COP26 Jadi Cara Para Pemimpin Dunia Demi Atasi Krisis Iklim

COP26 Jadi Cara Para Pemimpin Dunia Demi Atasi Krisis Iklim

COP26 Jadi Cara Para Pemimpin Dunia Demi Atasi Krisis Iklim – Krisis iklim adalah istilah yang menggambarkan pemanasan global dan perubahan iklim, beserta akibatnya. Istilah ini telah digunakan untuk menggambarkan ancaman pemanasan global terhadap planet ini, dan untuk mendesak mitigasi perubahan iklim yang agresif.  Konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP26 digadang-gadang menjadi ‘cara terakhir’ para pemimpin dunia untuk mencegah krisis iklim.

Sebelum perhelatan, Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut krisis iklim sebagai ‘tiket satu arah’ menuju bencana kemanusiaan. Dengan kata lain, tidak ada yang sanggup memperbaiki dampak dari kerusakan iklim. Ungkapan senada dilontarkan oleh Paus Fransiskus, yang menganalogikan COP26 sebagai momen untuk menumbuhkan tanggung jawab bersama demi masa depan.

Paus mendesak para pemimpin dunia untuk menghasilkan kebijakan konkret dan radikal demi melindungi bumi. Seiring berjalannya acara di Glasgow, Skotlandia itu, para pemimpin dunia telah membuat kesepakatan bersama. Mulai dari kesepakatan menghentikan deforestasi, komitmen emisi nol bersih, pendanaan dari negara-negara maju bakal negara-negara berkembang, dan perjanjian untuk mengurangi metana.

1. Mencegah kenaikan suhu 2,7 derajat celcius
PBB: Bumi Berada di Jalur Bencana, Suhu 2,7 Derajat Celsius | Internasional

Pada Perjanjian Paris 2015, para pemimpin dunia sepakat untuk membatasi pemanasan di bawah 1,5 derajat celcius. Menurut kalkulasi PBB, untuk menjaga pemanasan di bawah 1,5 derajat celcius, negara-negara perlu mencapai emisi nol bersih pada 2050. Sayangnya, komitmen dekarbonisasi sangat rapuh, bahkan setelah Perjanjian Paris.

Emisi global diprediksi akan meningkat 16 persen pada 2030, sehingga menyebabkan kenaikan suhu bumi 2,7 derajat celcius pada akhir abad ini. Jika hal itu terjadi, maka bumi akan menjadi bencana bagi miliaran umat manusia.

Kendati Amerika Serikat dan China, dua negara penghasil emisi terbesar di dunia, berjanji untuk memenuhi nol bersih pada 2050 atau 2060, laporan terbaru PBB menyampaikan bahwa komitmen iklim yang lemah tidak akan mampu mencegah kenaikan suhu 2,7 derajat celcius abad ini.

2. Mencegah gelombang pengungsi besar-besaran
5 Hal yang Ingin Dicapai di COP26 untuk Hadapi Krisis Iklim

Sejumlah fenomena alam seharusnya lebih dari cukup untuk memperingatkan betapa pentingnya krisis iklim, seperti gelombang panas di AS dan Kanada, banjir bandang di Eropa dan China, serta kebakaran hutan di Yunani dan Turki.

Laporan Bank Dunia terbaru menyimpulkan, 216 juta orang akan dipaksa meninggalkan rumah dan menjadi pengungsi imbas krisis iklim pada 2050. Faktor utamanya adalah kelangkaan air, pertanian yang gagal panen, dan kenaikan permukaan air laut.

Skenario terburuk dari bencana iklim adalah sejumlah kota yang akan tenggalam pada 2050, termasuk Chennai, Mumbai, Jakarta, Guangzhou, Tianjin, Hong Kong, Kota Ho Chi Minh, Shanghai, Lagos, Bangkok, dan Manila. Lebih mengerikan lagi, hampir 55 persen populasi dunia akan menghadapi 20 hari dalam setahun di tengah kondisi panas yang mematikan.

3. Mendorong kemampuan beradaptasi di tengah krisis iklim
5 Hal yang Ingin Dicapai di COP26 untuk Hadapi Krisis Iklim

Sekalipun beberapa negara nantinya berhasil mencapai emisi nol bersih, para ahli mengatakan bahwa manusia harus mulai beradaptasi dengan efek dari perubahan bumi. Manusia harus belajar untuk mengatasi kenaikan permukaan air laut, pengasaman laut, pergeseran pola curah hujan, dan peningkatan suhu.

“Adaptasi dapat berkisar dari membangun pertahanan banjir, menyiapkan sistem peringatan dini untuk topan, dan beralih ke tanaman tahan kekeringan, hingga mendesain ulang sistem komunikasi, operasi bisnis, dan kebijakan pemerintah,” kata badan perubahan iklim PBB.

Perhatian terhadap upaya adaptasi masih sangat minim. Pendanaan dari negara-negara donor dan bank pembangunan multilateral yang didedikasikan untuk adaptasi iklim sekitar 16,7 miliar per tahun, hanya sebagian kecil dari pembiayaan saat ini sekitar 70 miliar dolar AS per tahun.

Biaya adaptasi diproyeksikan meningkat hingga 300 miliar dolar AS pada 2030. Pendanaan untuk adaptasi harus ditingkatkan hingga 50 persen dari total pengeluaran.

“Upaya yang jauh lebih besar diperlukan untuk membangun ketahanan di negara-negara rentan dan untuk orang-orang yang paling rentan. Mereka melakukan paling sedikit untuk menyebabkan perubahan iklim, tetapi menanggung dampak terburuk,” demikian catatan PBB.

4. Mendorong negara kaya untuk mengambil peran lebih
5 Hal yang Ingin Dicapai di COP26 untuk Hadapi Krisis Iklim

Sejumlah ahli memperkirakan, 10-20 tahun ke depan adalah waktu yang sangat krusial untuk mempertahankan keberlangsungan hidup umat manusia.

Guterres mendesak negara-negara kaya, produsen hampir 80 persen emisi gas rumah kaca, memimpin tindakan untuk menghindari bencana iklim. Bentuk bantuannya beragam, mulai dari bantuan pendanaan hingga transfer teknologi bakal negara miskin dan berkembang.

“Menyelamatkan generasi ini dan masa depan adalah tanggung jawab bersama. Kami berada di ambang jurang. Bangun. Mundur. Ubah kursus. Bersatu,” ungkap Guterres.

5. Menjadikan energi terbarukan sebagai komoditas yang murah
Analisis BMKG, Suhu Udara Indonesia Akan Naik 0,9 Derajat dalam 30 Tahun  Halaman all - Kompas.com

Walaupun krisis iklim sudah di depan mata, Guterres meminta dunia agar tetap optimis. Setelah COP26, perangkat teknologi yang mampu mewujudkan emisi nol bersih harus lebih terjangkau.

Teknologi penghasil energi terbarukan, seperti ladang tenaga surya atau angin, harus lebih murah daripada bahan bakar fosil. Produksi massal untuk kendaraan listrik juga harus ditingkatkan.

Solusi berbasis alam untuk menyedot gas rumah kaca juga harus digalakkan, seperti penanaman pohon massal dan restorasi lahan yang gundul.

“Jangan lagi mengabaikan sains. Sudah waktunya bagi para pemimpin untuk berdiri dan memberikan, atau orang-orang di semua negara akan membayar harga yang tragis,” ungkap Guterres.

Istilah ini diterapkan oleh mereka yang “percaya itu membangkitkan gravitasi ancaman yang dihadapi planet ini dari emisi gas rumah kaca yang berkelanjutan dan dapat membantu memacu jenis kemauan politik yang telah lama hilang dari advokasi iklim”.

Mereka percaya bahwa, sama seperti “pemanasan global” menarik lebih banyak keterlibatan emosional dan dukungan untuk tindakan daripada “perubahan iklim”, menyebut perubahan iklim sebagai krisis bisa memiliki dampak yang lebih kuat.