Pemerintah Turki Melakukan Penyelidikan Terhadap 30 Orang

Pemerintah Turki Melakukan Penyelidikan Terhadap 30 Orang

Pemerintah Turki Melakukan Penyelidikan Terhadap 30 Orang – Turki meluncurkan proses hukum terhadap 30 orang yang berspekulasi perihal kesehatan Presiden Recep Tayyip Erdogan melalui cicitan di media sosial Twitter. Menurut pihak berwenang, mereka telah berbagi konten disinformasi dan manipulatif secara daring.

Rumor itu muncul setelah sebuah video viral memperlihatkan Erdogan tampak lemah sembari menyeret kakinya dan kesulitan berjalan. Setelah diusut video itu diambil pada peringatan ulang tahun Republik Turki ke-98.

Mereka tidak mengatakan apa-apa,” kata seorang warganet, merujuk pada spekulasi kematian Erdogan. Mereka yang diselidiki adalah pengguna Twitter yang mengunggah, dengan menggunakan tagar “olmus“, yang berarti sudah mati.

1. Spekulasi kesehatan Erdogan
Sebarkan Hoaks Presiden Erdogan Meninggal, Turki Selidiki 30 Orang

Melansir dari Euro News, menurut keterangan pihak berwenang, mereka yang menyebarkan berita ini telah membagikan konten disinformasi dan manipulatif secara daring. Mereka juga diselidiki karena menyebarkan konten yang dianggap menghina presiden.

Secara terpisah, pengacara Erdogan juga mengajukan keluhan ke kantor kepala kejaksaan di Ankara.

Ada peningkatan spekulasi tentang kesehatan Erdogan dalam beberapa hari terakhir, setelah dia baru-baru ini digambarkan mengalami kesulitan berjalan, yang terlihat ketika dia menghadiri KTT G20 di Roma. Saat itu Erdogan sedang bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.

Setelah KTT G20, Erdogan diperkirakan akan hadir dalam konferensi iklim PBB COP26 di Glasgow pada hari Senin, tapi dia membatalkan kehadirannya dengan alasan keamanan.

Erdogan juga dikabarkan tampak tidak sehat ketika menyampaikan sebuah pidato pada bulan Juli tahun ini, suaranya terkadang terdengar tidak jelas.

Informasi mengenai kesehatan Erdogan telah menjadi spekulasi sejak 2011, setelah melakukan operasi pada ususnya. Di sering dilaporkan menderita kanker, tapi hal itu selalu dibantah presiden.

2. Sekutu mencoba memadamkan desas-desus mengenai kesehatan yang memburuk

Melansir BBC, untuk meredam rumor mengenai kesehatan Erdogan, para sekutu presiden telah menunjukkan penampilannya yang terlihat baik-baik saja. Pada Rabu, pejabat dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin Erdogan menggungah kegiatan Erdogan.

Erdogan dijadwalkan menghadiri beberapa acara di ibu kota, yang bertepatan dengan ulang tahun ke-19 Partai AKP. Salah satu anggota partai AKP, Ahmet Hamdi, melalui Twitter menyampaikan Erdogan yang datang dari Istanbul ke Ankara tiba dalam keadaan sehat. Dia juga mengatakan, mereka yang menganggu Erdogan akan merasakan dampaknya.

Direktur komunikasi Erdogan, Fahrettin Altun, juga berusaha meredam rumor. Melalui Twitter, dia mengunggah video singkat yang menunjukkan presiden berjalan setelah turun dari mobil dinasnya. Dalam unggahannya dia menulis, “percaya pada teman, takut pada musuh.”

Partai AKP pada Kamis (4/11/2021) juga menggugah foto yang menujukkan Erdogan sedang berbicara kepada wartawan, setelah menerima duta besar dari beberapa negara.

Bulan lalu rumor serupa juga muncul. Politisi oposisi mempertanyakan apakah dia sehat secara fisik dan mental untuk menjabat. Untuk menepis rumor, akun Twitter resmi Erdogan mengunggah video presiden sedang bermain basket.

3. Dalam tujuh tahun terakhir 13 ribu orang dihukum karena “menghina” presiden
Sebarkan Hoaks Presiden Erdogan Meninggal, Turki Selidiki 30 Orang

Melansir dari The Guardian, sejak 1926 ‘merendahkan’ negara dan kepala negara merupakan tindakan yang melanggar hukum Turki. Sejak Erdogan menjabat sebagai presiden pada 2014, jumlah kasus pidana mengenai hal tersebut telah meningkat.

Menurut data Kementerian Kehakiman, dalam tujuh tahun terakhir ada lebih dari 160 ribu penyelidikan telah diluncurkan dan hampir 13 ribu orang telah dihukum karena dituduh menghina presiden.

Pekan ini ada laporan mengenai jurnalis yang dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena menghina presiden dengan membagikan puisi Ottoman berusia 300 tahun di Facebook.

Selain itu, seorang perempuan berusia 96 tahun dari Sanli Urfa akan diadili setelah membuat komentar di media sosial yang dianggap menyinggung kehormatan presiden.