Tanah di Maluku Ambles 8 Meter Akibat Gempa berkekuatan 6,1

Tanah di Maluku Ambles 8 Meter Akibat Gempa berkekuatan 6,1

Tanah di Maluku Ambles 8 Meter Akibat Gempa berkekuatan 6,1 – Gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Kepala Desa Tehoru Hud Silawane mengatakan selain terdapat kerusakan di rumah warga, ada pula tanah amblas di dua titik dekat rumah penduduk, akibat gempa bermagnitudo 6,1 yang melanda Maluku Tengah pada Rabu, 16 Juni 2021.

empa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa Bumi yang dialami selama periode waktu.

Silawane mengatakan kedalaman tanah ambles tersebut antara enam hingga delapan meter. Namun, Dilansir dari Daftar IDN Poker777 dia menyebutkan, tidak ada korban jiwa karena kejadian itu.

1. BPBD Kabupaten Maluku Tengah sudah menyalurkan bantuan
Tanah di Maluku Tengah Ambles hingga 8 Meter akibat Gempa

BPBD Kabupaten Maluku Tengah memberikan bantuan ratusan selimut, tikar dan tenda kepada warga sekitar pesisir Teluk Teluti, Kecamatan Tehoru, yang menyelamatkan diri ke tempat-tempat tinggi setelah merasakan gempa.

“Masing-masing desa telah diberikan dua tenda, ratusan tikar dan selimut kepada warga yang terdampak gempa bumi tektonik magnitudo 6.1,” kata Kepala Pelaksana BPBD Maluku Henri M Far Far di Ambon, dilansir ANTARA, Kamis, 17 Juni 2021.

“Pagi ini Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal bersama tim BPBD setempat juga akan meninjau langsung desa-desa terdampak gempa bumi tektonik magnitudo 6.1, serta belasan kali gempa susulan dalam skala yang lebih kecil,” kata Henri.

2. Warga mengevakuasi diri saat terjadi gempa
Apa yang Harus Dilakukan Saat Terjadi Gempa untuk Jaga Keselamatan -  Tirto.ID

Henri menjelaskan umumnya rumah-rumah penduduk di pesisir Seram Selatan itu berada di tepi pantai, namun jaraknya tidak terlalu jauh dengan dataran yang lebih tinggi. Sehingga saat terjadi gempa, mereka langsung melarikan diri ke tempat terbuka guna menghindari ancaman tertimpa bangunan yang roboh ataupun bahaya tsunami.

Gempa di Maluku Tengah ini sempat disebutkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berpotensi tsunami akibat longsoran bawah tanah. Karena itu, warga diimbau waspada.

3. Belum ada negara satu pun mampu memprediksi tsunami non tektonik
Simak Prediksi BMKG, Ada Ancaman Gempa Besar hingga Tsunami 29 Meter

Pada kesempatan berbeda, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan hingga saat ini belum ada negara yang mampu mendeteksi dini tsunami non-tektonik atau yang tidak disebabkan gempa bumi.

“Saat ini tsunami non tektonik belum bisa dideteksi dini, termasuk negara maju. Maka kami meminta dengan sangat masyarakat menggunakan kearifan lokal kalau merasakan guncangan gempa yang sangat kuat terutama di wilayah pesisir segera tinggalkan ke tempat yang lebih tinggi,” kata Dwikorita dalam jumpa pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu.

Terkait gempa tersebut, BMKG mengeluarkan imbauan kepada masyarakat terutama di wilayah sepanjang Pantai Japutih sampai Pantai Atiahu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Maluku untuk waspada gempa susulan dan potensi tsunami akibat longsor ke laut atau di bawah laut, maka segera menjauhi pantai menuju tempat tinggi apabila merasakan guncangan gempa cukup kuat.

“Apabila batuan itu masuk ke laut bisa menyebabkan tsunami, datangnya sangat cepat hanya dua menit seperti di Palu,” kata Dwikorita.

4. Mitigasi bencana tsunami
Peneliti Menilai Mitigasi Bencana di Indonesia Masih Lemah - ANTARA Sumbar

Dwikorita menjelaskan, secara teori tsunami terjadi 20 menit setelah gempa kuat di laut dengan kedalaman dangkal. Namun teori tersebut runtuh dengan kejadian tsunami di Palu pada 2018, di mana tsunami terjadi sangat cepat hanya dua menit akibat longsor bawah laut.

“Ini menjadi PR para ahli bagaimana memberikan peringatan dini tsunami non tektonik. Karena itu kami imbau siapapun yang ada di pantai, apabila merasakan guncangan gempa yang cukup kuat segera mencari tempat yang lebih tinggi,” kata Dwikorita.

Gempa yang cukup kuat tersebut, menurut Dwikorita, apabila merasa terayun atau jika berdiri seakan-akan mau jatuh, maka tidak perlu menunggu adanya peringatan dini tsunami, tapi segera meninggalkan pantai. Lari secepat mungkin ke tempat yang lebih tinggi dan aman.