Ethiopia Dilanda Banjir & 7 Orang Tewas Terseret Lumpur

Ethiopia Dilanda Banjir & 7 Orang Tewas Terseret Lumpur

Ethiopia Dilanda Banjir & 7 Orang Tewas Terseret Lumpur Sedikitnya tujuh orang meninggal dunia dalam banjir bandang yang melanda ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, Rabu, 18 Agustus 2021. Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Gambar dari ibu kota menunjukkan petugas pemadam kebakaran mengarungi air cokelat untuk memeriksa rumah-rumah yang terendam banjir dan berjalan melalui lumpur dengan tandu untuk mengevakuasi jenazah.

Rumah dan mobil terendam air setelah hujan yang mengguyur beberapa lingkungan Addis Ababa pada hari Selasa, 17 Agustus 2021, menyebabkan kekacauan.  Wali Kota Adanech Abiebie mengatakan di Twitter setelah mengunjungi daerah yang terkena dampak bahwa telah terjadi kerusakan berat yang disebabkan oleh banjir, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Dalam sembilan bulan terakhir, kabar dari Ethiopia hampir selalu tentang konflik idn poker android bagian utara negara tersebut, yakni di region Tigray. Konflik itu sangat mematikan dan telah menewaskan ribuan orang, ratusan ribu lainnya terancam kelaparan dan jutaan penduduk mengungsi. Namun di tengah kabar konflik mematikan yang masih berlanjut, Ethiopia dihantam bencana alam banjir di ibukotanya, yakni Addis Ababa.

1. Petugas damkar seberangi lumpur untuk evakuasi jenazah korban banjir

Sebagai salah satu negara bagian Tanduk Afrika, sebagian besar bagian Ethiopia menerima banyak hujan antara Juni hingga September. Meski begitu, laporan tentang banjir di negara tersebut tidak terlalu sering terjadi.

Hujan deras dalam beberapa hari pekan ini memicu banjir bandang dan longsor di ibukota Addis Ababa. Melansir AFP, petugas pemadam kebakaran yang diturunkan terlihat mengarungi air yang berwarna cokelat untuk memeriksa rumah-rumah yang terendam banjir.

Dalam salah satu gambar menunjukkan, petugas pemadam kebakaran berjalan menyeberangi lumpur dengan tandu untuk mengevakuasi mayat korban banjir tersebut.

Sejauh ini laporan korban jiwa ada tujuh penduduk yang meninggal. Mereka yang terluka dilarikan ke rumah sakit terdekat. Rumah dan mobil juga terendam air dan menyebabkan beberapa kekacauan di beberapa bagian ibukota.

Adanech Abiebie yang menjabat sebagai Wali kota mengatakan di media sosial terjadi kerusakan “berat” setelah ia mengunjungi daerah yang terkena banjir. Meski begitu ia tidak memberikan rinciannya.

2. Proses penyelamatan terus berlangsung dan korban banjir dijanjikan rehabilitasi

Sejak Selasa ketika banjir menerjang beberapa bagian Addis Ababa, kekacauan telah terjadi. Salah satu dampak paling parah menghantam sebuah area Seminari Mekane Yesus, salah satu perguruan tinggi teologi terkenal di negara tersebut.

Dilansir Addis Standard, pihak Seminari Mekane Yesus mengatakan “kami sangat terkejut dan sedih dengan banjir tiba-tiba yang membanjiri kompleks seminari kami (MYS) sore ini yang membuat tempat tinggal para staf (misionaris dan warga negara) tidak dapat digunakan. Semua properti mereka, termasuk dokumen perjalanan (paspor) diambil oleh banjir.”

Adanech Abiebie yang juga mengunjungi Seminari Mekane Yesus mengatakan upaya untuk menyelamatkan ribuan nyawa telah berhasil dilakukan. Operasi penyelamatan masih terus berlangsung dan banyak penduduk yang terjebak di atap rumah telah dievakuasi.

Dia menjanjikan kepada penduduk yang terkena dampak banjir untuk program rehabilitasi. “Kami menyampaikan belasungkawa tulus kami kepada keluarga dan teman-teman dari mereka yang kehilangan nyawa dalam banjir, dan saya meyakinkan Anda bahwa, seperti biasa, pemerintah kota dan penduduk kami akan mendukung Anda dalam segala hal,” katanya.

3. Penduduk diperingatkan untuk tetap waspada

Ancaman cuaca yang buruk sepertinya masih akan terjadi di Addis Ababa. Itu karena dalam beberapa hari ke depan, hujan lebat masih akan turun.

Sebab itulah, Adanech Abiebie mengingatkan “saya mendesak warga untuk mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan di daerah itu karena hujan lebat diperkirakan akan turun dalam beberapa hari mendatang, dan kami akan mengintensifkan upaya kami untuk meningkatkan perlindungan,” jelasnya dikutip Al Jazeera.

Cuaca buruk dalam beberapa hari tersebut, selain menyebabkan banjir juga menyebabkan tanah longsor yang memutus jalur transportasi, yang menghubungkan Addis Ababa dan Gojjam di barat laut.

Menurut Ethiopian Monitor, hujan lebat telah memblokir jalan di daerah bernama Filiklik selama hampir satu minggu. Otoritas berwenang setempat pada Kamis malam mengatakan “sekarang sebagian dipulihkan dan terbuka untuk lalu lintas mulai malam ini,” katanya.

Kendaraan yang akan melintasi jalan tersebut kini dapat menggunakan satu jalur, dari dua jalur yang sebelumnya tertutup longsor. Namun karena baru terbuka satu jalur, kemacetan lalu lintas terjadi.

4. Banjir Mematikan Juga Melanda Cina & Jerman

Banjir di China Tewaskan 33 Orang, Tak Ada WNI Jadi Korban - Global  Liputan6.com

Sebelumnya, banjir mematikan yang melanda China dan Jerman telah memperingatkan kita bahwa perubahan iklim membuat cuaca menjadi lebih ekstrem di seluruh dunia.

Sedikitnya 25 orang di Provinsi Henan, China tengah, tewas pada Selasa (20/7) termasuk belasan orang yang terjebak di kereta bawah tanah kota saat genangan air memenuhi ibu kota wilayah Zhengzhou, yang dpicu oleh hujan deras selama berhari-hari.

Di Jerman, banjir besar menewaskan setidaknya 160 orang dan 31 orang lainnya di Belgia beberapa waktu lalu. Bencana tersebut telah memperkuat pesan bahwa perubahan signifikan harus dilakukan untuk mempersiapkan peristiwa serupa ke depannya.

Di Eropa, perubahan iklim kemungkinan akan meningkatkan jumlah badai besar yang dapat bertahan lebih lama di satu area dan menimbulkan banjir seperti yang terlihat di Jerman dan Belgia, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada 30 Juni dalam jurnal Geophysical Research Letters.

Saat atmosfer menghangat dengan perubahan iklim, ia juga menahan lebih banyak kelembaban, yang berarti bahwa ketika awan hujan muncul, lebih banyak hujan akan datang.

Pada akhir abad ini, badai seperti itu bisa 14 kali lebih sering terjadi, menurut para peneliti dalam sebuah penelitian yang menggunakan simulasi komputer.

Banjir yang merusak sebagian besar bangunan di Jerman barat dan selatan, dan banjir mematikan di China, kedua kasus tersebut menyoroti kerentanan daerah berpenduduk padat terhadap bencana banjir dan bencana alam lainnya.

Sebelumnya, banjir mematikan yang melanda China dan Jerman telah memperingatkan kita bahwa perubahan iklim membuat cuaca menjadi lebih ekstrem di seluruh dunia.

Sedikitnya 25 orang di Provinsi Henan, China tengah, tewas pada Selasa (20/7) termasuk belasan orang yang terjebak di kereta bawah tanah kota saat genangan air memenuhi ibu kota wilayah Zhengzhou, yang dpicu oleh hujan deras selama berhari-hari.

Di Jerman, banjir besar menewaskan setidaknya 160 orang dan 31 orang lainnya di Belgia beberapa waktu lalu. Bencana tersebut telah memperkuat pesan bahwa perubahan signifikan harus dilakukan untuk mempersiapkan peristiwa serupa ke depannya.

Di Eropa, perubahan iklim kemungkinan akan meningkatkan jumlah badai besar yang dapat bertahan lebih lama di satu area dan menimbulkan banjir seperti yang terlihat di Jerman dan Belgia, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada 30 Juni dalam jurnal Geophysical Research Letters.

Saat atmosfer menghangat dengan perubahan iklim, ia juga menahan lebih banyak kelembaban, yang berarti bahwa ketika awan hujan muncul, lebih banyak hujan akan datang.

Pada akhir abad ini, badai seperti itu bisa 14 kali lebih sering terjadi, menurut para peneliti dalam sebuah penelitian yang menggunakan simulasi komputer.

Banjir yang merusak sebagian besar bangunan di Jerman barat dan selatan, dan banjir mematikan di China, kedua kasus tersebut menyoroti kerentanan daerah berpenduduk padat terhadap bencana banjir dan bencana alam lainnya.