Hubungan Antara Negara Prancis dan Aljazair Mulai Diperbaiki

Hubungan Antara Negara Prancis dan Aljazair Mulai Diperbaiki

Hubungan Antara Negara Prancis dan Aljazair Mulai Diperbaiki – Aljazair Prancis dari tahun 1830 hingga tahun 1962, di bawah berbagai sistem pemerintahan. Dari tahun 1848 hingga kemerdekaan, wilayah Mediterania seluruh Aljazair diberikan sebagai bagian integral dari Prancis, seperti Corsica dan Réunion yang sampai hari ini.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis, Jean-Yves Le Drian, kembali dari Aljazair setelah mengadakan pertemuan untuk memperbaiki kembali hubungan kedua negara tersebut. Seorang diplomat menyebut langkah ini sebagai upaya untuk membuka lembaran baru bagi hubungan keduanya.

Hubungan antar keduanya memanas dalam beberapa bulan terakhir dan yang paling parah pada Oktober usai presiden Emmanuel Macron mempertanyakan apakah negara Aljazair sudah ada sebelum kolonisasi Prancis. Pemicu konflik lainnya adalah karena pemerintah Aljazair telah menulis ulang sejarah yang didasarkan atas kebencian terhadap mantan penjajahnya itu.

1. Menlu Prancis disambut presiden Aljazair
Akhiri Ketegangan, Prancis-Aljazair Mulai Perbaiki Hubungan

Kunjungan mendadak Menlu Prancis pada Rabu dimaksudkan untuk menghapus kesalahpahaman dan mengupayakan pembicaraan secara baik-baik dengan pemerintah Aljazair terkait situasi hubungan keduanya.

Le Drian disambut langsung oleh presiden Aljazair, Abdelmadjid Tebboune, dan mulai melakukan dialog secara terbuka. “Tak satupun dari kita yang dapat membiarkan situasi ini terus berlanjut, dan ada keinginan untuk kembali memperbaiki hubungan kita dan menyelesaikan masalahnya.

Itu adalah kunjungan yang tidak menutup periode rumit hubungan Prancis-Aljazair yang kita jalani, tetapi sebuah lembaran baru telah dimulai,” kata seorang diplomat yang menolak disebut namanya, dikutip dari Reuters.

2. Krisis hubungan Aljazair dan Prancis
Akhiri Ketegangan, Prancis-Aljazair Mulai Perbaiki Hubungan

Aljazair terlibat dalam perang selama enam tahun untuk merebut kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1954-1962 setelah dijajah selama satu abad.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan keduanya cukup baik namun kembali memburuk setelah Prancis secara tajam membatasi visa bagi orang-orang dari Afrika Utara karena pemerintah di sana menolak untuk menerima kembali para migran yang menolak suaka di Prancis.

Aljazair juga marah akibat komentar yang dilayangkan oleh Presiden Macron mengenai sejarah pra-kolonial dan sistem pasca kolonial di negara Afrika itu. Sebagai tanggapan, Aljazair menolak izin Prancis untuk menerbangkan pesawat militer di wilayah udaranya, mengumumkan penarikan duta besarnya dari Paris, dan menuduh Prancis melakukan genosida selama era kolonial.

3. Keduanya memutuskan untuk kembali melanjutkan hubungan
Akhiri Ketegangan, Prancis-Aljazair Mulai Perbaiki Hubungan

Melansir AP News, Paris telah mulai memperbaiki hubungannya dengan Aljazair sejak bulan lalu ketika delegasinya mengatakan bahwa Macron menyesali kontroversi dan kesalahpahaman yang dihasilkan dari komentarnya.

Setelah pembicaraan pada Rabu, presiden Aljazair memutuskan Kedua pihak telah sepakat untuk melanjutkan kerjasama bilateral dan menghilangkan hambatan di antara keduanya.

Sementara itu, laporan Reuters menyebut bahwa Aljazair belum mengizinkan penerbangan militer di wilayahnya. Namun, penerbangan untuk tujuan medis dan evakuasi darurat pasukan Prancis dari Mali sudah diizinkan.

Pedalaman yang tandus dan luas di Aljazair, seperti sisa Prancis Afrika Utara, tidak pernah dianggap sebagai bagian dari Prancis. Salah satu wilayah luar negeri yang menjadi wilayah kekuasaan Prancis, Aljazair menjadi tujuan bagi ratusan ribu imigran Eropa, yang dikenal sebagai kolon dan kemudian, sebagai pied-noir.