Warga Jerman Protes Tindakan Pemerintah Atas Perubahan Iklim

Warga Jerman Protes Tindakan Pemerintah Atas Perubahan Iklim

Warga Jerman Protes Tindakan Pemerintah Atas Perubahan Iklim – Partai yang menaungi Kanselir Jerman Angela Merkel, Christian Democratic Union (CDU), secara mengejutkan tertinggal dalam proyeksi awal hasil pemilu. Menurut hasil exit polls atau penghitungan suara berdasarkan wawancara dengan pemilih di tempat pemungutan suara, Partai Sosial Demokrat (SPD) unggul tipis dengan perolehan suara 25,7%, dibandingkan CDU 24,6%.

Puluhan ribu orang di Jerman pada hari Jumat (24/9/2021) mengadakan protes  Fridays for Future, sebuah gerakan untuk meminta pemerintah berbuat lebih dalam menjaga lingkungan dan menangani dampak perubahan iklim.

Protes Fridays for Future pada 24 September juga terjadi di seluruh dunia yang diperkirakan mencakup hingga 80 negara. Namun, dalam aksi unjuk rasa di Jerman dilakukan menjelang pemilu federal pada 26 September dan isu iklim telah menjadi tema sentral dalam kampanye pemilu.

1. Greta Thunberg ikut dalam unjuk rasa di Jerman
Jelang Pemilu, Protes Iklim Terjadi di JermanGreta Thunberg aktivis iklim Swedia (di tengah) bersama dengan aktivis iklim di Jerman melakukan unjuk rasa Fridays for Future pada 24 September 2021. (Twitter.com/Fridays for Future Berlin)

Dalam unjuk rasa di Berlin, Greta Thunberg aktivis muda asal Swedia yang merupakan pelopor gerakan ini hadir di Berlin. Gerakan ini telah dimulai Thunberg sejak tiga tahun lalu yang tidak masuk sekolah setiap hari Jumat untuk melakukan unjuk rasa di depan parlemen Swedia.

Melansir dari DW, Thunberg, berbicara kepada massa di gedung parlemen Jerman di Berlin, dia mengatakan saat ini tidak ada  partai politik yang berbuat banyak dalam memerangi krisis iklim. Dia meminta agar orang-orang menentukan pilihannya dalam pemilu ini, tetapi dia mengigatkan agar orang-orang juga melakukan aksi dengan turun ke jalan.

Selain di Berlin unjuk rasa di Jerman juga berlangsung di berbagai kota termasuk di Hamburg, Freiburg, Cologne, dan Bonn. Luisa Neubauer, yang merupakan ketua Fridays for Future di Jerman, mengatakan gerakan ini untuk memberikan tekanan menjelang pemilu. Dia mengatakan partai-partai politik saat ini masih memandang remeh dampak iklim.

Aktivis muda lainnya, Jana Boltersdorf, mengatakan dia turun ke jalan sebagai penyambung suara bagi mereka yang belum bisa ikut memilih, tapi akan paling terdampak akibat krisis iklim. Carla Reemstma yang juga ikut dalam demonstrasi ini meminta politisi berbuat lebih dalam menurunkan emisi dan menghentikan dana untuk bahan bakar fosil.

Para aktivis lingkungan Jerman menyerukan juga meminta dihentikannya penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik pada tahun 2030, bukan 2038.

2. Kebijakan pemerintah Jerman dianggap belum cukup untuk mengekang emisi
Jelang Pemilu, Protes Iklim Terjadi di Jerman

Melansir dari BBC, dalam sebuah keputusan penting pada bulan April, pengadilan Jerman memutuskan pemerintah dengan undang-undang perubahan iklimnya masih belum berbuat cukup untuk dalam mengekang emisi, mengatakan pemerintah telah membebani kaum muda dengan emisi karbon.

Putusan pengadilan itu telah menempatkan Jerman gagal mencapai target kesepakatan Paris 2015 yang membatasi pemanasan hingga maksimum 2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Jerman pada bulan Juli telah merasakan dampak dari iklim dengan banjir besar melanda yang menewaskan lebih dari 180 orang. Lokasi banjir itu telah dikunjungi oleh Kanselir Angela Merkel, dia meminta penggantinya untuk berbuat lebih banyak untuk mengatasi perubahan iklim.

Partai Hijau yang ikut dalam pemilihan kanselir dianggap sebagai yang paing mendukung lingkungan, tapi dianggap masih belum berbuat lebih. Dalam survei Hijau berada di urutan ketiga meraih sekitar 15 persen suara, sementara dua partai lainnya yang juga maju dalam pemilihan kanselir, Sosial Demokrat meraih 25 persen dan Persatuan Demokrat Kristen sekitar 22 persen.

Unjuk rasa pada hari Jumat telah ditanggapi para kandidat kanselir. Kandidat Hijau, Annalena Baerbock, ikut serta dalam demonstrasi di Cologne, dia mengatakan pemilu kali ini merupakan pemilu iklim, karena semua orang telah turun ke jalan.

Menteri Keuangan Olaf Scholz, yang merupakan kandidat kanselir dari Sosial Demokrat, melalui Twitter memuji gerakan itu, yang telah menempatkan perubahan iklim sebagai agenda utama dalam pemilu kali ini.

Persatuan Demokrat Kristen, partai Merkel, calon kanselirnya Armin Laschet, dia melalui instagram mengatakan Jerman harus menjadi yang tercepat dan lebih baik dalam menangani perubahan iklim.

3. Protes Fridays for Future diselenggarakan di lebih dari 1.500 lokasi di seluruh dunia
Jelang Pemilu, Protes Iklim Terjadi di Jerman

Melansir dari Al Jazeera, protes Fridays for Future secara keseluruhan berlangsung di lebih dari 1.500 lokasi di seluruh dunia. Dalam demonstrasi di Asia dimulai dengan skala kecil di Filipina dan Bangladesh sebelum secara bertahap menyebar lebih luas di negara Asia lainnya.

Di Eropa protes telah meyebar di berbagai negara, termasuk di ibu kota Republik Ceko yang diikuti ratusan mahasiswa dan aktivis lingkungan, sementara di Inggris, aktivis iklim memblokir sementara pelabuhan feri tersibuk di negara yang terletak di Dover.

Protes ini terjadi lima minggu sebelum pertemuan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), COP26 di Glasgow, yang bertujuan untuk membahas tindakan iklim yang lebih luas dari para pemimpin dunia untuk secara drastis mengurangi emisi yang telah meningkatkan suhu di Bumi.

Dalam sebuah laporan mengenai iklim PBB pada bulan Agustus, memperingatkan aktivitas manusia telah memicu krisis iklim selama beberapa dekade, untuk itu diperlukan tindakan cepat dan berskala besar untuk mengurangi emisi masih yang dapat mengurangi beberapa efek yang paling merusak dari perubahan iklim.

Merkel sudah dipastikan akan pensiun setelah 16 tahun memimpin Jerman, dan sedikitnya tiga kandidat bersaing untuk menggantikannya. Tanpa keunggulan mutlak salah satu partai, pemilihan kanselir dan pembentukan pemerintah baru bisa butuh waktu berpekan-pekan karena masing-masing harus bernegosiasi untuk membentuk koalisi.

Pada pemilu 2017, butuh lima bulan untuk membentuk koalisi pemerintah yang dipimpin Merkel. Meskipun demikian, Ketua SPD Olaf Scholz menyampaikan optimisme bahwa dia akan menjadi kanselir baru.