Uni Eropa Menuduh Belarusia Menggunakan Metode Gaya Gangster

Uni Eropa Menuduh Belarusia Menggunakan Metode Gaya Gangster

Uni Eropa Menuduh Belarusia Menggunakan Metode Gaya Gangster – Perselisihan Polandia dan Belarusia terkait krisis migran di perbatasan dua negara itu, mendorong negara-negara dalam blok Uni Eropa ikut bersuara. Mereka mengatakan bahwa krisis akan mengancam keamanan seluruh blok dan menyalahkan Belarusia yang menjadi penyebab lonjakan arus migran.

Dalam pernyataannya, Komisi Eropa menuduh pemimpin otoriter Belarus memikat para migran dengan janji palsu untuk masuk dengan mudah ke UE sebagai bagian dari “pendekatan gaya gangster yang tidak manusiawi”, menurut laporan BBC. Uni Eropa (UE) padah hari dilaporkan menuduh pemerintah Belarusia menggunakan metode “gaya gangster” dalam memicu krisis penyeberangan migran secara ilegal ke negara anggota UE, yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

Pada hari Selasa ratusan orang di perbatasan Belarusia-Polandia berkemah dengan menghadapi suhu dingin di dekat pagar kawat berduri  setelah tidak bisa masuk ke Polandia karena dihalangi pagar dan penjaga perbatasan.

1. Kondisi di perbatasan Belarusia-Polandia semakin memburuk
UE Tuduh Belarusia Pakai Gangster untuk Picu Krisis Migran

Melansir dari Al Jazeera, juru bicara Komisi Eropa menuduh rezim Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko telah menggunakan pendekatan yang tidak manusiawi dan gaya gangster, yang memikat para migran untuk datang ke Belarus dengan janji palsu dapat dengan mudah masuk ke UE.

Presiden Polandia, Andrzej Duda pada hari Selasa menuduh pemerintah Lukashenko berusaha “menyerang” perbatasan dan UE. Duda memberitahu saat ini kamp migran Polandia diblokir Belarusia, dengan ada sekitar 1.000 orang di sana, kebanyakan pria muda.

Pada hari Senin, krisis para migran semakin memburuk setelah ratusan orang menuju perbatasan Polandia dekat desa Kuznica, dengan beberapa orang mencoba menerobos kawat berduri dengan memakai sekop dan alat lainnya. Polandia menuduh Belarusia menyediakan alat untuk merusak pagar. Secara total, diperkirakan  saat ini ada 4 ribu migran dan pengungsi yang berada di hutan perbatasan Belarusia-Polandia.

Marta Gorczynska, seorang pengacara hak asasi manusia yang telah berkomunikasi dengan beberapa migran dan pengungsi di perbatasan mengatakan situasi semakin memburuk. Gorczynska mengatakan kondisi hutan di perbatasan merupakan lingkungan dengan sedikit akses ke makanan dan air, juga tidak ada akses berlindung yang hangat.

Gorczynska meminta agar pemerintah Belarusia tidak menggunakan migran dan pengungsi sebagai alat politik untuk menekan UE dan bertanggung jawab memberikan bantuan, dia mengigatkan Polandia juga berkewajiban memberikan bantuan.

2. Polandia mendorong kembali para migran ke Belarusia
UE Tuduh Belarusia Pakai Gangster untuk Picu Krisis Migran

Melansir dari Reuters, Polandia yang mendorong kembali orang-orang yang masuk secara ilegal dari perbatasan dengan Belarusia, dikecam oleh kelompok-kelompok kemanusiaan, dengan dituduh melanggar hak internasional atas suaka. Pihak Polandia menganggap tindakan mereka tidak melanggar hukum.

Jakub Sypianski dari kelompok Grupa Granica, yang melihat para polisi Polandia menahan para migran di dekatnya, mengatakan tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang di perbatasan karena pihak berwenang Polandia melanggar hukum dan Konvensi Jenewa.

Sebuah survei yang dilakukan oleh IBRiS, sebuah surat kabar harian Polandia pada minggu ini menunjukkan 55 persen orang Polandia setuju orang yang telah melintasi perbatasan secara ilegal harus dikirim kembali.

Melansir dari BBC, Lithuania yang juga mengalami krisis di perbatasan dengan Belarusia pada hari Selasa mengumumkan keadaan darurat di perbatasannya tersebut, yang merupakan pertama kalinya dilakukan. Keadaan darurat ini didukung parlemen dan akan mulai berlaku pada tengah malam, dengan memberlakukan pembatasan pergerakan di wilayah perbatasan.

Menteri Dalam Negeri Lithuania, Agne Bilotaite mengatakan keputusan ini diambil setelah mengamati situasi di perbatasan Belarusia-Polandia. Lithuania juga telah memindahkan pasukan ke perbatasannya dengan Belarusia untuk mempersiapkan kemungkinan kedatangan ilegal.

Shabia Mantoo, seorang juru bicara badan pengungsi PBB mengatakan sangat khawatir dengan situasi di perbatasan yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan politik tidak dapat diterima dan harus dihentikan.

3. Rusia sarankan UE berikan bantuan dana untuk Belarusia
UE Tuduh Belarusia Pakai Gangster untuk Picu Krisis Migran

Melansir dari Al Jazeera,  mengenai krisis di perbatasan dengan negara UE, Belarusia telah menghubungi sekutu dekatnya Rusia. Menurut kantor pers Lukashenko, presiden telah berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, mereka membahas tindakan keras Polandia di perbatasan.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyarankan agar UE memberikan bantuan dana kepada Belarusia sebagai tindakan untuk mengatasi orang-orang yang menyeberang ke UE, dia merujuk kesepakatan pada 2016 dengan Turki, yang membuat Turki bersedia menerima kembali pengungsi ilegal yang berusaha memasuki Yunani.

Belarusia telah mendapat sanksi dari UE setelah tindakan keras dalam pemilu yang disengketakan pada tahun lalu yang memberi Lukashenko masa jabatan keenam. UE diperkirakan akan memperluas sanksi. Sanksi UE telah dianggap sebagai pemicu Belarusia mendorong para migran menuju UE melalui perbatasannya. Jerman pada hari Selasa mendesak UE untuk segera membantu Polandia mengatasi krisis di perbatasannya.