Demonstrasi Besar Melanda Negara Penghasil Minyak Kazakhstan

Kerusuhan di Kazakhstan, Dubes Fadjroel Pastikan Semua WNI Aman

Demonstrasi Besar Melanda Negara Penghasil Minyak Kazakhstan

Demonstrasi Besar Melanda Negara Penghasil Minyak Kazakhstan – Kazakhstan sering di sebut sebagai ” Virgin lands “, karena beberapa wilayahnya belum tersentuh sama sekali. Sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan Rusia, terutama di sebelah utara dan barat. Di sebelah timur, berbatasan langsung dengan Republik Rakyat Tiongkok (provinsi Xinjiang).

Di sebelah selatan berbatasan dengan Uzbekistan, Turkmenistan, Kirgistan dan Laut Kaspia. Di negara ini banyak terdapat etnis Rusia. Tempat peluncuran roket luar angkasa Rusia, Baikonur, juga terletak di Kazakhstan. Kerusuhan besar melanda negara penghasil minyak terbanyak di Asia Tengah, Kazakhstan.

Sedikitnya delapan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka imbas kerusuhan ini. Melansir dari Independent, demonstrasi di Kazakhstan berubah menjadi kerusuhan sejak kemarin. Aksi ini dipicu karena kemarahan warga atas naiknya harga gas minyak cair (LPG).

Keadaan darurat diberlakukan
Kerusuhan di Negara Minyak Kazakhstan karena Harga LPG Naik, 8 Tewas

Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev memberlakukan keadaan darurat di kota terbesar, Almaty dan wilayah barat. Kekacauan diketahui terjadi sejak Selasa malam. Polisi disebut menembakkan gas air mata dan granat kejut untuk memecah kerusuhan yang mulai terjadi. Kerucuhan dipicu karena lonjakan harga LPG lokal. Tak hanya kota Almaty, keadaan darurat juga diberlakukan di wilayah barat yang kaya minyak.

Pemerintah Kazakhstan minta bantuan Rusia
Kerusuhan di Negara Minyak Kazakhstan karena Harga LPG Naik, 8 Tewas

Pasukan militer Rusia akan dikerahkan untuk membantu menstabilkan kondisi demonstrasi di Kazakhstan. Presiden Kazakhstan menyerukan dukungan dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) ketika kerusuhan nasional meingkat. Dalam pidatonya, Presiden Kazakhstan mengaku telah meminta bantuan dari CSTO, aliansi militer yang terdiri dari Rusia dan lima negara bekas Soviet, untuk menstabilkan kondisi di Kazakhstan. Perdana Menteri Armenia yang juga ketua CSTO, Nikol Pashinyan mengonfirmasi akan mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Kazakhstan untuk jangka waktu terbatas.

Protes bermula karena harga LPG naik dan melebar ke urusan politik
Kerusuhan di Negara Minyak Kazakhstan karena Harga LPG Naik, 8 Tewas

Melansir dari BBC, aksi protes pertama kali memang dipicu karena kenaikan harga LGP. Namun, aksi disebut telah meluas dan mencakup keluhan politik lainnya. Tokayev bahkan mengklaim kerusuhan tersebut merupakan tindakan yang dilakukan “geng teroris” yang dilatih di luar negeri.

Namun, pernyataan ini berbeda dengan tanggapan pakar Asia Tengah di lembaha pemikir urusan luar negeri Chatham House di London, Kate Mallinson. “Protes menunjukkan kemarahan dan kebencian yang sangat mendalam dan membawa atas kegagalan pemerintah Kazakhstan untuk memodernisasi negara mereka dan memperkenalkan reformasi yang berdampak pada masyarakat di semua tingkatan,” kata Kate Mallinson mengutip BBC.

Kazakstan memproklamasikan kemerdekaannya pada 16 Desember 1991. Bangsa Kazakh adalah etnik terbesar yang menempati wilayah Kazakstan dan merupakan keturunan dari kabilah Turki dan Mongol. Pada awal abad XVIII, Kazakstan dikuasai Rusia. Pada abad XIX, bersama kawasan di Asia Tengah, toleransi agama Kazakhstan yaitu 70.2% dari keseluruhan Muslim, 26.6% Kristen, 0.1% Buddhis, 0.2% kebanyakan Yahudi, dan 2.8% Atheis, sementara 0.5% memilih untuk tidak menjawab, kemungkinan Kristen dari campuran Rusia atau Eropa.

Ketika revolusi komunis menang di Rusia dan Uni Soviet berdiri, sejak tahun 1920, Kazakstan dijadikan salah satu dari 15 negara yang tergabung dalam Uni Soviet. Seiring dengan bubarnya Uni Soviet, Kazakstan pun memerdekakan diri dan menjadi negara berbentuk Republik. Negara ini memiliki keuntungan secara geografis karena terletak di antara Asia Tengah dan Eropa Timur, sehingga secara geopolitik layak diperhitungkan.