Beberapa Informasi Terkait Kelompok Teroris ISIS Afghanistan

Beberapa Informasi Terkait Kelompok Teroris ISIS Afghanistan

Beberapa Informasi Terkait Kelompok Teroris ISIS Afghanistan – Terorisme  adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta sering kali merupakan warga sipil. Afghanistan yang kembali dikuasai Taliban menyebabkan kekhawatiran terkait ancaman dari kelompok teror.

Meski Taliban tidak berambisi menyeberluaskan ideologinya ke luar Afghanistan, namun kelompok teror seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Afghanistan disebut-sebut mulai muncul ke permukaan. Intelijen Barat memperkirakan ancaman dari Islamic State-Khorasan (ISIS-K) atau ISIS cabang Afghanistan akan segera bangkit, setelah dalam beberapa tahun terakhir mereka dilemahkan oleh Taliban dan militer Amerika Serikat.

Diciptakan enam tahun lalu oleh pejuang idn poker android Taliban asal Pakistan yang tidak puas dengan kepemimpinan Taliban, ISIS-K melancarkan banyak serangan teror di Afghanistan, termasuk serangan bom bunuh diri dan penyerangan ke masjid-masjid beraliran selain Sunni.

1. Bersaing merebut Afghanistan dengan kelompok lainnya
AS Peringatkan Ancaman Teroris ISIS-K di Afghanistan, Apa Itu?

Strategisnya posisi Afghanistan yang terletak di Asia Tengah, ditambah kekayaan mineral yang dimilikinya, membuat wilayah ini menjadi perhatian banyak entitas negara maupun non-negara. Kelompok teroris ISIS melalui cabangnya ISIS-K sudah lama berambisi menguasai seluruh Wilayah Afghanistan. Sayangnya, perjuangan itu semudah yang mereka pikirkan.

Seiring kekalahan ISIS di Irak dan Suriah setelah 2017, ekspansi ISIS-K di Afghanistan juga mengalami kemunduran. Pada saat yang sama, Taliban juga berhasil merebut kembali wilayah yang dikuasai ISIS-K sejak 2019.

Perebutan kekuasaan di Afghanistan yang dinilai dinamis antara, Taliban, Al-Qaeda, Jaringan Haqqani, dan ISIS-K, memberikan efek tersendiri bagi negara tersebut.

Seiring kembalinya kekuasaan Taliban yang baru berumur satu minggu setengah, dapat dipastikan pergolakan kekuasaan di Afghanistan akan mencapai titik puncaknya, sebagaimana setiap kelompok akan berusaha menaklukkan satu sama lain.

2. Didukung ribuan pejuang yang datang dari luar Afghanistan
Kelompok Anti-Taliban Klaim Miliki Ribuan Pejuang Siap Berperang : Okezone  News

Tidak berbeda dengan cabang induknya, anggota-anggota ISIS-K sebagian besar berasal dari luar wilayah Afghanistan. Pemahaman khilafah ISIS yang mendunia, sejak beberapa tahun lalu, menarik simpati kaum muslim yang terindoktrinasi untuk mendatangi Afghanistan sebagai pejuang.

Dilaporkan The New York Times, berdasarkan estimasi yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat sekitar 8.000 sampai 10.000 pejuang asing asal Asia Tengah, Pakistan, Xinjiang, dan Kaukasus Utara memasuki Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir.

Meskipun sebagian besar mendukung kelompok Taliban dan Al-Qaeda, namun laporan tersebut menjelaskan tidak sedikit dari mereka yang bersekutu dengan ISIS-K.

3. Ancaman aktivitas ISIS-K di Afghanistan semakin berbahaya
AS Peringatkan Ancaman Teroris ISIS-K di Afghanistan, Apa Itu?

Proses evakuasi di Bandara Hamid Karzai, Kabul, yang masih berlangsung hari ini ternyata mendapat ancaman serius. Bukan dari Taliban, melainkan dari ISIS-K, berdasarkan laporan Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menjelaskan bahwa ancaman serangan ISIS-K ke Bandara Kabul dalam beberapa hari ke depan dikategorikan sebagai “genting” dan “gigih”, seperti yang dilansir dari The New York Times.

Biden lalu mengatakan, Pemerintah AS serta sekutu sudah memperingatkan semua warganya dan masyarakat Afghanistan untuk tidak mendekati Bandara Kabul selama ancaman ISIS-K terus mengintai.

Untuk sementara waktu, Washington telah menjalin kesepakatan dengan Taliban sepanjang misi evakuasi hingga 31 Agustus 2021. Pasukan Amerika dan sekutunya bertanggung jawab atas keamanan di dalam bandara dan Taliban bertanggung jawab untuk keamanan di luar bandara.

Secara tidak langsung, Biden menyerahkan ancaman ISIS-K kepada Taliban yang menjaga kawasan sekitar Hamid Karzai. Amerika juga menyadari posisi dua kelompok itu, meski menganut agama dan aliran yang sama, tetapi mereka memiliki ideologi dan kepentingan yang berbeda.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism: “Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin  adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang”. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya seperti dikemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati.