.

Dalam perselisihan yang terbaru, Al Jazeera mengabarkan, bahwa beberapa sumber militer Sudan menyebut ada enam pasukannya yang tewas. Mereka sedang mengawal para petani melakukan panen dan diserang oleh pasukan serta milisi Ethiopia.

Tentara Sudan mengatakan di media sosial, “kelompok tentara dan milisi Ethiopia menyerang pasukan di Al-Fashaga Al-sughra, yang mengakibatkan kematian … pasukan kami dengan gagah berani menangkis serangan itu dan menimbulkan kerugian besar dalam kehidupan dan peralatan pada para penyerang.”

Tidak ada rincian lebih lanjut tentang situasi bentrokan dan seberapa banyak korban yang diderita oleh pihak Ethiopia atau pihak Sudan.

2. Ethiopia bantah lakukan serangan

Pernyataan yang dilontarkan oleh militer Ethiopia di media sosial mendapatkan bantahan dari pihak Ethiopia. Juru bicara pemerintah Ethiopia, Legesse Tulu, mengatakan bahwa pihaknya tidak melakukan serangan terhadap pasukan Sudan.

Dilansir Reuters, Tulu menjelaskan “ini adalah informasi tak berdasar yang disebarluaskan oleh berbagai media bahwa tentara kami menyerang Sudan. Angkatan Pertahanan Ethiopia tidak memiliki agenda untuk menyerang negara berdaulat mana pun,” katanya.

Wilayah perbatasan Sudan-Ethiopia yang menimbulkan ketegangan adalah Al-Fusqa. Itu adalah zona perbatasan yang sebenarnya telah disepakati baik oleh petani Ethiopia maupun petani Sudan untuk berbagi dalam pengelolaan.

Namun, pada tahun 2020 lalu ketika pemerintah Ethiopia terlibat bentrok mematikan dengan pasukan Tigrayan, ribuan petani etnis Amhara Ethiopia diusir oleh Sudan. Khartoum dan Addis Ababa sejak itu terlibat perang kata-kata yang menegangkan, dan keduanya saling tuduh atas kekerasan dan pelanggaran teritorial.

3. Bentrokan terjadi ketika dua negara sedang menghadapi tantangan dalam negeri

Baik Sudan atau Ethiopia sama-sama sedang menghadapi masalah pelik di dalam negerinya. Sudan baru saja mengalami guncangan politik, karena PM Abdalla Hamdok digulingkan dalam kudeta militer.

Namun satu bulan setelah itu, militer mengembalikan Hamdok kepada jabatannya. Rakyat melakukan demonstrasi besar di jalanan menentang kudeta militer. Puluhan orang tewas ditembus peluru tajam pasukan keamanan.

Di Ethiopia sendiri, pemerintahan yang dipimpin oleh PM Abiy Ahmed sedang menghadapi gejolak di wilayah bagian utara. Mereka terlibat konflik dengan pasukan Tigrayan People’s Liberation Front (TPLF).

Bahkan kabar yang terbaru, Abiy Ahmed ikut turun langsung memimpin pasukan untuk menahan gempuran kelompok TPLF yang semakin mendekati ibu kota Addis Ababa.

Di tengah tantangan dalam negeri masing-masing, bentrokan perselisihan perbatasan Sudan-Ethiopia tersebut terjadi. Ini menambah masalah bagi dua negara masing-masing.

Menurut penjelasan International Crisis Group, Sudan dan Ethiopia berselisih selama beberapa dekade di perbatasan Al-Fushqa seluas 260 kilometer persegi. Wilayah itu disebut Ethiopia sebagai Mazega.

Pada tahun 2007, Presiden Sudan Omar al-Bashir sebelum digulingkan, telah bersepakat dengan PM Meles Zenawi, pemimpin Ethiopia. Dua pemimpin itu sepakat bahwa dua belah pihak saling bergiliran mengolah tanah yang subur tersebut.

Meski demikian, dua belah pihak tidak berhasil bersepakat tentang garis demarkasi yang jelas di perbatasan itu. Keduanya tampaknya tidak ada yang mau untuk mundur. Sebagian karena pandangan domestik masing-masing.

Menurut PBB, lebih dari 40 ribu orang telah menyeberang perbatasan dari Tigray ke Sudan timur sejak 7 November. Sudan tengah berupaya untuk membangun kembali ekonominya yang hancur setelah konflik di wilayah Darfur dan penggulingan Omar al-Bashir tahun lalu. Sudan juga dilanda kekurangan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed memerintahkan tentara ke Tigray setelah ketegangan beberapa bulan. Dia menuduh Front Pembebasan Rakyat Tigray yang berkuasa menyerang sebuah pangkalan militer.

Pihak berwenang Tigray mengatakan pertempuran dengan militer negara telah membuat 100 ribu orang mengungsi. Bahkan PBB telah memperingatkan bahwa tambahan 1,1 juta orang mungkin membutuhkan bantuan.

Pengungsi telah menyeberang ke negara bagian Kassala, Gedaref, dan Nil Biru di Sudan.  Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan memperingatkan, jumlah total para pengungsi dari Tigray untuk melarikan diri dari konflik bisa melonjak menjadi 100 ribu orang dalam enam bulan jika pertempuran terus berlanjut.