Putra Mahkota Arab Disebut Berniat Membunuh Raja Abdullah

Putra Mahkota Arab Disebut Berniat Membunuh Raja Abdullah

Putra Mahkota Arab Disebut Berniat Membunuh Raja Abdullah – Profil Mohammed bin Salman (36), atau orang-orang Barat menyingkat namanya menjadi MBS, lahir pada 31 Agustus 1985. Dia adalah putra mahkota kerajaan Arab Saudi sejak 2017. Sebelum ditunjuk sebagai putra mahkota, dia menjabat sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi sejak 2015 hingga sekarang.

Mohammed bin Salman adalah putra Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dan istri ketiganya Fahdah binti Falah bin Sultan. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), disebut berencana membunuh mendiang Raja Abdullah menggunakan cincin beracun, kata mantan pejabat intelijen Saudi.

Pernyataan itu terungkap ketika CBS mewawancarai Saad al-Jabri. Dilansir BBC, Saad menuturkan bahwa MBS berencana untuk membunuh ayahnya pada 2014. Dia juga menyebut MBS sebagai psikopat.

1. MBS disebut memperoleh cincin beracun dari Rusia
Putra Mahkota Saudi Dituding Berniat Bunuh Ayahnya dengan Cincin Racun

Menurut Saad pada 2014, MBS mengatakan kepada sepupunya Mohammad bin Nayef, yang saat itu menjabat menteri dalam negeri, bahwa dia bisa mengatur pembunuhan Raja Abdullah.

“Saya ingin membunuh Raja Abdullah. Saya mendapatkan cincin racun dari Rusia. Cukup bagi saya untuk berjabat tangan dengannya dan dia akan selesai,” papar Saad, meniru percakapan MBS kepada Nayef.

“Apakah dia hanya membual? Dia mengatakan itu dan kami (intelijen) menganggapnya serius,” sambung Saad.

Pada akhirnya, rencana itu tidak terjadi karena permasalahan suksesi bisa diselesaikan secara pribadi di dalam istana. Namun, Saad mengatakan bahwa pertemuan tentang ucapan MBS direkam secara diam-diam dan dia tahu di mana salinan videonya.

2. Saad melarikan diri ke Kanada
Putra Mahkota Saudi Dituding Berniat Bunuh Ayahnya dengan Cincin Racun

Sebagai informasi, Raja Abdullah meninggal di usia 90 tahun pada 2015. Posisinya digantikan oleh pangeran Nayef. Kemudian, pada 2017 Nayef digantikan oleh MBS dan dia juga kehilangan jabatannya sebagai menteri dalam negeri. Nayef bahkan dilaporkan menjadi tahanan rumah atas tuduhan yang belum jelas.

Saad melarikan diri ke Kanada setelah Nayef digulingkan. Dia turut bercerita, MBS mengirim tim intelijen untuk membunuhnya pada Oktober 2018, beberapa hari setelah agen Saudi membunuh jurnalis Jamal Khashoggi di Turki.

Tim pembunuh bahkan sudah mendarat di Bandara Ottawa, tetapi mereka dideportasi oleh bea cukai karena kedapatan membawa peralatan yang mencurigakan.

3. Saudi sebut Saad sebagai pembohong yang korup
Putra Mahkota Saudi Dituding Berniat Bunuh Ayahnya dengan Cincin Racun

Merespons berbagai tuduhan kepada MBS, Kedutaan Saudi di Washington menyebut Saad sebagai pembohong.

“Dia memiliki sejarah panjang mengarang dan menciptakan gangguan untuk menyembunyikan kejahatan keuangan yang dia lakukan, yang berjumlah miliaran dolar, untuk memberikan kemewahan, gaya hidup bagi dirinya dan keluarganya,” kata kedutaan.

Saad dituntut oleh kerajaan Saudi atas tuduhan korupsi. Hakim di Kanada juga telah membekukan asetnya, dengan bukti awal bahwa dia melakukan penipuan dalam jumlah besar.

Saad menyangkal telah mencuri uang pemerintah. Sebaliknya, dia justru menyebut banyak uang yang ia terima karena hadiah dari bosnya. Pada Maret 2020, otoritas Saudi menahan anak-anak Saad, Omar dan Sarah. Kelompok hak asasi manusia menyebut aksi itu sebagai upaya Saudi untuk memaksa Saad kembali ke negaranya.