Inilah Ancaman Jepang Kepada Junta Militer Myanmar

Inilah Ancaman Jepang Kepada Junta Militer Myanmar

Inilah Ancaman Jepang Kepada Junta Militer Myanmar – Data junta menyebut ada 248 pengunjuk rasa tewas, termasuk 16 petugas polisi. Hal ini membantah laporan lembaga terkait tahanan politik AAPP. Lembaga itu menyebut 598 orang telah dibunuh sejak kudeta terjadi 1 Februari lalu, di mana 2.847 orang ditahan.

Sementara itu, dari laporan sejumlah media lokal, junta makin gencar menangkap mereka yang menolak pemerintahan militer. Bukan hanya aktivis, dokter, pemuka agama dan selebriti juga ditahan. Terbaru, pemerintah bahkan mengeluarkan 120 daftar pesohor negeri yang buron.

Salah satu aktor top Myanmar, Paing Takhon, juga digelandang aparat. Jepang mengancam akan membekukan seluruh bantuan Live22 luar negerinya kepada Myanmar, apabila junta militer tetap menggunakan kekerasan terhadap gerakan sipil anti-kudeta. Dilansir Channel News Asia, Jepang merupakan negara pendonor utama bagi Myanmar.

1. Salah satu upaya untuk menekan Myanmar
Jepang Ancam Setop Bantuan kepada Myanmar Kalau Junta Militer Bandel

Sejak kudeta dilancarkan oleh fraksi militer yang dipimpin oleh Jenderal Min Aung Hlaing, kekerasan terhadap warga sipil tak kunjung berhenti, bahkan setelah pertemuan dengan para pemimpin Asia Tenggara yang menghasilkan konsensus lima poin pada 24 April 2021 silam.

Motegi menjelaskan, ancaman Jepang kepada Myanmar adalah keberpihakan Negeri Sakura terhadap nilai-nilai demokrasi.

“Sebagai negara yang mendukung demokratisasi Myanmar dengan berbagai cara, dan sebagai sahabat, kita harus mewakili masyarakat internasional dan menyampaikannya dengan jelas,” tambah dia.

2. Nilai bantuan Jepang pada 2019 mencapai Rp24 triliun
Jepang Ancam Setop Bantuan kepada Myanmar Kalau Junta Militer Bandel

Pada Maret, satu bulan setelah kudeta, Jepang mengumumkan penghentian semua bantuan untuk Myanmar. Kendati begitu, hingga saat ini Jepang belum menjatuhkan sanksi individu kepada komandandan militer dan polisi, sebagaimana telah diterapkan beberapa negara lain. Motegi menyebut Jepang sebagai penyedia bantuan ekonomi terbesar bagi Myanmar, dan Tokyo memiliki hubungan jangka panjang dengan militer negara itu.

Menurut Nikkei, bantuan pembangunan yang diberikan Jepang mencapai 1,74 miliar dolar Amerika Serikat (Rp24,9 triliun) pada 2019. Nilai itu menjadikan Jepang sebagai negara donor terbesar, dengan catatan Tiongkok tidak mempublikasikan besaran bantuannya.

3. Jurnalis Jepang sempat jadi korban junta
Jepang Ancam Setop Bantuan kepada Myanmar Kalau Junta Militer Bandel

Selain meyerang warga sipil, junta juga menargetkan jurnalis atas tuduhan penyebaran berita bohong. Salah satu korbannya adalah jurnalis Jepang yang sempat ditangkap karena meliput kudeta. Beruntungnya dia telah dibebaskan pekan lalu dan dipulangkan ke Tokyo. Pembebasan jurnalis tersebut dilakukan ketika Jepang menawarkan bantuan darurat sebesar 4 juta dolar Amerika Serikat (Rp57 miliar) kepada Myanmar melalui Program Pangan Dunia.

Motegi mengaku menjalin komunikasi intensif dengan Myanmar, sebagai upaya menghentikan kekerasan yang telah menewaskan lebih dari 800 orang. “Kami memiliki lebih banyak variasi saluran di Myanmar, termasuk dengan militer, daripada Eropa dan Amerika Serikat,” katanya.

yanmar adalah negara yang kaya dengan giok, batu permata, minyak bumi, gas alam, dan mineral lain. Ketimpangan pendapatan di Myanmar adalah salah satu yang terlebar di dunia, karena sebagian besar ekonomi dikuasai oleh sebagian orang yang disokong militer. Per 2016, Myanmar menempati posisi 145 dari 188 negara di dunia menurut Indeks Pembangunan Manusia.