Kepala Intelijen Inggris Sebut Ada 4 Ancaman Utama Negaranya

Kepala Intelijen Inggris Sebut Ada 4 Ancaman Utama Negaranya

Kepala Intelijen Inggris Sebut Ada 4 Ancaman Utama Negaranya – MI6, yang dikenal juga dengan Dinas Intelijen Rahasia (Secret Intelligence Service,  SIS), adalah badan intelijen eksternal Britania Raya. Dinas ini bekerja di bawah arahan Komite Intelijen Gabungan (Joint Intelligence Committee, JIC), dan bekerja sama dengan Dinas Keamanan (Security Service, MI5), Markas Komunikasi Pemerintah (Government Communications Headquarters, GCHQ) dan Staf Intelijen Pertahanan (Defence Intelligence Staff, DIS).

Richard Moore, kepala Dinas Intelijen Inggris (SIS), atau yang terkenal dengan sebutan MI6, pada hari Selasa (30/11/21) mengatakan ada empat ancaman utama negaranya. Empat ancaman tersebut adalah China, Rusia, Iran dan terorisme internasional. Empat elemen tersebut, selain ancaman terbesar bagi Inggris juga disebut sebagai ancaman bagi sekutunya. Dalam pidato pertama sejak jadi kepala MI6 pada Oktober 2020, Moore mengatakan bahwa China adalah “prioritas tunggal terbesar.” Menurutnya, China adalah negara otoriter dengan nilai yang berbeda dengan Barat.

Saat ini, salah perhitungan dalam langkah yang dilakukan Beijing, akan dapat memicu perang. MI6 adalah Secret Intelligence Service (SIS) yang bekerja mengumpulkan intelijensi di luar Inggris untuk mendukung kebijakan keamanan, pertahanan, luar negeri, dan ekonomi pemerintah.  Selain MI6 ada lembaga intelijen Inggris lain yakni MI5. Lembaga ini bertanggung jawab untuk melindungi Inggris Raya, warga negaranya, dan kepentingannya, di dalam dan luar negeri, dari ancaman terhadap keamanan nasional.

1. Salah perhitungan China bisa sebabkan perang

Dalam pandangan Richard Moore, China sebagai negara otoriter telah melakukan “operasi spionase skala besar” terhadap Inggris dan sekutunya. Moore juga mengatakan bahwa Beijing mengekspor teknologi yang memungkinkan “jaringan kontrol otoriter” di seluruh dunia.

Dilansir Associated Press, “kekuatan militer Beijing yang berkembang dan keinginan partai (Komunis China) untuk menyelesaikan masalah Taiwan, dengan kekerasan jika perlu, juga merupakan tantangan serius bagi stabilitas dan perdamaian global,” ujar Moore.

Penjelasan yang dikeluarkan oleh Richard Moore, juga menyinggung ketegangan terbaru dalam masalah Taiwan. Pulau yang memerintah sendiri sejak tahun 1949 itu, diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya.

Taiwan menolaknya dan berusaha untuk berpisah dengan China daratan, bahkan jika perlu meraih kemerdekaan. Seperti pernyataan terbaru dari Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen, negara-negara Balkan berpisah dari Soviet, dan Taiwan akan berpisah dari China.

AS telah berjanji akan mendukung Taiwan jika diserang oleh China lewat agresi militer. Sekutu AS lainnya, juga telah mengutarakan dukungannya ke AS, jika Taiwan terancam invasi Beijing.

Moore mengatakan “Beijing percaya propagandanya sendiri tentang kelemahan Barat dan meremehkan tekad Washington. Risiko salah perhitungan China karena terlalu percaya diri adalah nyata.”

2. Moore sayangkan hubungan buruk Inggris dengan Rusia

Richard Moore telah bergabung dengan MI6 lebih dari 30 tahun. Tapi sebagian hidup masa kecilnya dihabiskan di Moskow pada tahun 1960-an, ketika ayahnya bekerja dan ditempatkan di Uni Soviet. Saat ini, Soviet yang terpecah dan menjadi Rusia, telah terlibat ketegangan dengan Ukraina, salah satu negara pecahannya yang mendapat dukungan dari Barat. Inggris juga pihak yang mendukung Ukraina.

Dalam pidatonya di Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) pada Selasa, Reuters mengutip pernyataannya. Disebutkan, Moore mengatakan “Saya sangat menghormati sejarah, budaya, dan masyarakat Rusia. “Hubungan yang sulit saat ini dengan Rusia bukanlah yang diinginkan Inggris. Tetapi kami akan melakukan apa pun untuk menjaga keamanan negara kami dan untuk mencegah dan mempertahankan diri dari spektrum penuh ancaman yang ditimbulkan oleh Moskow,” jelas Moore.

London telah menuduh Moskow berada dibelakang insiden upaya pembunuhan mantan mata-mata Sergei Skripal pada tahun 2018 lalu di Inggris. Moore juga mengatakan bahwa Rusia telah meningkatkan serangan siber dan mengganggu proses demokrasi negara lain.

3. Dinas intelijen harus bekerja dengan perusahaan teknologi untuk tangkal ancaman

Iran dan terorisme internasional juga dimasukkan sebagai dua dari empat ancaman terbesar Inggris dan sekutu oleh Moore. Iran terkait dengan senjata nuklir dan terorisme internasional menurut Moore, masih menjadi ancaman bagi banyak negara, termasuk Inggris.

Dalam laman resmi CPNI (Centre for Protection of National Infrastructure), disebutkan beberapa ancaman bagi Inggris dan salah satunya adalah senjata pemusnah massal termasuk nuklir, senjata biologi dan kimia.

Dalam pandangan Richard Moore, saat ini, fokus pada dunia digital adalah salah satu yang utama. Serangan siber adalah perang baru yang akan terjadi beberapa dekade ke depan. Dinas intelijen seperti MI6, harus bekerja sama dengan perusahaan teknologi guna menangkal ancaman, katanya dikutip Sky News.

“Mereka (musuh-musuh Inggris) tahu bahwa menguasai teknologi ini akan memberi mereka pengaruh. Sebuah dinas intelijen perlu berada di garda depan dari apa yang dimungkinkan secara teknologi,” ujar kepala MI6 itu.

Upaya untuk menciptakan teknologi baru sebagai penangkal ancaman, tidak dapat dilakukan sendiri oleh MI6. Karena itu, menurut Moore “kita harus lebih terbuka untuk dapat tetap rahasia.”

Sebagai direktur ditunjuklah Mansfield George Smith Cumming, atau yang lebih dikenal dengan “C”. Awalnya, keberadaan dinas rahasia ini benar-benar dirahasiakan dari publik, hanya Perdana Menteri Britania Raya dan pejabat tertentu saja yang tahu. Pemerintah selalu menyangkal keberadaannya, walau dinas rahasia ini selalu menggunakan anggaran negara sebesar £ 70 juta per tahun.

Prestasi para agen MI6 ini terbilang cemerlang. Sejumlah operasi intelijen kontra Jerman dan Rusia sukses dijalankan pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Terutama pada Perang Dunia I, saat MI6 dipimpin spymaster  Mansfield Smith Cumming. Berulangkali mereka berhasil mengalahkan Jerman.

Dilansir BBC, “kemajuan dalam rekayasa kuantum dan biologi rekayasa akan mengubah seluruh industri” dan untuk mengembangkan teknologi baru sebagai penangkal, MI6 tidak bisa berjalan sendirian seperti layaknya dalam film James Bond.