Taliban Membuat Aturan Perkuliahan Bagi Para Kaum Perempuan

Taliban Membuat Aturan Perkuliahan Bagi Para Kaum Perempuan

Taliban Membuat Aturan Perkuliahan Bagi Para Kaum Perempuan – Kaum perempuan Afganistan yang membangkang mengadakan unjuk untuk mendesak Taliban menghormati hak-hak perempuan. Para wanita bersedia menerima aturan burkak jika putri mereka masih bisa bersekolah di bawah pemerintahan Taliban.

Pemerintahan Taliban masih meninjau kurikulum perkuliahan sebagai tindak lanjut komitmen kelompok tersebut terkait mengizinkan perempuan Afghanistan untuk berkuliah. Menteri Pendidikan Tinggi Afghanistan, Abdul Baqi Haqqani mengatakan mata kuliah untuk perempuan juga akan ditinjau kembali.

Namun, dia memastikan Taliban tak akan memberlakukan peraturan yang sama seperti 20 tahun lalu, di mana kala itu perempuan dilarang untuk berkuliah. Bahkan, perempuan juga boleh melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana.

1. Perempuan wajib pakai hijab dan belajar di ruang terpisah
Taliban Umumkan Aturan Kuliah bagi Perempuan, Boleh Pascasarjana

Meski begitu, perempuan diperbolehkan kuliah dengan syarat wajib memakai hijab. Namun, belum ada kepastian dari Haqqani apakah perempuan wajib memakai niqb/burka untuk belajar di perguruan tinggi.

Selain itu, segregasi gender juga akan ditegakkan. Artinya, perempuan tak boleh belajar di ruangan yang sama dengan laki-laki, atau minimal disekat dengan tirai. “Kami tidak akan mengizinkan anak laki-laki dan perempuan untuk belajar bersama,” ucap Haqqani.

Selain itu, metode pengajaran juga dapat dilakukan melalui streaming atau saluran TV tertutup.

2. Mahasiswi akan diajar dosen perempuan
Taliban Umumkan Aturan Kuliah bagi Perempuan, Boleh Pascasarjana

Selain itu, nantinya perempuan atau mahasiswi juga akan diajar oleh dosen perempuan. Dia mengatakan banyak tenaga pengajar perempuan yang bisa mengajar para mahasiswi di Afghanistan.

“Alhamdulillah kami memiliki banyak guru perempuan. Kami tidak akan menghadapi masalah dalam hal ini. Segala upaya akan dilakukan untuk mencari dan menyediakan guru perempuan bagi siswa perempuan,” tutur dia.

Namun, jika tak ada dosen perempuan yang tersedia, Taliban mengizinkan dosen laki-laki untuk mengajar dengan syarat mahasiswi harus memakai cadar.

“Kalau memang ada kebutuhan, laki-laki juga bisa mengajar, tapi sesuai syariah, mereka harus menjaga cadar,” ujar Haqqani.

3. Aturan Taliban soal perempuan
Taliban Umumkan Aturan Kuliah bagi Perempuan, Boleh Pascasarjana

Pemerintahan Taliban masih mengizinkan perempuan untuk menjadi presenter, atau tampil dalam saluran berita. Namun, kebijakan ini belum resmi.

Sebelumnya, juru bicara Taliban, Syed Zekrullah Hashmi mengatakan partisipasi perempuan di pemerintahan tidaklah dibutuhkan. Dia mengatakan tugas perempuan adalah melahirkan dan membesarkan anak.

“Tidak perlu perempuan berada di kabinet,” ujar Hashmi.

Selama masa kekuasaan pertama Taliban, sebelum digulingkan oleh invasi pimpinan Amerika Serikat pada tahun 2001, kaum perempuan dan anak perempuan sebagian besar tidak mendapat pendidikan dan pekerjaan. Burkak menjadi wajib di depan umum, wanita tidak bisa meninggalkan rumah tanpa pendamping pria, dan protes jalanan tidak terpikirkan.

Herat, satu kota Jalur Sutra kuno yang dekat dengan perbatasan Iran, telah lama menjadi pengecualian kosmopolitan untuk pusat-pusat yang lebih konservatif, meskipun beberapa wanita sudah mengenakan burkak.

Taliban merebut kekuasaan bulan lalu setelah serangan militer kilat, sedang berdiskusi tentang pembentukan pemerintahan baru. Mereka telah berjanji kepemimpinan mereka akan “inklusif”. Tetapi banyak pihak yang meragukan perempuan akan menemukan tempat di pemerintahan baru Afghanistan.