Serangan Teroris yang Menewaskan 2 Guru di Srniagar Kashmir

Serangan Teroris yang Menewaskan 2 Guru di Srniagar Kashmir

Serangan Teroris yang Menewaskan 2 Guru di Srniagar Kashmir – Terorisme  adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta sering kali merupakan warga sipil

Sekelompok teroris  memasuki sebuah sekolah di wilayah Srniagar, Kashmir, dan menembak 2 orang guru. Para korban yang diidentifikasi sebagai Satinder Kaur dan Deepak Chand adalah anggota komunitas minoritas Sikh dan Hindu di kawasan itu.

Sebelumnya, pada hari Rabu, kelompok teroris tersebut juga telah melakukan pembunuhan terhadap seorang pedagang kaki lima dan pemilik apotek di kota Srinagar. Insiden baru-baru ini dimana terjadi aksi terorisme terhadap kelompok minoritas telah memicu kemarahan dari berbagai pihak.

1. Dilakukan oleh kelompok TRF

Melansir The Hindu, kelompok Front Perlawanan (TRF) mengaku bertanggung jawab terhadap aksi pembunuhan 2 guru tersebut. Polisi mengatakan mereka menerobos masuk ke Sekolah Menengah Atas Putra Pemerintah, Iddgah Sangam, di kota tua dan menembak langsung ke arah keduanya. Kedua korban dinayatakan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Polisi India menggambarkan TRF sebagai front untuk organisasi militan yang berbasis di Pakistan seperti Lashkar E-Taiba dan Hizbul Mujahidin. TRF muncul setelah langkah pemerintah India untuk membagi bekas negara bagian Jammu dan Kashmir menjadi dua wilayah yang dikelola federal pada Agustus 2019.

2. TRF mengaku tidak menargetkan orang berdasarkan agama

Menurut laporan Reuters, dalam sebuah pernyataan di media sosial pada minggu ini bahwa TRF sama sekali tidak menargetkan orang-orang berdasarkan agama mereka. Namun, tindakan mereka itu ditargetkan terhadap mereka yang membantu otoritas India.

“Skuad Shaheed Gazi melakukan serangan itu. Guru-guru ini pada tanggal 15 Agustus telah melecehkan dan memperingatkan orang tua dengan konsekuensi yang mengerikan jika ada siswa yang tidak menghadiri acara tanggal 15 Agustus. Kami ingin memperjelas bahwa pemegang domisili orang luar, antek dan kolaborator, apa pun agamanya, tidak akan luput”, kata juru bicara TRF dalam sebuah pernyataan online yang dilansir dari The Hindu.

Sementara itu, pihak berwenang India sendiri yakin bahwa mereka menargetkan pekerja politik dan warga sipil berdasarkan informasi yang ditemukan dari mayat seorang komandan pemberontak yang tewas pada bulan lalu.

3. Pihak berwenang akan segera menangkap pelaku
Serangan Teror Terjadi di Kashmir, 2 Guru Tewas

Pihak berwenang akan berusaha untuk menangkap para pelaku pembunuhan tersebut. Mereka mengatakan bahwa tindakan terorisme tersebut telah memecah belah kerukunan yang ada di Kashmir. Mereka juga mengatakan bahwa upaya tersebut telah mecoreng nama baik Muslim Kashmir.

“Ini adalah upaya untuk mencemarkan nama baik Muslim lokal Kashmir. Membunuh warga sipil yang tidak bersalah, termasuk guru, adalah langkah untuk menyerang dan merusak tradisi kuno kerukunan dan persaudaraan di Kashmir. Polisi telah mendapatkan beberapa petunjuk dan petunjuk tentang para pembunuh dalam kasus-kasus sebelumnya. Polisi akan segera menangkap para pembunuhnya”, kata Dilbagh Singh, Direktur Jendaral Polisi dikutip dari The Hindu.

New York Times melaporkan bahwa dalam  setahun ini, pihak militant tersebut telah membunuh 27 warga sipil. Tiga di antara mereka adalah Muslim yang dibunuh dalam 10 hari terakhir. Mereka adalah seorang apoteker, supir taksi, dan seorang anggota kelompok pemuda.

Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (“teroris”) layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism: “Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang”. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau di kenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya seperti di kemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati.