Facebook Melarang Semua Konten yang Berkaitan dengan Taliban

Facebook Melarang Semua Konten yang Berkaitan dengan Taliban

Facebook Melarang Semua Konten yang Berkaitan dengan Taliban – Facebook mengonfirmasi pihaknya akan tetap melarang konten berkaitan dengan Taliban di platformnya karena telah menetapkan kelompok tersebut sebagai organisasi teroris. Perusahaan ini mengatakan pihaknya memiliki tim pakar Afghanistan untuk memantau dan menghapus konten berkaitan dengan kelompok tersebut.

Selama bertahun-tahun Taliban menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesannya. Raksasa media sosial, Facebook, memutuskan melarang semua konten yang berkaitan dengan kelompok Taliban dalam keputusannya pada hari Senin, 16 Agustus 2021, waktu setempat.

Jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban menjadi tantangan baru baru perusahaan teknologi bagaimana mengelola konten berkaitan dengan kelompok itu. Dirangkum dari idn poker apk Media sosial tersebut menilai kelompok Taliban merupakan kelompok teroris. Bagaimana awal ceritanya?

1. Akan tetapi, anggota Taliban dilaporkan terus menggunakan media sosial seperti Facebook dan WhatsApp 
Facebook Larang Semua Postingan yang Terkait Taliban

Dilansir dari Channelnewsasia.com, pengambilalihan cepat oleh kelompok Taliban di Afghanistan menimbulkan tantangan baru bagi perusahaan teknologi besar Amerika Serikat dalam menangani konten yang dibuat oleh kelompok yang dianggap teroris oleh beberapa pemerintah dunia. Akan tetapi, anggota Taliban dilaporkan terus menggunakan layanan media sosial seperti Facebook dan WhatsApp untuk berkomunikasi langsung dengan warga Afghanistan meskipun perusahaan melarangnya berdasarkan aturan terhadap organisasi berbahaya.

Seorang juru bicara Facebook mengatakan perusahaan Facebook memantau dengan cermat situasi di negara itu dan bahwa WhatsApp akan mengambil tindakan pada setiap akun yang ditemukan terkait dengan organisasi yang terkena sanksi di Afghanistan, yang dapat mencakup penghapusan akun. Facebook sendiri mengatakan tidak membuat keputusan mengenai pengakuan pemerintah nasional melainkan mengikuti otoritas komunitas internasional.

2. Pihak Twitter tidak mengizinkan kelompok yang mempromosikan bentuk terorisme  
Facebook Larang Semua Postingan yang Terkait Taliban

Di Twitter, juru bicara Taliban dengan ratusan ribu pengikut telah membuat cuitan pembaruan selama pengambilalihan negara itu. Ditanya tentang penggunaan platform oleh Taliban, perusahaan tersebut menunjukkan kebijakannya terhadap organisasi kekerasan danperilaku kebencian tetapi tidak menjawab pertanyaan mengenai bagaimana membuat klasifikasinya. Aturan Twitter mengatakan tidak menguzinkan kelompok yang mempromosikan terorisme atau kekerasan terhadap warga sipil.

Kembalinya Taliban telah menimbulkan kekhawatiran akan menindak kebebasan berbicara dan HAM, terutama hak-hak perempuan, serta bahwa Afghanistan bisa menjadi surga sekali lagi bagi terorisme global. Para pejabat Taliban telah mengeluarkan pernyataan yang mengatakan mereka menginginkan hubungan internasional yang damai dan telah berjanji untuk melindungi warga Afghanistan. Perusahaan media sosial besar tahun ini membuat keputusan penting dalam menangani pemimpin dunia serta kelompok yang berkuasa.

3. Perbedaan sikap di antara perusahaan teknologi menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak seragam
Facebook Larang Semua Postingan yang Terkait Taliban

Sebelumnya, Facebook mendapatkan kritik karena gagal memerangi ujaran kebencian di Myanmar dan perusahaan tersebut seringkali bergantung pada penunjukan negara atau pengakuan internasional resmi untuk menentukan siapa yang diizinkan di situ mereka. Ini juga membantu menentukan siapa yang mungkin diverifikasi, akun resmi negara yang diizinkan atau mungkin menerima perlakuan khusus untuk pidato yang melanggar aturan karena kelayakan berita atau celah kepentingan publik. Namun, perbedaan di antara sikap perusahaan teknologi menunjukkan bahwa pendekatannya tidak seragam.