Densus 88 Menangkap Para Teroris Jaringan Jamaah Islamiyah

Densus 88 Menangkap Para Teroris Jaringan Jamaah Islamiyah

Densus 88 Menangkap Para Teroris Jaringan Jamaah Islamiyah – Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba.

Target korban jiwa yang acak serta sering kali merupakan warga sipil. Densus 88 Antiteror Polri kembali menangkap lima orang teroris jaringan Jamaah Islamiyah. Penangkapan dilakukan pada Jumat (20/8/2021).

Kepala Bagian Penerangan idn poker android Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan, mengungkapkan kelima teroris itu ditangkap di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

1. Peran kelima teroris yang ditangkap Densus 88
Densus Tangkap 53 Terduga Teroris yang Akan Beraksi pada HUT ke-76 RI -  News Liputan6.com

Ramadhan mengungkapkan teroris yang ditangkap di Sulsel yaitu MT. Sedangkan yang ditangkap di Sulteng yaitu AR, NL, BL, dan F.

“Perannya menyembunyikan senjata api, barang bukti senjata api telah diamankan oleh Densus,” kata dia.

2. Selama delapan hari, 58 teroris ditangkap
Lagi, Densus 88 Bekuk 5 Teroris Jaringan Jamaah Islamiyah

Penangkapan lima teroris di Sulsel dan Sulteng ini merupakan rangkaian operasi Densus 88. Selama delapan hari, sejak 12 Agustus 2021, sudah ada puluhan teroris ditangkap.

“Total Densus telah menangkap 58 tersangka sejak 12 Agustus 2021,” ungkap Ramadhan.

3. Lima teroris sebelumnya ditangkap di Jatim hingga Maluku
48 Tersangka Teroris Ditangkap Densus, 5 Orang Masih Buron

Sebelumnya, pada 16-17 Agustus 2021, sebanyak lima orang teroris ditangkap. Densus 88 melakukan penangkapan teroris dari kelompok Jamaah Islamiyah itu di sejumlah wilayah Indonesia.

Pada Senin (16/8/2021), Densus 88 menangkap CA dan AF di Jawa Timur, serta SAT di Sulawesi Selatan. Kemudian, pada Selasa (17/8/2021), AMR ditangkap di Sumatera Utara dan NW di Maluku.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism: “Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin  adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang”. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya seperti dikemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati.