Korea Utara Kembali Meluncurkan Sebuah Rudal Balistik Kedua

Korea Utara Kembali Meluncurkan Sebuah Rudal Balistik Kedua

Korea Utara Kembali Meluncurkan Sebuah Rudal Balistik Kedua

Korea Utara Kembali Meluncurkan Sebuah Rudal Balistik Kedua – Korea Utara kembali membuat negara tetangga was-was setelah melakukan uji coba peluru kendali dalam dua pekan terakhir. Uji coba rudal yang dilakukan negeri pimpinan Kim Jong-un itu kerap memicu kecaman dan rasa khawatir terutama dari sekutu Amerika Serikat di kawasan seperti Jepang dan Korea Selatan.

Meski tercekik sanksi internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejumlah pengamat menuturkan sistem rudal Korut terus berkembang. Korea Utara dilaporkan kembali meluncurkan sebuah rudal balistik dan merupakan yang kedua kalinya dalam pekan ini. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) mengatakan, rudal diluncurkan dari pedalaman Korea Utara ke laut timurnya dan terdeteksi.

Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) masih menganalisis peluncuran rudal tersebut. Menurut pangkalan AS di Guam, peluncuran itu dinilai tidak mengancam secara langsung terhadap kepulauan tersebut, seperti yang dikutip dari AP. Lebih lanjut, JCS menekankan bahwa militer Korea Selatan akan selalu siap memantau peluncuran tambahan di bawah kerja samanya dengan AS.

Perdana menteri Jepang menyayangkan tindakan Korea Utara 
Lagi, Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Kedua

Dilansir Japan Times, tindakan uji coba rudal balistik tersebut disayangkan oleh Perdana Menteri (PM) Jepang, Fumio Kishida. Dia mengatakan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru saja mengadakan diskusi terkait bagaimana menanggapi peluncuran rudal pekan lalu.

Ksihida menambahkan bahwa pihaknya terus melakukan analisa terhadap perkembangan peluncuran rudal tersebut. Peluncuran baru-baru ini dilakukan usai enam negara termasuk Jepang dan AS mendesak Korea Utara untuk menghentikan tindakan destabilisasinya dalam sebuah pernyataan bersama.

“Kami berdiri hari ini bersatu dalam kecaman kami terhadap peluncuran rudal terbaru DPRK, yang akan segera dibahas Dewan Keamanan. Peluncuran rudal balistik 5 Januari DPRK merupakan pelanggaran nyata terhadap beberapa resolusi Dewan Keamanan,” kata keenam negara dalam pernyataan bersama yang dirilis 10 Januari 2022.

Sebuah ancaman regional
Lagi, Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Kedua

Dilansir Reuters, duta besa (Dubes) AS, Linda Thomas-Greenfield, dalam pernyataannya mengatakan, tindakan Korea Utara tersebut meningkatkan risiko salah perhitungan dan eskalasi serta ancaman signifikan terhadap stabilitas regional.

Dia menambahkan, uji coba semacam itu tidak hanya meningkatkan kemampuan Korea Utara, tetapi juga memperluas apa yang dapat ditawarkannya kepada klien dan dealer senjata ilegal di seluruh dunia. Dia juga menuduh Korea Utara melakukan investasi militer dengan mengorbankan kesejahteraan rakyatnya.

Resolusi Dewan Keamanan PBB telah melarang semua uji coba rudal balistik dan nuklir oleh Korea Utara, dan telah menjatuhkan sanksi atas program tersebut. Dubes Greenfield mengulangi seruan bagi negara-negara di seluruh dunia untuk menegakkan sanksi agar Korea Utara kembali berunding dan meninggalkan program nuklirnya.

“Tujuan kami tetap denuklirisasi Semenanjung Korea yang lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah,” kata Greenfield.

Uji coba dilakukan setelah gagalnya negosiasi dengan AS
Lagi, Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Kedua

Peluncuran rudal pada bulan ini mengikuti serangkaian uji coba senjata pada 2021 di mana Korea Utara berusaha meningkatkan kemampuan militernya di tengah lockdown akibat pandemi. Aksi itu juga dilakukan menyusul sanksi yang diberlakukan usai gagalnya pembicaraan nuklirnya dengan AS.

Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar ekonomi Korea Utara lumpuh yang kemudian diperparah oleh sanksi AS sejak kepemimpinan Trump. Di bawah pemerintahan Biden, pihaknya mengatakan siap untuk megadakan pembicaraan kapan saja.

Namun Korea Utara sejauh ini menolak gagasan pembicaraan terbuka dengan mengatakan AS harus terlebih dahulu menarik “kebijakan permusuhannya”. Istilah itu untuk menggambarkan sanksi dan latihan militer gabungan AS-Korea Selatan.

Tes itu dilakukan untuk memastikan fungsional pelontar rudal, radar kendaraan komando pertempuran, dan kemampuan perang. Namun, dalam uji coba itu Kim dilaporkan tak turut hadir. Operasi itu diawasi oleh seorang anggota politbiro Partai Buruh Korut, Akademi Sains Pertahanan. “Uji coba secara keseluruhan sangat signifikan dalam mempelajari dan mengembangkan berbagai kemampuan sistem rudal anti pesawat,” tulis KCNA.

Korut melakukan uji coba rudal hipersonik. Tujuan operasi ini dalam rangka mengembangkan kemampuan militer Korut. Peluncuran rudal itu merupakan uji coba ketiga Korut pada September ini. Tes itu merupakan sinyal baru Korut yang tengah mengembangkan rudal. Rudal itu disebut mampu mengirimkan hulu ledak nuklir yang bakal sulit dicegat oleh sistem pertahanan rudal Amerika Serikat dan sekutunya, Korea Selatan dan Jepang.