Beberapa Sekolah di Nigeria Ditutup Karena Rawan Penculikan

Beberapa Sekolah di Nigeria Ditutup Karena Rawan Penculikan

Beberapa Sekolah di Nigeria Ditutup Karena Rawan Penculikan – Abu Bakar Adam, salah satu orangtua korban penculikan di Nigeria kini hidup dalam kemiskinan karena sudah menjual semua asetnya demi membayar tebusan  pada penculik. Adam yang bekerja sebagai tukang tambal ban sudah kehilangan mobil, tanah dan properti lainnya untuk membebaskan 11 anaknya yang diculik. Anak-anak Adam adalah bagian dari 156 siswa dan guru yang diculik di Sekolah Islam Salihu Tanko, di kota Tegina pada 30 Mei.

Komplotan itu menuntut uang tebusan sebesar N 110 juta untuk pembebasan para korban penculikan. Sejak bulan Desember tahun 2020 lalu, beberapa sekolah di Nigeria disambangi oleh gerombolan bandit bersenjata. Kelompok tersebut melakukan penculikan terhadap para siswa, termasuk beberapa guru, untuk meminta tebusan uang. Angka siswa yang diculik sudah lebih dari 1.000 orang.

Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan siswa sudah dibebaskan karena sekolah dan orang tua mengumpulkan uang untuk membayar tebusan yang diinginkan penculik. Pada hari Rabu (1/9), sebuah sekolah di negara bagian Zamfara kembali disambangi gerombolan bandit bersenjata. Mereka menculik 76 siswa, yang sebagian besar adalah perempuan. Otoritas berwenang sementara menutup semua sekolah di wilayah itu.

1. Sebanyak 73 siswa yang sebagian besar perempuan diculik bandit bersenjata

Nigeria dalam beberapa tahun terakhir menghadapi masalah dengan kelompok militan jihadis, kelompok bandit bersenjata serta beberapa kelompok separatis.

Dari kelompok itu, bandit bersenjata kerap beraksi dan mengancam keamanan penduduk. Mereka sering menculik siswa sekolah untuk meminta uang tebusan.

Pada hari Rabu, di negara bagian Zamfara, sebanyak 73 siswa yang sebagian besar perempuan, diculik oleh kelompok bandit. Melansir Associated Press, sekolah yang disergap adalah Government Day Secondary School di desa Kaya yang terpencil.

Mohammed Shehu, yang menjadi juru bicara polisi negara bagian Zamfara mengatakan bahwa operasi penyelamatan sedang dilakukan.

“Komando telah mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan yang diberi mandat untuk bekerja secara sinergis dengan militer untuk memastikan penyelamatan yang aman dari para siswa yang diculik,” jelas Shehu.

2. Upaya untuk mengganggu operasi para bandit bersenjata mulai dilakukan

Penculikan yang dilakukan oleh kelompok bandit itu terjadi pada tengah hari. Mereka datang membawa sepeda motor dan kendaraan bak terbuka. Selain itu, para bandit juga menembakkan senjatanya ke atas ketika sudah berhasil membawa para siswa.

Melansir kantor berita Reuters, upaya untuk mengekang krisis keamanan penculikan telah dilakukan. Empat negara bagian barat laut Nigeria, termasuk Zamfara, telah melarang penjualan bahan bakar dalam jerigen dan pengangkutan kayu bakar dengan truk serta pasar ternak mingguan ditangguhkan di negara bagian Niger.

Harapannya, larangan itu untuk mengganggu kelompok-kelompok bandit yang biasanya bepergian dengan sepeda motor dan sering berkemah di dalam hutan.

Ayuba Elkanah yang menjadi kepala polisi Zamfara mengimbau warga untuk mematuhi sepenuhnya arahan tersebut. “Pemerintah dan badan-badan keamanan sangat serius berupaya mengakhiri tantangan keamanan yang masih ada di negara bagian”, katanya seperti dikutip Al Jazeera.

3. Semua sekolah di negara bagian Zamfara diperintahkan untuk tutup sementara

Penculikan puluhan siswa pada hari Rabu, terjadi persis setelah 90 siswa dibebaskan penculik usai ditebus di negara bagian Niger. Belum diketahui secara pasti apakah bandit yang beraksi di Zamfara memiliki hubungan dengan di Niger.

Melansir laman BBC, semua sekolah di negara bagian Zamfara untuk sementara ini diperintahkan untuk ditutup. Ibrahim Dosara yang menjabat komisaris informasi negara bagian menjelaskan penutupan dilakukan untuk mencegah serangan lebih lanjut dari gerombolan bandit bersenjata.

Penculikan siswa sekolah di Nigeria, khususnya di wilayah utara masih kerap terjadi meski ribuan personel militer telah dikerahkan. Para bandit bersenjata itu mengadopsi taktik penculikan yang pertama kali digunakan oleh militan jihadis Boko Haram yang beroperasi di bagian timur laut Nigeria.

Perbedaan aksi kriminal itu, jika para militan jihadis menculik untuk mencari generasi penerus pasukannya, sedangkan para bandit bersenjata menculik untuk meminta uang tebusan.

Orang-orang Tegina dikatakan telah mengumpulkan dan membayar N 30 juta tapi para bandit mengatakan uang itu tak cukup. Gani Adams, Aare Ona Kakanfo dari Yorubaland, mengatakan korban penculikan di wilayah barat daya kehilangan lebih dari N 3 miliar untuk bayar uang tebusan, dalam empat tahun terakhir. Sebelumnya, Chukwuemeka Nwajiuba, menteri negara bagian untuk pendidikan, mengatakan pembayaran uang tebusan hanya memicu penculikan.