Ethiopia Umumkan Darurat Nasional Karena Pemberontak Tigray

Ethiopia Umumkan Darurat Nasional Karena Pemberontak Tigray

Ethiopia Umumkan Darurat Nasional Karena Pemberontak Tigray – Ethiopia mendeklarasikan status darurat selama 6 bulan, usai pasukan pemberontak dari wilayah Tigray mulai merebut sejumlah wilayah dan bergerak menuju ibu kota Addis Ababa.

Pengumuman itu disampaikan dua hari usai Perdana Mentei Abiy Ahmed mendesak warga untuk angkat senjata dan membela diri dari ancaman serangan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).

Sebelumnya, otoritas di Addis Ababa mengatakan kepada warga untuk mendaftarkan senjata mereka dan bersiap melindungi tempat tinggal masing-masing dari potensi serangan.

1. Pelanggar situasi darurat di Ethiopia akan dihukum 10 tahun
Dikenal Negara Termiskin di Dunia, Ethiopia Ikut Perangi Stunting - Health  Liputan6.com

Lebih lanjut, Gedion mengatakan, siapa pun yang melanggar keadaan darurat terancam hukuman 10 tahun penjara. Hukuman juga dijatuhkan kepada siapa saja yang memberikan dukungan finansial, material, atau moral kepada kelompok teroris, merujuk kepada TPLF.

Langkah itu diambil setelah para pejuang Tigray mengancam akan merebut kota-kota strategis, seperti Dessie, Kombolcha, bahkan ibu kota Addis Ababa. Menurut pemerintah, militer saat ini masih berjuang untuk merebut dua kota utama, yang dikuasai TPLF, sekitar 400 kilometer dari ibu kota.

Sementara, sebagian besar wilayah Ethiopia utara berada di bawah pemadaman komunikasi dan akses bagi wartawan dibatasi, sehingga klaim pemerintah soal konflik di wilayah perang sulit diverifikasi.

Pada Selasa (2/11/2021), otoritas Addis Ababa menyatakan kepada penduduk untuk mendaftarkan senjata mereka dalam dua hari ke depan, dan bersiap untuk mempertahankan kota.

2. AS kecam TPLF dan pemerintah yang setop bantuan kemanusiaan
Pemberontak Tigray Ancam Serang Kota Besar, Ethiopia Darurat Nasional!

Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mengirim pasukan ke Tigray pada awal November 2020, setelah TPLF menyerang kamp militer. TPLF menuding pemerintah federal dan sekutunya, termasuk Eritrea, melancarkan serangan terkoordinasi.

Abiy menjanjikan kemenangan cepat, tetapi pada akhir Juni, para pejuang Tigray telah berkumpul kembali dan merebut kembali sebagian besar wilayah. Pertempuran telah menyebar ke daerah tetangga Afar dan Amhara.

Utusan Khusus Amerika Serikat untuk kawasan Afrika, Jeffrey Feltman, mengecam kampanye militer TPLF yang meluas.

“Kami secara konsisten mengutuk perluasan perang TPLF di luar Tigray, dan kami terus menyerukan TPLF untuk mundur dari Afar dan Amhara,” kata Feltman.

“Perluasan perang dapat diprediksi dan tidak dapat diterima, mengingat bahwa pemerintah Ethiopia mulai memotong bantuan kemanusiaan dan akses komersial ke Tigray pada Juni hingga hari ini, padahal kelaparan dilaporkan meluas di sana,” imbuh Feltman.

3. Ribuan orang tewas dan jutaan orang mengungsi akibat konflik
Pemberontak Tigray Ancam Serang Kota Besar, Ethiopia Darurat Nasional!

Secara terpisah, Washington menyampaikan pihaknya akan mencabut hak istimewa perdagangan ke Ethiopia, termasuk akses bebas bea ke ekspor Ethiopia, karena “pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang diakui secara internasional”.

Langkah itu memberikan pukulan baru bagi ekonomi Ethiopia, yang sudah berada di bawah tekanan dari meningkatnya biaya perang dan dampak pandemik COVID-19.

Konflik tersebut memicu krisis kemanusiaan yang telah menyebabkan ratusan ribu orang menghadapi kondisi seperti kelaparan, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ribuan orang tewas dan lebih dari 2,5 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Terakhir kalinya Ethiopia mendeklarasikan status darurat adalah pada Februari 2018. Kala itu, status darurat diterapkan selama enam bulan dalam masa transisi menuju pemerintahan PM Abiy. Jam malam diterapkan, dan pergerakan warga dibatasi, sementara ribuan orang ditangkap selama masa darurat tersebut.

Konflik terbaru di Ethiopia telah membuat sekitar 400 ribu orang di wilayah Tigray terjerembab ke dalam kemiskinan. Konflik Tigray juga telah menewaskan ribuan warga sipil dan memaksa 2,5 juta lainnya melarikan diri ke arah utara.