Inilah Operasi Penyelamat oleh Militer AS di Negara Konflik

Inilah Operasi Penyelamat oleh Militer AS di Negara Konflik

Inilah Operasi Penyelamat oleh Militer AS di Negara Konflik – Konflik sedang terjadi di mana-mana, baik di negara Eropa, Asia, maupun Afrika. Perang paling brutal terjadi sepanjang 2014. Korban terus berjatuhan dan menewaskan puluhan ribu orang tak bersalah. Sejumlah sumber, termasuk militer Amerika Serikat (AS), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Observatorium untuk Hak Asasi Manusia, terus menghitung negara yang korbannya paling banyak.

Sebagai negara dengan kemampuan militer terbaik di dunia, bukan rahasia lagi jika Amerika Serikat (AS) selalu siap untuk mengevakuasi masyarakat sipilnya dari negara konflik. Pengalaman bertahun-tahun yang telah mereka dapatkan dari berbagai negara, sekarang tampaknya akan dilakukan kembali, secara khusus di Afghanistan. Pemerintah AS di bawah administrasi Joe Biden sangat khawatir dengan sepak terjang Taliban di Afghanistan.

Hal itu menyebabkan Gedung Putih mengirim kembali 3.000 prajuritnya ke Afghanistan untuk membantu proses idn poker android evakuasi staf diplomatik maupun warga negara AS yang berada di Kabul. Operasi penyelamatan sipil seperti ini biasanya menandakan pemerintahan atau pihak yang telah lama didukung Washington di negara konflik akan takluk dalam waktu dekat.

1. Operasi Frequent Wind (Vietnam)
Ini 3 Operasi Penyelamatan Sipil Militer AS dari Negara Konflik

Ketika Vietnam masih dilanda perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, AS sebagai pendukung utama Militer Vietnam Selatan terpaksa harus melakukan evakuasi besar-besaran dari Ibu Kota Vietnam Selatan, Saigon.

Gerak laju Pasukan Vietnam Utara yang tidak dapat dihentikan dan sudah memasuki Wilayah Vietnam Selatan menyebabkan kepanikan besar bagi AS dan kalangan Masyarakat Vietnam yang anti-komunis.

Mengetahui Kota Saigon akan jatuh ke tangan Pasukan Vietnam Utara, pada 29 April 1975 Pemerintah AS dengan kode Operasi Frequent Wind mengerahkan aset udaranya untuk mengevakuasi personel diplomatik, warga negara AS, penduduk Vietnam, dan warga asing lainnya dari Saigon ke beberapa kapal induk AS yang sudah ditempatkan di Laut Tiongkok Selatan, seperti dilansir dari laporan Kementerian Pertahanan AS.

Dalam waktu yang sangat mepet, militer AS berhasil mengevakuasi lebih dari 7.000 orang. Tepat pada 30 April 1975, ketika helikopter terakhir yang mengangkut Pasukan Marinir AS keluar dari Saigon, terlihat dengan jelas Pasukan Vietnam Utara sudah memasuki Kota Saigon dan secara resmi mengakhiri Pemerintahan Vietnam Selatan.

2. Operasi Eagle Pull (Kamboja)
Ini 3 Operasi Penyelamatan Sipil Militer AS dari Negara Konflik

Sama seperti Vietnam, perang saudara juga berkecamuk di Kamboja antara Republik Khmer (non-komunis) melawan Khmer Merah (komunis) yang dipimpin oleh Pol Pot. Setelah bertahun-tahun intervensi di Kamboja, AS harus menelan pil pahit karena untuk kesekian kalinya mereka kalah dengan pasukan komunis.

Dilaporkan situs resmi Vietnam War Commeration, pada 12 April 1975 atau beberapa minggu sebelum kejatuhan Vietnam, AS mengumumkan evakuasi besar-besaran terhadap seluruh warga negara AS dan warga asing yang berada di ibu kota Kamboja,

Warga Negara AS dan warga negara asing yang berada di Ibu Kota Kamboja, Phnom Penh, dengan kode Operasi Eagle Pull. Menggunakan aset udara yang mereka miliki, AS berhasil mengevakuasi sekitar 276 orang, termasuk Duta Besar AS untuk Kamboja, John Gunther Dean, dan Presiden Republik Khmer, Saukham Khoy, keluar dari Phnom Penh menuju Kapal Induk USS Okinawa dan USS Hancock yang sedang berlayar di Laut Tiongkok Selatan.

Tanpa adanya korban jiwa, Operasi Eagle Pull dicap sebagai salah satu operasi evakuasi paling sukses yang dilakukan AS. Tepat saat helikopter terakhir meninggalkan Phnom Penh, intervensi AS di Kamboja resmi berakhir dan Khmer Merah berhasil menguasai Kamboja.

3. Operasi Fluid Drive (Lebanon)
Ini 3 Operasi Penyelamatan Sipil Militer AS dari Negara Konflik

Gejolak di Lebanon karena krisis etnis, agama, dan kekuasaan membuat negara tersebut tersulut perang saudara pada 1975. Perang saudara ini berawal dari Beirut kemudian menyebar ke seluruh Lebanon. Konflik itu memaksa sejumlah pihak, seperti Israel, Suriah, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terpaksa turun tangan hingga 1990.

Dikutip dari The New York Times, dikarenakan kondisi di Lebanon, secara khusus Kota Beirut yang semakin mengkhawatirkan kala itu, pada 20 Juni 1976 AS mengizinkan Operasi Fluid Drive untuk mengevakuasi seluruh warga negara AS dan warga asing dari Kota Beirut melalui jalur laut. Setidaknya 236 orang berhasil dievakuasi dari Beirut menaiki Kapal AL Amerika Serikat, USS Spiegal Grove.

Meskipun terdapat ribuan warga negara AS di Lebanon, sekitar 1.800 di antaranya memutuskan untuk tidak ikut dievakuasi melalui kapal, lebih memilih untuk menggunakan jalur darat menuju Suriah atau negara tetangga lainnya, bahkan ada yang sepakat untuk tetap tinggal di Lebanon.

Rata-rata 46 bom telah dijatuhkan di negara lain per hari oleh Amerika Serikat dan sekutunya sejak 2001. Seperti dilaporkan Xinhua, Minggu (7/3), data itu diungkap penelitian terbaru oleh kelompok anti-perang CODEPINK.

Menurut penelitian Medea Benjamin dan Nicolas J.S. Davies dari kelompok yang berbasis di AS, yang diterbitkan Kamis (4/3) di situs Common Dream, Amerika Serikat dan sekutunya telah menjatuhkan setidaknya 326.000 bom dan rudal di negara lain sejak 2001, termasuk lebih dari 152.000 di Irak dan Suriah.

Selain itu, data juga belum termasuk bom atau rudal yang digunakan dalam serangan helikopter, serangan senjata AC-130, pemberontakan dari pembom AS, atau operasi kontra-pemberontakan atau kontra-terorisme di bagian lain dunia, kata penelitian tersebut.