Wakil Presiden AS Mengunjungi & Bertemu Presiden Prancis

Wakil Presiden AS Mengunjungi & Bertemu Presiden Prancis

Wakil Presiden AS Mengunjungi & Bertemu Presiden Prancis –  Presiden Prancis Emannuel Macron memerintahkan Duta Besar Perancis untuk Amerika Serikat Philippe Tienne kembali ke Washington minggu depan. Setelah berkomunikasi melalui telepon Dengan Presiden Amerika Serikat pasca ketegangan yang terjadi beberapa waktu lalu akibat pembatalan proyek kapal selam nuklir Australia.

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Kamala Harris, mengunjungi Prancis dan diterima langsung oleh Presiden Emmanuel Macron. Mereka bertemu dan berdiskusi, tentang bagaimana memperbaiki hubungan yang retak beberapa waktu lalu. Hubungan AS-Prancis limbung ke titik terendah tahun ini.

Australia membatalkan kesepakatan pengadaan kapal selam dengan Prancis dan menoleh ke AS demi kapal selam versi tenaga nuklir. Paris akhirnya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan 31 miliar euro atau sekitar Rp510,7 triliun. Selain itu, batalnya kesepakatan tersebut juga membuat landasan koalisi kekuatan Indo-Pasifik jadi berantakan.

1. Tindak lanjut untuk memperbaiki hubungan yang retak

Pada September, Macron selama berhari-hari marah karena Australia membatalkan kesepakatan pengadaan kapal selam dengan Prancis secara tiba-tiba. Australia lebih memilih menjalin kerja sama dengan AS dan Inggris untuk mendapat kapal selam tenaga nuklir.

Akibat tindakan itu, Prancis menarik duta besarnya di Washington dan Canberra. Prancis bahkan menganggap keputusan pembatalan kesepakatan kapal selam ibarat ‘ditikam dari belakang.’

Tapi kini, hubungan yang berantakan itu kembali diupayakan untuk direkatkan. Washington berusaha menyelesaikan masalah dengan membuka diri untuk berdiskusi dan berbicara tentang pentingnya kerja sama demi menghadapi tantangan bersama, khususnya keamanan di Indo-Pasifik.

Pada akhir Oktober, Macron dan Presiden AS Joe Biden berbicara di Roma demi meningkatkan kembali hubungan diplomatik kedua negara. Kini, Harris bertamu ke Paris untuk menindak lanjuti pembicaraan tersebut.

“Saya harus mengatakan, kami mengadakan pertemuan yang bermanfaat di Roma beberapa hari yang lalu dengan Presiden Biden, yang membuka jalan untuk beberapa minggu, bulan, dan, saya harus mengatakan, (beberapa) tahun mendatang,” kata Harris, dilansir France24.

Macron juga memberikan komentar dalam bahasa Inggris setelah menjamu Harris di Istana Elysee. Dia mengatakan, “kami berbagi pandangan bahwa kami berada di awal era baru. Kerja sama kami sangat penting untuk era ini,” ujarnya.

2. AS akan memperluas kerja sama dengan Prancis

Berpalingnya Australia dari Prancis, untuk memilih AS dan Inggris kemudian membentuk AUKUS, menciptakan ketegangan di antara sekutu lama Barat tersebut.

China, yang dianggap sebagai tantangan utama stabilitas keamanan di Indo-Pasifik, menyebut kehadiran AUKUS hanya akan memicu perlombaan pengembangan senjata nuklir di kawasan.

Namun, dari keretakan antar negara Barat tersebut, Washington segera melakukan manuver diplomatik. Dilansir CNN, kunjungan Harris selama empat hari di Paris adalah upaya AS untuk memperbaiki hubungan dengan Prancis.

“Ketika AS dan Prancis telah bekerja sama dalam tantangan dan peluang, kami selalu menemukan kesuksesan besar,” kata Harris.

Pertemuan itu juga membahas rencana AS untuk bekerja sama dengan Prancis dalam berbagai bidang, termasuk penelitian ilmiah, ruang angkasa, dunia masa depan, dan perubahan iklim.

3. Harris menilai hubungan politik itu seperti penelitian ilmiah atau memasak

Berita Ilmu Sosial dan Politik Saat Ini - Aftercapitalism

“Itu memerlukan pencarian terus-menerus untuk perbaikan,” katanya.

Dilansir dari Deutsche Welle, Wakil Presiden AS itu juga mengatakan, “jika Anda tidak membuat kesalahan yang sama dua kali, itu proses yang baik, dan kita harus mendorongnya.”

Prancis adalah salah satu kekuatan penting di blok Uni Eropa. Prancis telah mendorong negara-negara anggota blok tersebut untuk ikut andil mengirim kekuatan angkatan laut ke kawasan Indo-Pasifik demi menghadapi ancaman keamanan.

Prancis marah dengan keputusan Australia minggu lalu untuk memilih kesepakatan dengan Amerika Serikat dan Inggris untuk membeli kapal selam bertenaga nuklir, dan menarik duta besarnya dari Washington dan Canberra untuk konsultasi.

Pertemuan Blinken dan Le Drian terjadi setelah Presiden AS Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara melalui telepon pada Rabu dan sepakat untuk meluncurkan konsultasi mendalam untuk membangun kembali kepercayaan antara kedua sekutu NATO. Mereka juga sepakat untuk bertemu di Eropa pada akhir Oktober.