Perdana Menteri India Menghadiri KTT Iklim PBB di Glasgow

Perdana Menteri India Menghadiri KTT Iklim PBB di Glasgow

Perdana Menteri India Menghadiri KTT Iklim PBB di Glasgow – Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2021, juga dikenal sebagai COP26, adalah konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-26. Perdana Menteri India, Narendra Modi, akan menghadiri KTT iklim PBB atau COP26 di Glasgow.

Ini dijadwalkan akan diadakan di kota Glasgow, Skotlandia, antara 31 Oktober dan 12 November 2021, di bawah co-presiden Inggris dan Italia.Keterangan itu disampaikan oleh Kementerian Lingkungan pada Kamis (21/10/2021), sebagai upaya mendorong pengurangan emisi penyebab pemanasan global. Sebagai informasi, India adalah penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia.

Karena itulah kehadiran Modi pada COP26 menjadi signifikan, sebab Presiden China Xi Jinping dipastikan tidak menghadiri pertemuan tersebut. China termasuk salah satu negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. “Perdana menteri akan pergi ke Glasgow,” kata Menteri Lingkungan India, Bhupender Yadav, dikutip dari Reuters.

1. India belum berkomitmen dengan nol emisi karbon
Dunia Menanti India Capai Target Nol Emisi

Pada kesempatan yang sama, Yadav menuturkan bahwa India telah melakukan banyak hal untuk mewujudkan perubahan iklim. “India cukup ambisius,” katanya.

India berada di jalur untuk meningkatkan kapasitas energi hijau menjadi 450 GW pada 2030, katanya. Saat ini, India telah menghasilkan lebih dari 100 GW energi terbarukan, yang menyumbang lebih dari 25 persen dari kapasitas keseluruhan.

India diketahui belum berkomitmen untuk mencapai emisi nol karbon bersih pada 2050, yang dianggap sebagai tujuan vital dalam membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celcius.

2. Komitmen soal iklim bisa membuat potensi ekonomi India melemah
PM India Narendra Modi Konfirmasi Hadiri COP26 di Inggris

Sumber-sumber pemerintah mengatakan kepada Reuters, India tidak berani berkomitmen soal pengurangan emisi gas rumah kaca, sebab komitmen itu akan berdampak terhadap pendapatan nasionalnya.

Situasi ekonomi saat ini menjadikan India sebagai negara yang memiliki peluang untuk melampui pertumbuhan ekonomi negara-negara besar.

Bulan lalu, kepala penasihat ekonomi India, K.V. Subramanian, mengatakan negara-negara kaya perlu berkomitmen lebih dari 100 miliar dolar AS (Rp1.415 triliun) untuk membantu negara-negara miskin dalam memerangi krisis iklim.

3. PBB khawatir COP26 berujung kegagalan
PM India Narendra Modi Konfirmasi Hadiri COP26 di Inggris

Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, khawatir KTT iklim atau COP26 yang akan dihelat di Glasgow pada akhir Oktober nanti berujung kegagalan. Guterres menyebut situasi iklim saat ini sebagai tiket satu arah menuju bencana, yang berarti keadaan tidak bisa dikembalikan seperti semula.

“Saya harap kami masih tepat waktu untuk menghindari kegagalan di Glasgow, tetapi waktu semakin singkat, dan segalanya menjadi lebih sulit dan itulah mengapa saya sangat, sangat khawatir. Saya khawatir hal-hal akan salah,” kata Guterres dikutip dari The Straits Times, Jumat (22/10/2021).

Guterres menyoroti peran penting dari G20, salah satunya adalah India, sebagai negara yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Mereka akan bertemu di Roma dan membahas bagaimana mereka ‘mempertanggungjawabkan’ dampak dari industrialisasinya.

“Mereka tahu ekonomi mereka bertanggung jawab atas empat perlima polusi karbon planet. Jika mereka tidak bertindak, kita akan menuju penderitaan manusia yang mengerikan,” terang dia.

“Polusi karbon dari segelintir negara telah membuat umat manusia bertekuk lutut (terhadap krisis iklim).Inidikasi saat ini menunjukkan lajur pemanasan setidaknya 2,7 derajat celcius di atas tingkat pra-industri, dan itu jelas merupakan tiket satu arah menuju bencana,” paparnya.